Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

By  |  pukul 2:50 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 28 April 2022 pukul 4:10 pm

Tautan: https://rodja.id/3g5

Khutbah Jumat: Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 20 Ramadhan 1443 H / 22 April 2022 M.

Khutbah Pertama Tentang Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Sesungguhnya Al-Qur’an dan shiyam akan datang kelak pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pelakunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الصيام والقران يشفعان لصاحبهما يوم القيامة

“Al-Qur’an dan puasa memberikan syafaat untuk orang yang melakukannya nanti pada hari kiamat.”

Berkatalah puasa: “Ya Rabb, dahulu di dunia aku telah mencegah ia dari makan, minum dan syahwatnya. Maka berikan syafaat bagiku untuknya.”

Dan Al-Qur’an akan berkata: “Ya Rabb, aku telah mencegah ia tidur di waktu malam untuk membaca Al-Qur’an di dalam shalat malam. Maka berikan syafaat bagiku untuknya.”

Subhanallah, saudaraku.. Sebuah keutamaan yang agung ketika kita melaksanakan shaum, demikian pula membaca Al-Qur’an.

Ini bulan Ramadhan tersisa 10 hari lagi. Maka kita berusaha bersungguh-sungguh untuk bisa memaksimalkan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu dengan berpuasa dengan sebaik-baiknya. Karena sesungguhnya puasa bukan hanya sebatas menahan diri daripada makan dan minum. Akan tetapi puasa itu hakikatnya mempuasakan anggota tubuh kita dari memaksiati Allah.

Baca Juga:
Makanan Yang Diharamkan Oleh Allah – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 173-175

Kita berusaha untuk lebih banyak fokus dengan Al-Qur’an dan mentadabburinya. Sehingga pada waktu itu kita bisa meraih malam yang sangat mulia, yaitu lailatul qadar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul qadar lebih baik daripada 1.000 bulan.” (QS. Al-Qadr[97]: 3)

Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa artinya beramal di malam itu lebih baik daripada beramal dalam 1.000 bulan.

Subhanallah.. Maka sungguh bahagia orang-orang yang Allah jadikan beramal shalih di malam itu. Dan sungguh celaka orang-orang yang dimalam itu Allah jadikan ia lalai. Bahkan na’udzubillah malah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Saudaraku.. Kita ingin menjadi orang-orang yang senantiasa berharap untuk berbisnis dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bisnis yang tidak akan pernah ada rugi-ruginya. Yaitu kita beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kita senantiasa membaca ayat-ayat Allah, kita senantiasa mendirikan shalat, kita pun berinfak. Sebagaimana Allah mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang yang senantiasa membaca ayat-ayat Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan apa yang Kami berikan kepadanya berupa rezeki baik ia rahasia maupun terang-terangan, sesungguhnya ia orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah ada rugi-ruginya.” (QS. Fatir[35]: 29)

Berniaga dengan Allah modalnya hanya satu, saudaraku.. Yaitu dengan keimanan dan ketakwaan kita. Pengorbanan kita untuk sedikit memberikan waktu untuk Allah dalam beramal shalih. Kita membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya, kita berusaha untuk mendirikan shalat (baik shalat lima waktu maupun shalat sunnahnya). Dan kita sedikit memberikan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita. Kita infakkan kepada para fuqara, kita infakkan kepada orang-orang yang susah dan lemah. Maka dengan seperti itu kita sudah berbisnis dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca Juga:
Hadits Tentang Shalat Berjamaah di Masjid

Maka ini di bulan Ramadhan, saudaraku.. Tersisa tinggal 10 hari lagi. Kita berusaha jangan menyia-nyiakan 10 hari lagi ini. Karena sesungguhnya kita khawatir apabila ternyata amalan shalih kita tidak diterima oleh Allah karena tidak bersungguh-sungguh untuk menjaga amalan shalih.

Sebagian orang di awal-awal ia bersungguh-sungguh, tapi di akhir Ramadhan ia menjadi lemah dalam beramal shalih. Itu pertanda keburukan, saudaraku. Sedangkan orang yang senantiasa istiqamah dari awal, bahkan di akhirnya ia bersungguh-sungguh, maka itu tanda ia memang berlomba-lomba dalam kebaikan.

Lihatlah kuda itu semakin mendekati garis finish ia semakin cepat, semakin dia mengeluarkan daya dan upayanya untuk bisa memenangkan perlombaan. Demikian pula kita di bulan Ramadhan ini, semakin mendekati garis finish semakin kita mengeluarkan seluruh kemampuan untuk bisa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena yang kita khawatirkan apabila keluar dari bulan Ramadhan ternyata tidak mendapatkan ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang ia mendapatkan bulan Ramadhan ternyata ia keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan belum mendapatkan ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi)

Ini adalah akibat dia meremehkan amalan shalih di bulan Ramadhan.

