Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Yang Agung

By  |  pukul 2:35 pm

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 07 Mei 2022 pukul 7:53 am

Tautan: https://rodja.id/3g9

Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Yang Agung ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Ramadhan 1443H / 29 April 2022 M.

Khutbah Pertama Tentang Ramadhan Madrasah Yang Agung

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita sebuah madrasah yang agung, yaitu bulan Ramadhan ini. Yang apabila seseorang berpikir dan memikirkan dengan baik-baik tentang bulan Ramadhan yang telah kita lewati dan sekarang kita berada di penghujungnya, maka akan kita dapati banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan, terutama untuk hati kita dan keimanan kita. Karena sesungguhnya Ramadhan mendidik kita agar senantiasa bertakwa kepada Allah, senantiasa sabar di atas ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan maksiat kepada Allah dan sabar menghadapi berbagai macam ujian; kelaparan, kehausan, demikian pula susahnyanya kita berpuasa di siang bulan Ramadhan.

Dengan seperti itulah setelah Ramadhan kita bisa berusaha sabar diatas ketaatan kepada Allah. Setelah Ramadhan pun kita berusaha sabar untuk meninggalkan maksiat kepada Allah, setelah Ramadhan pun kita berusaha untuk sabar menghadapi ujian dan cobaan yang akan menimpa kita.

Baca Juga:
Besarnya Kedudukan Do'a Dalam Islam - Kajian Kitab Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa' (Ustadz Mahfudz Umri, Lc.)

Saudaraku.. Ramadhan mengajarkan kepada kita kejujuran dalam keimanan. Dimana kita benar-benar jujur bahwa kita berpuasa memang mengharapkan ridha Allah, bukan ridha manusia. Lihatlah ketika kita sendiri tidak ada orang yang melihat, kita pun tidak berani untuk berbuka, kita tidak berani untuk membatalkan puasa kita. Bukankah itu menunjukkan bahwa kita memang jujur karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berpuasa?

Maka demikian pula saudaraku.. Yang diharapkan setelah Ramadhan. Walaupun kita sendirian, tapi kita tidak berani untuk memaksiati Allah ‘Azza wa Jalla. Walaupun tidak ada manusia yang melihat, tapi kita yakin Allah yang melihat kita. Dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan apa yang ada dalam dada-dada kita.

Ramadhan mendidik kita agar kita menjadi orang yang terbiasa di atas kebaikan. Membiasakan dengan berbagai macam amalan-amalan shalih; membaca Al-Qur’an, bersedekah, berpuasa, shalat malam dan yang lainnya. Sehingga akhirnya kebiasaan-kebiasaan ini yang diharapkan setelah Ramadhan adalah sesuatu yang bisa senantiasa kita lakukan.

Ramadhan mendidik kita untuk mempunyai jiwa dermawan. Agar kita memperhatikan orang-orang fakir miskin, agar kita mau berbagi dengan orang-orang susah. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umatnya untuk meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadhan.

Lihatlah betapa banyaknya -Alhamdulillah- kaum muslimin yang semangat untuk bersedekah di bulan Ramadhan mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan mengharapkan pahala yang lebih besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah

Sungguh ini pendidikan yang sangat luar biasa. Bagi siapapun yang mau berpikir dan berakal, maka akan tampaklah hikmah-hikmah yang agung daripada syariat bulan puasa Ramadhan ini.

Dibandingkan dengan mudharat kelaparan sangat sedikit sekali. Justru kelaparan yang kita rasakan ini tiada lain adalah untuk maslahat yang lebih besar dari itu.

Saudaraku.. Karena siapapun orang yang mempunyai akal pikiran ia akan dapatkan bahwa semua perintah Allah pasti maslahat, pasti mengandung hikmah yang agung dan besar. Dan semua yang Allah larang pasti itu menimbulkan mudharat baik cepat ataupun lambat. Namun itu hanyalah untuk orang-orang yang berfikir.

Adapun orang-orang yang tidak berfikir dan hanya memikirkan syahwat saja, yang ia pikirkan hanya dunia saja, ia tidak akan merasakan manfaat-manfaat yang besar tersebut. Dia hanya akan menganggap Ramadhan sebagai sebuah beban dalam hidupnya. Sehingga ia bagaikan keledai yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا…

“Perumpamaan orang yang diberikan kepada mereka Taurat kemudian mereka tidak membawanya dengan semestinya, bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab besar…” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 5)

Keledai tidak tahu apa yang ada di atas punggungnya, kedai tidak pernah mau mengetahui apa yang ada di atas punggungnya berupa kitab suci tersebut. Tapi keledai menganggap yang ada di punggungnya ini hanyalah beban buat dirinya saja.

Baca Juga:
Berbicara Kepada Manusia Sesuai Dengan Tingkat Pemahaman dan Kedudukan Manusia - Kitab Al-Ishbah

Maka siapa yang menganggap Al-Qur’an sebagai beban untuk hidupnya, perintah Allah dan laranganNya hanya sebagai beban untuk hidupnya, maka ia bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab besar.

