Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah

By  |  pukul 3:47 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 24 Maret 2022 pukul 9:46 am

Tautan: https://rodja.id/3er

Khutbah Jumat: Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 7 Sya’ban 1443 H / 11 Maret 2022 M.

Khutbah Pertama Tentang Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita dengan berbagai macam perintah dan melarang dari berbagai macam larangan. Hal itu tiada lain adalah untuk kebahagiaan hidup kita semuanya. Karena sesungguhnya perintah Allah semuanya maslahat dan larangan Allah pun semuanya mudharat bagi orang yang memikirkannya.

Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk senantiasa bersungguh-sungguh memegang perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya ketika kita meremehkan perintah-perintah Allah dan tidak mengagungkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala pun remehkan kita. Karena semakin seorang hamba mengagungkan perintahNya, mengagungkan syariatNya, maka semakin hamba itu agung dimata Allah ‘Azza wa Jalla. Tapi semakin seorang hamba meremehkan syariatNya, meremehkan perintah-perintah dan laranganNya, maka semakin ia pun remeh dimata Allah ‘Azza wa Jalla. Semakin seorang hamba tidak peduli dengan Allah, tidak peduli dengan agamaNya, maka Allah pun tidak peduli dengannya.

Baca Juga:
Kisah Nabi Menjenguk Anak Orang Yahudi

Oleh karena itu setiap kita berusaha bersungguh-sungguh untuk senantiasa mempelajari tentang perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla, bersungguh-sungguh untuk mempelajari tentang apa saja yang Allah larang. Karena sesungguhnya ketika kita mengagungkan Allah, maka kita akan mengagungkan perintahNya, kita akan mengagungkan laranganNya. Maka semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kita berusaha untuk melakukan dengan baiknya.

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan:

امة تعظيم الأوامر رعاية أوقاتها…

“Tanda orang yang mengagungkan perintah Allah, yaitu ia betul-betul memperhatikan waktunya, memperhatikan syaratnya, memperhatikan rukun-rukunnya…”

Ketika kita mengagungkan shalat, saat kita mendengar adzan segera kita tinggalkan kesibukan, segera kita sambut panggilan Allah ‘Azza wa Jalla, kita segera pergi ke masjid untuk berjamaah shalat di dalam masjid.

Maka siapapun orang-orang yang kemudian sengaja ia berleha-leha saat mendengar adzan, sengaja ia tidak segera pergi ke masjid, biasanya -kata Al-Imam Ibnul Qayyim- Allah berikan sanksi kepada dia, dijadikan hatinya berat untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, berat dia untuk pergi ke masjid tersebut.

Saudaraku.. Maka jangan sampai Allah sanksi kita akibat kita meremehkan perintahNya. Kewajiban kita adalah betul-betul menghormati Allah dengan menghormati perintah dan laranganNya. Terlebih kita berada di bulan Sya’ban. Yaitu bulan amalan-amalan kita ditampakkan dan dilaporkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Bayangkan, saudaraku.. Apabila kita ternyata termasuk orang-orang yang meremehkan perintah Allah, termasuk orang-orang yang tidak memperhatikan larangan Allah, lalu kemudian ditampakkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla oleh para malaikatNya tentang perbuatan kita tersebut. Betapa malunya kita di hadapan Allah nanti pada hari kiamat? Betapa meruginya kita pada hari kiamat?

Baca Juga:
Etika Lebih Baik dari Sebagian Amal

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di bulan Sya’ban memperbanyak puasa. Kenapa demikian? Karena beliau berharap agar amalan beliau ditampakkan kepada Allah dalam keadaan puasa.

Maka bagaimana keadaan kita? Apakah kita ridha amalan kita ditampakkan kepada Allah, namun ternyata amalan kita sesuatu yang Allah tidak diridhai, ternyata amalan kita adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

Saudaraku.. Seorang hamba yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk, bahwa dirinya adalah manusia yang akan kembali kepada Allah, maka dia akan bersungguh-sungguh dalam hidupnya. Bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan ketakwaan, dia tidak meremehkan sama sekali perintah-perintah Allah sekecil apapun. Sekecil apapun perintah Allah akan ia agungkan seagung-agungnya. Dan sekecil apapun larangan Allah, ia pun berusaha untuk tinggalkan, walaupun itu hanya makruh.

