Masjid Al-Barkah

Talbis Iblis

Berlebih-Lebihan Dalam Mengerjakan Ibadah

By  |  pukul 9:59 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 01 Maret 2022 pukul 10:16 am

Tautan: https://rodja.id/3e2

Berlebih-Lebihan Dalam Mengerjakan Ibadah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 19 Rajab 1443 H / 21 Februari 2022 M.

Kajian Islam Tentang Berlebih-Lebihan Dalam Mengerjakan Ibadah

Kita telah sampai pada talbis iblis terhadap ahli ibadah, salah satunya adalah iblis yang mendorong seseorang untuk berlebih-lebihan dalam mengerjakan ibadah-ibadah (terutama ibadah sunnah). Seperti iblis mendorong agar seorang memperbanyak ibadah di luar batas kemampuannya. Sehingga dia tidak mampu untuk mengerjakan dan mempertahankan ibadah itu.

Di antara contohnya adalah memperbanyak shalat malam (tapi melewati kemampuan yang dimiliki). Bahkan mungkin berlebih-lebihan, seperti tidak tidur semalaman. Hal ini pernah di sampaikan kepada Nabi seseorang yang berazam tidak tidur dan shalat malam terus-menerus. Nabi mengatakan kepada orang-orang itu:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Barangsiapa yang benci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.”

Sementara yang diinginkan oleh orang yang mengamalkan tadi adalah kebaikan. Tapi tentunya kebaikan itu ada cara untuk mendapatkannya. Orang tersebut menempuh cara yang salah dengan berlebih-lebihan di dalam ibadah. Sehingga keluar dari batas-batas syar’inya.

Di sini iblis mengaburkan hakikat. Talbisnya atas ahli ibadah di antaranya adalah memperbanyak ibadah. Hingga mereka memperbanyak misalnya shalat malam atau shalat-shalat sunnah lainnya sehingga berbenturan dengan hak/kewajiban yang lain. Tentunya tidak bijak kita membenturkan satu kewajiban karena melebihkan kewajiban yang lain. Karena setiap kewajiban ada waktunya.

Baca Juga:
Khutbah Jum'at: Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Seperti sebagian orang lebih senang mengerjakan shalat dhuha hingga mengabaikan waktu kerja (mencari nafkah). Sebenarnya bisa dia gabungkan juga dengan cara mengerjakan shalat dhuha semampunya. Sebagian orang ada yang terus-menerus mengerjakan shalat dhuha hingga habis waktu untuk mencari nafkah atau memakan waktu kerjanya. Hal ini tentunya mengganggu perusahaan tempat dia bekerja.

Banyak juga mengkomplain sebagian orang ditemui diwaktu kerja ternyata dia berada di mushala dengan alasan mengerjakan shalat dhuha. Tentunya tidak bijak kita benturkan antara satu kewajiban dengan kewajiban lainnya. Peraturan-peraturan tempat kita bekerja adalah sesuatu yang wajib kita taati. Karena itu adalah persyaratan yang kita setujui. Nabi mengatakan:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ

“Kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati.” (HR. Bukhari)

Maka tidak boleh kita mengambil waktu kerja untuk mengerjakan amal-amal sunnah. Ada waktunya kita mengerjakan amal-amal sunnah itu. Terkadang setan memberikan talbis kepada seseorang sehingga seolah-olah yang dia lakukan itu benar, padahal tidak benar. Dia telah mengambil hak orang lain, dalam hal ini mungkin hak perusahaan tempat dia bekerja.

Demikian pula sebagian orang menghabiskan waktu malam dengan shalat sehingga merampas hak dirinya. Ingat bahwa diri kita juga punya hak yang perlu dipenuhi.

وإنَّ لِنَفسكَ عليك حقًّا

“Sesungguhnya dirimu juga punya hak untuk dipenuhi.”

Maka kecenderungan orang-orang berlebih-lebihan di dalam ibadah adalah suka membenturkan antara satu kewajiban dan kewajiban lainnya. Atau dia mengorbankan satu kewajiban karena terlalu fokus dengan kewajiban yang lain. Smentara sebenarnya semua bisa dilakukan dan digabungkan tanpa dibenturkan.

Baca Juga:
Seorang Muslim Dianjurkan Mendoakan Saudaranya Yang Hendak Safar

Sebagian orang sibuk mengerjakan shalat sepanjang malam namun dia tertidur saat menjelang fajar hingga terluput dari shalat wajib. Atau dia terbangun kemudian bersiap untuk shalat namun luput dari shalat berjamaah. Atau dia akan bangun di pagi hari dalam keadaan malas sehingga tak bisa bekerja mencari nafkah untuk keluarganya.

Artinya jangan dibenturkan antara satu kewajiban dengan kewajiban yang lain. Shalat malam ada waktu dan caranya. Misalnya supaya kita tidak terlalu keletihan di pagi hari, maka tidur diawal malam. Sehingga waktu tidurnya cukup. Itu adalah hak diri yang perlu kita penuhi. Karena kita manusia punya batas kemampuan. Tidak mungkin juga kita tidak tidur, pasti akan terganggu aktivitas kita. Maka jangan jadikan ini sebagai kambing hitam.

Maka dari itu lakukan sesuatu menurut kemampuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuan kamu.” (At-Taghabun[64]: 16)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Berlebih-Lebihan Dalam Mengerjakan Ibadah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Hukum Takbir dan Tempat-Tempatnya di Dalam Shalat - Hadits 295 - Kitab Bulughul Maram (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.