Maka bagaimana tidak para ulama Salafush Shalih terdahulu mereka benar-benar merasakan kenikmatan bulan Ramadhan. Maka tak heran mereka sedih ketika Ramadhan hendak meninggalkan mereka.

Sementara kita sebaliknya.. Ketika Ramadhan hendak meninggalkan kita maka kita gembira bahkan berharap agar ia segera pergi dan enyah dari hidup kita. Karena kita menganggap Ramadhan selama ini hanyalah beban untuk hidup kita.

Maka saudaraku.. Sesungguhnya orang-orang saja yang senantiasa merasakan dan berpikir betapa agungnya syariat yang mulia ini untuk hidupnya, dunia dan akhiratnya.

Lihatlah bagaimana kasih sayang Allah kepada kita di bulan Ramadhan. Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hati hamba-hamba yang beriman senantiasa dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana pensyariatan Ramadhan yang Allah mudahkan. Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesulitan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)

Dibandingkan dengan puasa orang-orang sebelum kita, maka puasa kita (umat Islam) sangat ringan sekali. Puasa orang-orang sebelum kita 24 jam, saudaraku. Sementara kita hanya 12 jam saja. Dan ternyata pahala kita jauh lebih besar dari mereka. Bukankah itu menunjukkan akan kasih sayang Allah kepada umat Islam?

Baca Juga:
Berbekallah untuk Kehidupan Akhirat - Khutbah Jumat (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Saudaraku.. Maka dari itu jadilah kita hamba-hamba Allah yang senantiasa taat setelah Ramadhan nanti. Jadilah kita seorang hamba yang benar-benar jujur dalam keimanan kita kepada Allah setelah Ramadhan.

Jangan sampai saudaraku.. Ramadhan meninggalkan kita, ternyata kita tinggalkan juga ibadah-ibadah yang telah kita biasakan di bulan Ramadhan. Sungguh ini manusia yang sangat buruk sekali. Dia kenal Allah hanya di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan lepas ia tidak lagi kenal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia kembali kepada maksiatnya, kembali kepada syahwatnya, kembali kepada pengingkaran ia kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Saudaraku.. Maka inilah kita bergembira.. Setelah Ramadhan ini kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon kepada Allah kekuatan agar Allah berikan kepada kita istiqamah di atas ketaatan.

Khutbah Kedua Ramadhan Madrasah Yang Agung

Di antara kasih sayang Allah di penghujung Ramadhan ini, Allah syariatkan ibadah lain. Yaitu زكاة الفطر (zakat fithr). Untuk apa Allah mensyariatkan zakatul fithr, saudaraku?

Abdullah bin Abbas berkata:

فرضَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ زَكاةَ الفطرِ طُهرةً للصَّائمِ منَ اللَّغوِ والرَّفثِ وطعمةً للمساكينِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithr untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang tidak baik, dan sebagai makanan untuk fakir miskin.

Lihatlah ‘Abdullah bin Abbas menyebutkan tentang hikmah yang agung daripada disyariatkannya zakat fithr. Ternyata zakat fithr adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang-orang yang berpuasa.

Baca Juga:
Ilmu Yang Wajib Dipelajari

Allah tahu pastinya ketika berpuasa kita tidak lepas dari perbuatan yang sia-sia. Allah tahu pastinya ketika kita puasa tidak akan lepas dari sedikit kesalahan. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mensucikan puasa orang-orang yang berpuasa itu dengan adanya zakat fithr. Allah sucikan mereka dari perbuatan yang sia-sia, Allah sucikan mereka dari ucapan yang tidak baik. Sehingga semakin sempurna puasa kita di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Bukankah itu menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita? Meminta sedikit dari harta kita untuk mengeluarkan beras 3 kg. Tapi ternyata diberikan oleh Allah balasan yang lebih besar dari itu. Allah sucikan puasa kita. Dan inilah Subhanallah menimbulkan jiwa sosial kepada diri kita, memberi makan fakir miskin.

Kita pun bersama kaum muslimin yang lainnya bergembira. Orang-orang yang lapar di malam itu pun kita berikan makanan agar mereka pun keesokan harinya bergembira dengan hari raya. Itulah kebersamaan yang diajarkan oleh Islam.

Betapa agungnya agama ini, saudaraku. Maka kita mohon kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan istiqamah di atas Islam dan iman. Kita memohon kepada Allah agar Allah menerima amal ibadah kita selama di bulan Ramadhan ini. Dan tentunya yang sangat kita mohon dan harapkan adalah kita keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kita pun termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka.

Baca Juga:
Hak-Hak Allah atas Setiap HambaNya - Bagian ke-2 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Ramadhan Madrasah Yang Agung

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Ramadhan Madrasah Yang Agung” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.