Masjid Al-Barkah

Riyadhus Shalihin

Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar

By  |  pukul 1:41 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 25 Mei 2022 pukul 2:53 pm

Tautan: https://rodja.id/3gl

Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 16 Syawal 1443 H / 17 Mei 2022 M.

Kajian sebelumnya: Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas tentang باب فضل قيام ليلة القدْر وبَيان أرجى لياليها (Bab tentang keutamaan shalat dimalam al-qadar dan penjelasan tentang malam keberapa yang paling menjadi harapan sebagai malam al-qadar).

Dari Abu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِسَاباً، غُفِر لَهُ مَا تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ

“Barangsiapa yang bangun dimalam al-qadar karena iman kepada Allah dan karena mengharapkan apa yang ditunjukkan Allah kepadanya, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang bangun di malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Hal ini karena diharapkan salah satu dari malam itu adalah sebagai malam al-qadar.

Hadits ini juga menjelaskan kepada kita keutamaan ikhlas kepada Allah Ta’ala dalam beribadah. Disebutkan dalam hadits: “Karena belut-betul beriman kepada Allahdan mengharapkan apa yang Allah janjikan kepada seorang hamba.” Maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.

Baca Juga:
Konsekuensi dari Sahnya Akad Bagian 2 - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Maka seorang yang beriman mengerjakan sesuatu amal ibadah karena beriman dan berharap kepada Allah. Kita jangan berharap kepada manusia, jangan merengek pada hamba-hamba Allah, itu menunjukan kelemahan kita. Kalau kita banyak merengek kepada manusia, itu menunjukkan kelemahan tauhid kita kepada Allah Ta’ala.

Tapi keluhkanlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Curhat kepada Allah. Allah tempatnya curhat, bukan manusia. Inilah orang bertauhid. Kalau kita curhatnya kepada manusia atau kepada selain Allah, maka ini menunjukkan kelemahan tauhid yang dimiliki. Inilah prilaku ahli tauhid. Baik dalam keadaan senang maupun tidak senang, lapang maupun sempit, maka Allah tetap menjadi tempat mereka mengadu.

Tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan

Hadits selanjutnya dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata bahwasannya ada sejumlah orang dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditampakkan dalam mimpi tentang malam al-qadar. Yaitu pada 7 hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَرى رُؤيَاكُمْ قَدْ تَواطَأَتْ في السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتحَرِّيهَا، فَلْيَتَحرَّهَآ في السبْعِ الأَواخِرِ

“Aku memandang bahwa mimpi kalian ini sepertinya sepakat (yaitu pada tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan). Maka barangsiapa yang berusaha untuk mendapatkan malam al-qadar hendaknya dia mencarinya pada tujuh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ini menunjukkan bahwa mimpi itu adalah haq, apalagi mimpi orang-orang beriman. Dan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyampaikan bahwa mimpi kalian telah sepakat. Yaitu mimpi beberapa orang sahabat sama bahwa malam al-qadar itu ada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan.

Baca Juga:
Sifat Shalat Nabi - Bagian ke-9: Mengangkat Tangan dalam Shalat - Hadits 275-277 - Kitab Bulughul Maram (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

Maka dari itu Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyuruh kita untuk menghidupkan 7 malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam riwayat yang lain nanti disebutkan sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan.

Hadits ini juga menjelaskan bahwa mimpi tidka menjadi dalil bagi satu hukum syariat. Karena hukum syariat sudah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun kalau ada orang bermimpi maka jangan dijadikan sebagai syariat. Maka para ulama menyebutkan bahwa mimpi itu hanya berita gembira, bukan suatu kepastian.

Sepuluh malam terakhir

Hadits yang berikutnya dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata bahwa dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan Ramadhan. Dan beliau bersabda:

رَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في العشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ

“Maksimalkan kalian mendapatkan malam al-qadar pada sepuluh malam terkahir di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Hukum Tiwalah (Pelet)

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.