Tidak seperti sebagian orang yang meremehkan perkara yang makruh dan mengatakan “Ini hanya sesuatu yang makruh saja” lalu ia pun melakukannya. Itu menunjukkan kurang menghormati syariat Allah ‘Azza wa Jalla. Karena sesuatu yang makruh bukan perkara yang diperintahkan untuk dilakukan. Tapi makruh adalah perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan.

Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wabilush Shayyib menyebutkan bahwa istiqamahnya hati seorang hamba dengan dua perkara, yaitu:

Yang pertama adalah cinta kepada Allah melebihi segala sesuatu yang kita cintai. Kita lebih mendahulukan cinta Allah daripada cinta kepada yang lainnya. Sehingga kita lebih pentingkan perintah Allah, kita pentingkan agamaNya daripada yang lainnya.

Baca Juga:
Tatkala Al-Qur'an Ditinggalkan - Khutbah Jumat (Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A.)

Yang kedua adalah mengagungkan perintah Allah dan mengagungkan larangan Allah. Dimana mengagungkan perintah dan larangan itu muncul dari mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika kita mengagungkan Allah, membesarkan Allah, maka kita akan agungkan perintah-perintahNya.

Oleh karena itulah saudarau.. Ketika seseorang shalat, syariat kita menyuruh untuk memulainya dengan takbir, kita ucapkan Allahu akbar (Allah yang paling besar). Kenapa demikian? Di antara hikmahnya yaitu hati kita benar-benar membesarkan Allah, benar-benar membesarkan perintahNya. Maka saat itu kita akan menjadi hamba yang khusyuk dalam shalatnya.

Tapi ketika ada sesuatu yang lain yang lebih besar di hati kita selain Allah, maka saat itu kita tidak akan bisa khusyuk, kita tidak akan bisa bersungguh-sungguh menjaga kekhusyukan dalam shalat kita. Walaupun ia kursus bagaimana khusyuk dalam shalat 1.000 kali pun, tapi kalau hatinya tidak membesarkan Allah dan tidak mengagungkan Allah, maka dia tidak akan khusyuk di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka jadikanlah Allah yang terbesar di dada-dada kita, jadikanlah Allah yang teragung di hati kita. Sehingga kita pun mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla dan syariatNya, mengagungkan perintah-perintah, demikian pula laranganNya, mengagungkan RasulNya ‘Alaihish Shalatu was Salam, demikian pula sunnahnya, dan kita tidak meremehkannya.

Khutbah kedua: Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah

Hai manusia.. Beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan menciptakan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Ketika seorang manusia sadar bahwa dirinya adalah makhluk dan bahwasannya dia diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia sadar bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak ia sembah, yang berhak ia ibadahi.

Baca Juga:
Taati Suamimu, Surga Bagimu

Maka hamba yang sadar akan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih nikmat di hatinya kecuali bermunajat kepada Allah, tidak ada sesuatu yang paling dahsyat di hatinya dari ibadah kepada Allah.

Maka saudaraku, seorang hamba yang mengagungkan ibadah kepada Allah, maka dia akan benar-benar memperhatikan ibadah tersebut. Berbagai macam cara ia lakukan karena ia merasa butuh kepada ibadah. Ia merasa bahwasanya itulah tujuan kehidupan dia di dunia ini. Ia tidak hidup di dunia untuk bermain-main, dia tidak hidup di dunia untuk bersenda gurau. Tapi ia sadar bahwasanya ia hidup di dunia Allah ciptakan untuk ibadah kepadaNya. Bahkan ketenangan, kebahagiaan, ketentraman, tidak akan pernah didapatkan oleh seorang hamba tanpa ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka agungkanlah ibadah kepada Allah, saudaraku. Jadikan itu sebagai kebutuhan kita melebihi kebutuhan kita kepada makanan dan minuman. Bila kita mencari makan dan minum sekuat tenaga untuk kehidupan badan, maka hendaklah kita mencari kehidupan hati kita dengan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Demi Allah, sungguh bahagia seorang hamba yang menjadikan ibadah sebagai pelipur lara dalam hidupnya. Dan sungguh celaka seorang hamba yang lebih bahagia ketika ia bermaksiat Allah ‘Azza wa Jalla.

Saudaraku.. Inilah sebagai sebuah peringatan untuk kita semua dan diri saya. Bahwa semua kita adalah hamba Allah yang seharusnya senantiasa beribadah kepada Allah dan berkhidmat kepadaNya.

Baca Juga:
Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Download mp3 Khutbah Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.