Masjid Al-Barkah

Al-Adabul Mufrad

Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”

By  |  pukul 4:10 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 14 Februari 2022 pukul 10:09 am

Tautan: https://rodja.id/3dj

Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas” adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.

Kajian Islam Tentang Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”

Kita sampai pada باب قول الرجل يا هنتاه (Bab tentang ucapan seseorang: ‘Wahai ini’). Ini bicara adab. Terkadang kita beranggapan ucapan kita baik dan tutur kata kita lumrah. Namun ternyata orang menanggapinya tidak seperti itu. Sehingga disinilah pentingnya kita belajar, pentingnya kita bersosialisasi dengan masyarakat sehingga kita dapat mengetahui mana ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan.

Dari Habib bin Shuhban Al-Asadi, dia mengatakan:

رَأَيْتُ عَمَّارًا صَلَّى الْمَكْتُوبَةَ ثُمَّ قَالَ لِرَجُلٍ إِلَى جَنْبِهِ: يَا هَنَاهْ، ثُمَّ قَامَ

“Aku melihat ‘Ammar selesai shalat maktubah, kemudian dia berkata kepada orang yang di sebelahnya: ‘Wahai orang ini’ kemudian dia pergi.”

Ini khusus untuk panggilan. Disebutkan makna panggilan ini menunjukkan bahwa orang itu sedikit pemahamannya tentang tipu daya manusia. Ada orang yang sebenarnya sedang digoda atau ditipu, tapi karena dia orang yang polos maka dia menganggapnya biasa-biasa saja.

Jadi panggilan ini ditujukan kepada orang yang polos dan tidak terlalu memahami tipu daya orang-orang jahat. Sehingga kadangkala panggilan ini menjadi teguran.

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 4 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Hadits lain dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan: Dari ‘Amr bin Syarid, dari ayahnya, ia berkata: “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memboncengku di atas kendaraannya, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya:

هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ؟

“Apakah engkau punya hafalan bait-bait syairnya Umayyah bin Abi Shalt?”

Syarid mengatakan: “Iya, ada bait-bait yang aku hafal dari Umayyah. Kemudian aku sampaikan satu bait.”

Ini menunjukkan adab juga. Karena dia tidak tahu apakah Nabi mau banyak atau mau sedikit dari bait-bait syair yang dihafal oleh Syarid. Ketika dia membacakan satu bait, Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam meminta tambahan dengan ucapannya:

هِيهِ

“Tambah lagi.”

Sampai Syarid menyampaikan 100 bait syair.

Para ulama ketika menjelaskan hadits ini mereka mengatakan bahwa diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk membacakan bait-bait syair yang terpuji, yang bagus, yang di dalamnya ada hikmah, walaupun itu orang non muslim. Sehingga tidak ada masalah tatkala ada satu ungkapan yang baik walaupun itu dari orang jahiliyah maka diperbolehkan.

Kalau kita merasa aman dengan membaca atau mendengarkan syairnya tersebut, maka tidak ada masalah. Tapi kalau ternyata ucapannya mengandung syubhat berisi keraguan/kerancuan dalam agama yang dapat mempengaruhi orang yang mendengarkannya, maka kita tidak boleh mendengarkan/membacanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala melihat ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu di tangannya ada Taurat dan dia sedang membacanya, maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan:

Baca Juga:
Dalil-Dalil Bahwa Orang-Orang Yang Beriman Melihat Allah di Surga Bagian 3 - Kitab Al-Ibanah

امتهوكون فيها يا ابن الخطاب – لو كان موسى حيا ما وسعه الا اتباعي

“Apa yang kau cari lagi di sana wahai Ibnul Khattab – kalau Musa itu hidup, dia tidak punya jalan kecuali harus mengikuti ajaranku.”

Jadi kenapa mencari di tempat lain, sedangkan Allah sudah menurunkan Al-Qur’anul Karim yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menyempurnakan kitab-kitab yang terdahulu dan menjadi edisi terakhir dari kitab yang Allah turunkan ke alam semesta ini.

Ucapan seseorang: “Aku Sedang Malas”

Menit ke-21:47 Kita tahu bahwa manusia berbeda dengan malaikat. Malaikat itu tidak pernah malas/loyo, mereka senantiasa bersemangat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, keimanan mereka stabil. Berbeda dengan keimanan manusia yang mana ada masa-masa dia bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan dan belajar ilmu.

Apa hukumnya orang mengatakan “aku sedang malas”?

Di sini Imam Bukhari menyebutkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, beliau mengatakan:

لَا تَدَعْ قِيَامَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَذَرُهُ، وَكَانَ إِذَا مَرِضَ أَوْ كَسِلَ صَلَّى قَاعِدًا

“Jangan pernah meninggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam tidak pernah meninggalkan sampai dalam kondisi sakit atau sedang malas dengan cara duduk.”

Kita tahu orang sakit itu boleh tidak puasa, tapi ternyata Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam ketika sakit pun tetap shalat malam. Ini diperbolehkannya shalat sunnah dengan duduk atau sebagiannya berdiri dan sebagiannya duduk. Adapun untuk shalat wajib kita tahu bahwa di antara rukun dari shalat fardhu itu adalah berdiri bagi yang mampu.

Baca Juga:
Akibat Lisan Yang Tidak Dijaga Bagian 4

Lihat juga: Doa Terbebas Dari Hutang, Kelemahan dan Kemalasan

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Ucapan Seseorang: ‘Aku Sedang Malas'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.