Saudaraku.. Seorang mukmin tentunya di bulan Ramadhan ini adalah merupakan kesempatan emas untuk beramal shalih. Karena ia tahu bahwasanya ajalnya terbatas, dia belum tentu sampai ajalnya kepada Ramadhan berikutnya. Mungkin ini adalah Ramadhan terakhir baginya.

Baca Juga:
Dalil-Dalil dan Penjelasan Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Maka orang yang sadar bahwasanya ia tidak tahu ajalnya apakah akan sampai kepada Ramadhan berikutnya, maka dia akan berusaha menjadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhirnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk beramal shalih, mengharapkan ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Itulah seorang mukmin, saudaraku. Keinginan terbesar bagi seorang mukmin adalah mengharapkan ampunan dari Allah. Karena sesungguhnya apabila Allah mengampuni seorang hamba, maka itu adalah merupakan kebahagiaan yang luar biasa.

Di bulan Ramadhan Allah sangat dermawan kepada hambaNya. Di bulan Ramadhan setiap malam Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari api neraka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi:

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Di setiap malam Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari api neraka.”

Kita berharap kita termasuk hamba-hamba yang dimerdekakan oleh Allah dari api neraka. Karena itu adalah merupakan kemenangan yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Siapa yang dimasukkan ke surga dan dibebaskan dari api neraka, sungguh ia telah menang/sukses.” (QS. Ali-Imran[3]: 185)

Itulah hakikat kesuksesan dan kemenangan, saudaraku.

Benar, kita sekarang bisa beramal shalih. Tapi akankah kita bisa terus istiqamah sampai meninggal kita? Kita tidak tahu.

Maka kita sekarang bersungguh-sungguh supaya amalan shalih ini menjadi kebiasaan kita sampai tua, supaya amalan shalih kita menjadi sebuah perkara yang menjadi adat-istiadat kita. Sehingga kita pun diwafatkan di atas amalan shalih. Karena seseorang itu -kata Syaikh Utsaimin- biasanya meninggal di atas kebiasaannya. Jika kita tidak membiasakan berbuat kebaikan dan beramal shalih, maka kita akan membiasakan berbuat keburukan atau setidaknya kita terbiasa dengan hal yang sia-sia.

Baca Juga:
Kebutuhan Manusia Kepada Ilmu Adalah Kebutuhan Yang Mendesak

Sementara tanda baiknya keislaman seorang mukmin adalah ia meninggalkan perkara yang sia-sia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang sia-sia.” (HR. Tirmidzi)

Makanya saudaraku.. Sepuluh hari ini kita maksimalkan, kita berusaha untuk tinggalkan hal-hal yang sia-sia, kita maksimalkan dengan beramal shalih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, demikian pula kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Khutbah Kedua Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Sesungguhnya kesungguhan kita tergantung kepada keyakinan kita kepada Allah. Dan tergantung apa yang kita harapkan di hati kita. Ketika harapan terbesar di hati kita adalah kehidupan akhirat, yang kita harapkan adalah ridha Allah ‘Azza wa Jalla, maka saat itulah akan terlihat ia akan bersungguh-sungguh.

Tapi ketika di hatinya yang terbesar adalah yang ia harapkan kehidupan dunia dan kesenangannya, maka ia tidak akan bersungguh-sungguh mencari kehidupan akhirat.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon kepada Allah agar jangan sampai dijadikan dunia sebagai harapannya yang terbesar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai harapan kami yang terbesar. Jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak pengetahuan ilmu kami.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah.. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam minta kepada Allah jangan sampai dunia itu harapan terbesar kita. Karena seseorang ketika harapan terbesarnya adalah dunia, maka dia akan lari dari kehidupan akhirat, dia akan berpaling dari beramal shalih, ia akan malas-malasan untuk menaati Allah ‘Azza wa Jalla, yang ia pikirkan bagaimana meraih kehidupan dunia.

Baca Juga:
Hukum Tidak Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik

Tapi ketika di hati seorang hamba keinginan terbesarnya adalah kehidupan akhirat, maka Allah akan berikan kekuatan untuk istiqamah di atas keimanan dan ketakwaan.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Siapa yang akhirat menjadi harapan terbesarnya, maka Allah menjadikan kekayaan pada hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia pun akan mendatanginya dalam keadaan dunia hina di matanya.”

Sebaliknya, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا قُدِّرَ لَهُ

“Siapa yang harapan terbesar di hatinya adalah kehidupan dunia, maka Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menjadikan urusannya bercerai-berai (tidak bisa istiqamah), dan tidaklah dunia mendatanginya kecuali sesuai yang telah Allah takdirkan saja untuknya.” (HR. Tirmidzi)

Maka saudaraku.. Jadikanlah akhirat sebagai keinginan kita yang terbesar, sebagai keinginan kita yang benar-benar ingin kita kejar. Sebagaimana halnya para pengejar dunia bersungguh-sungguh, maka kita pun menjadi orang yang mengejar akhirat dengan kesungguhan.

Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Baca Juga:
Objek Pembagian Pada Syuf'ah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.