Masjid Al-Barkah

Mendidik Anak Tanpa Amarah

Mendidik Anak Tanpa Amarah

By  |  pukul 7:44 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 21 April 2022 pukul 7:01 am

Tautan: https://rodja.id/3g2

Mendidik Anak Tanpa Amarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 10 Ramadhan 1443 H / 12 April 2022 M.

Kajian sebelumnya: Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian

Mendidik Anak Tanpa Amarah

Buku ini bukan berarti kita meniadakan marah. Tentunya ada yang disebut marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi ini dalam konteks pendidikan. Maka kita katakan ini mendidik tanpa amarah, bukan manusia yang tidak ada marah.

Kita tahu juga Rasulullah dalam beberapa momen juga marah, tapi marahnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan itu yang kita bahas.

Yang akan kita bahas di dalam buku ini adalah marah yang kaitannya dengan pendidikan. Ini lebih mengerucut lagi pada pendidikan anak. Tentunya berbeda. Anak-anak dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, ia makhluk belum sempurna, berbeda dengan kita mendidik orang dewasa seperti istri dan lain-lainnya.

Ketika kita menyebut “anak”, maka yang dimaksud adalah usia bawah sepuluh tahun (basuta). Karena diatas itu sudah masuk pra remaja, remaja, dan pra dewasa. Ada buku khusus juga untuk itu yang nanti insyaAllah akan kita bahas juga.

Makna amarah

Adapun makna amarah adalah luapan emosi. Ketika Nabi berkata dalam sebuah hadits “Jangan marah” bukan berarti Nabi menafikan marah. Tapi maksudnya bahwa seharusnya kondisi yang dominan pada diri kita adalah jangan marah, apalagi dalam konteks mendidik anak.

Baca Juga:
Hadits Arbain Ke 3 - Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat

Terbawa emosi itu banyak merugikan. Dan itu mungkin sering terjadi dalam kehidupan kita. Dimana kita mengikuti emosi yang pada akhirnya menyesalinya.

Kita dibulan Ramadhan ini dilatih untuk menahan emosi. Kalau ada orang yang mengganggu ataupun mengajak kita bertengkar, maka kita katakan kepadanya:

إِنِّي صَائِمٌ

“Aku sedang puasa.”

Artinya ibadah puasa satu bulan penuh ini salah satu tujuannya adalah agar kita bisa menjadi seseorang yang mampu mengendalikan emosi.

Kita tidak pernah temukan Nabi marah-marah kepada seorang anak. Itulah cara Nabi mendidik anak yang sebenarnya harus kita teladani, terlepas sejauh mana kita bisa meneladani Nabi di dalam bab ini.

Terus terang saja kadang-kadang kita ini banyak lemahnya. Kita sudah tahu tapi berulang-ulang jatuh dalam kesalahan yang sama. Meskipun akhirnya kita menyesal setelah memarahi anak. Artinya kita tahu itu salah. Oleh karena itu semoga kajian ini bisa membantu orang tua untuk lebih memahami hal ini.

Tugas berat

Mendidik adalah tugas yang berat. Bahkan kita curiga kalau ada yang mengatakan bahwa mendidik itu ringan. Jangan-jangan dia tidak melakukannya sehingga tidak tahu bagaimana beratnya mendidik. Apalagi mendidik anak, makhluk yang belum sempurna yang harus kita maklumi.

Itulah dia anak-anak yang harus kita pahami dunianya. Maka para pendidik juga harus mengetahui ilmu psikologi anak. Karena kalau kita selami bagaimana Nabi melakukan pendekatan kepada anak, ilmu psikologi anak yang dimiliki Nabi adalah rangkuman dari semua ilmu psikologi yang dibuat oleh manusia hari ini. Hanya saja mungkin kita tidak tahu bahwa Nabi lebih dulu melakukannya 15 abad yang lalu sebelum ilmu psikologi anak modern berkembang.

Baca Juga:
Mempersiapkan Rumah Tangga

Tentunya ini tidak mudah. Apalagi kalau kita punya anak itu lebih dari satu. Dan masing-masing anak berbeda sifat-sifatnya antara satu dan lainnya. Sehingga untuk menghadapi semua ini seorang pendidik harus benar-benar memiliki ketabahan, kesabaran dan kecerdasan dalam mengelola hati.

Semua kembali kepada hati. Kalau hati sudah capek, maka akan mudah marah. Jadi kita perlu mengelola hati hingga bisa mengendalikan emosi. Jika tidak maka hampir bisa dipastikan kita akan gagal menahan emosi.

Mengumbar amarah adalah racun dalam dunia pendidikan. Banyak malapetaka terjadi disebabkan emosi yang tak terkendali. Inilah salah satu sisi negatif yang harus dijauhi oleh setiap pendidik. Jika seorang pendidik mampu mengendalikan diri dan amarahnya, maka itu akan membawa keberhasilan dalam mendidik. Apabila tidak, maka ini akan merugikan dirinya beserta anak didiknya.

Bagaimana kajian lengkap tentang Mendidik Anak Tanpa Amarah? Mari download dan simak mp3 kajiannya.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Mendidik Anak Tanpa Amarah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Empat Faktor Penyebab Adzab Kubur

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.