Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Jangan Senang Dipuji Manusia

By  |  pukul 10:20 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 11 Juni 2022 pukul 2:30 pm

Tautan: https://rodja.id/3h3

Khutbah Jumat: Jangan Senang Dipuji Manusia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 3 Dzul Qa’dah 1443 H / 03 Juni 2022 M.

Khutbah Pertama Tentang Jangan Senang Dipuji Manusia

Semua kita adalah hamba Allah. Dan semua kita wajib untuk menghambakan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak diperkenankan seorang hamba untuk menyatakan bahwasanya dirinya adalah lebih baik daripada orang lain. Iblis yang pertama kali mengatakan:

اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ

“Aku lebih baik darinya.” (QS. Al-A’raf[7]: 12)

Karena ketika kita merasa lebih baik, kita seringkali memunculkan sifat kesombongan dihati.

Demikian pula kita pun dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mempunyai sifat suka dipuji oleh orang lain. Dalam hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ

“Jauhi oleh kalian sifat merasa suka dipuji oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Karena ketika kita merasa suka dipuji, itulah yang menjadi pintu untuk riya. Sehingga kita ingin supaya ibadah kita terlihat oleh orang lain, kita ingin kelebihan kita terlihat oleh orang lain, sehingga pada waktu itu kita mengharapkan pujian manusia. Padahal pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita sama sekali.

Baca Juga:
Ahlussunnah wal Jamaah Mengingatkan Agar Tidak Menjadikan Agama Sebagai Wasilah Menggapai Dunia - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Islam menyuruh kita untuk hanya mengharapkan pujian Allah semata. Islam menyuruh kita untuk mempunyai pandangan dan pikiran bahwasannya pujian Allah itu segala-galanya.

Maka dari itulah riya’ termasuk syirik. Karena seakan-akan ia menyamakan antara pujian Allah dengan pujian manusia, seakan-akan kita tidak merasa cukup dengan pujian Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga kita merasa butuh kepada pujian manusia. Padahal pujian manusia itu hakikatnya adalah:

الذَّبْحُ

“Sembelihan untuk kita.”

Ketika seseorang ada yang memuji temannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan temannya ada di situ sedang shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda kepada dia:

قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Kamu sudah memenggal leher saudaramu sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh apabila ada orang yang memuji-muji kita di hadapan kita, kata Rasulullah: “Maka taburkan ke wajahnya debu.”

Semua ini menunjukkan agar kita tidak menjadi hamba yang suka pujian manusia. Karena banyak orang demi untuk mendapatkan pujian manusia akhirnya tidak peduli dengan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, dia tidak peduli apakah amalnya diterima atau tidak. Padahal riya’ (ingin dilihat manusia, ingin dipuji manusia) dosanya berat dimata Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa ada tiga orang yang pertama kali diputuskan dan dilemparkan kedalam api neraka. Yang pertama kata Rasulullah adalah seorang yang alim dan qari’.

Baca Juga:
Larangan Laki-Laki Memakai Emas dan Sutra

Lalu Allah bertanya kepadanya pada hari kiamat: “Apa amalmu waktu di dunia?” Dia berkata: “Dahulu di dunia aku mempelajari ilmu, aku mengajarkan ilmu karena Engkau, aku baca Qur’an pun karena engkau.”

Maka Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu menuntut ilmu hanya ingin disebut ulama. Kamu pun juga membaca Al-Qur’an hanya ingin disebut qari’. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan itu.” Lalu kemudian ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam.

Saudaraku.. Pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita. Bahkan Al-Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa celaan manusia lebih bermanfaat buat kita daripada pujian manusia untuk kita. Sebab ketika manusia memuji, kalau ternyata pujian itu ada pada diri kita seringkali mengganggu keikhlasan. Ketika pujian itu tidak ada dan kita merasa puas dengan pujian itu, maka kita termasuk orang yang merasa kenyang dengan sesuatu yang Allah tidak berikan kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

المُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang merasa puas dengan pujian manusia padahal tidak ada pada dirinya, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan celaan manusia kepada kita kalau ternyata itu ada pada diri kita, maka ini kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Dan kalau ternyata tidak ada pada diri kita, maka itu pahala besar untuk kita dan dosa buat dia. Namun tentunya saudaraku, ini bagi mereka yang tidak terbawa perasaan dan emosinya.

Baca Juga:
Hukum-Hukum Pelaksanaan Jenazah

Bahkan terkadang kata Ibnul Qayyim di antara tanda kebaikan Allah inginkan kepada seorang hamba yaitu Allah jadikan ada orang yang mencelanya, ada orang yang mencacinya. Supaya dengan celaan dan cacian itu ia tidak merasa sombong, supaya dengan celaan dan cacian itu ia menjadi tunduk dan tawadhu. Sehingga ia pun tidak tertipu dengan pujian manusia.

Saudaraku.. Sungguh tercela seorang manusia yang mengharapkan pujian orang lain. Karena sesungguhnya ikhlas adalah syarat diterimanya amal dan ketidakikhlasan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Maka berusahalah kita menjaga hati kita, yaitu pintunya adalah jangan sampai kita merasa senang dipuji oleh manusia. Jangan sampai akhirnya yang menjadi tujuan kita adalah pujian manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah walaupun manusia tidak suka kepadanya, maka Allah cukupkan dia dari manusia. Barangsiapa yang mencari keridhaan manusia namun Allah itu murka kepadanya, maka Allah akan serahkan dia kepada manusia (Allah tidak mau membantunya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Padahal kita sangat membutuhkan bantuan Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana ketika Allah tidak mempedulikan kita hanya karena kita mengharapkan keridhaan manusia. Apalagi seorang Dai ketika ia mengharapkan keridhaan manusia, maka ia tidak akan mampu untuk menyampaikan kebenaran. Dia tidak akan berani menyampaikan kebenaran karena ia takut murkal manusia. Ia lebih takut murka manusia daripada murka Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca Juga:
Larangan Istinja' Dengan Tangan Kanan

Sedangkan Dai yang ikhlas, yang mengharapkan wajah Allah, ia lebih takut kemurkaan Allah daripada kemurkaan manusia.

Saudaraku.. Maka sesungguhnya pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk hidup kita di dunia dan akhirat. Renungkan ini baik-baik dan pikirkan. Apa manfaatnya kita dipuji oleh manusia.

Mungkin ada orang berkata “Ini memotivasi kita.” Tapi memotivasi pun itu bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla. Yang diinginkan adalah motivasi keikhlasan, saudaraku. Bukan motivasi karena mengharapkan pujian manusia.

Khutbah Kedua Jangan Senang Dipuji Manusia

Di antara fenomena ketidakikhlasan yaitu kita ingin diakui jasa-jasa kita, kita merasa sudah punya jasa, lalu kemudian kita mengungkit-ungkit jasa-jasa kita kepada orang lain supaya jasa-jasa kita diakui oleh orang lain. Ketika ada orang yang tidak mengakui jasanya ia marah, marahnya bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla, tapi merasa dirinya tidak diakui.

Padahal jasa-jasanya yang telah ia lakukan semua sudah mendapat pahala dari sisi Allah. Lantas apakah ia akan membatalkan amalannya saat ia ungkit-ungkit jasanya tersebut kepada orang lain? Sementara mengungkit-ungkit kebaikan kita kepada orang lain itu membatalkan amal kita. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ…

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu batalkan sedekah kalian dengan cara mengungkit-ungkit dan menyakiti…” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 118

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan oleh Allah, dan bagi dia adzab yang pedih.”

Siapa yang tiga orang ini? Yang pertama yaitu الْمَنَّانُ (yang mengungkit-ungkit pemberiannya).

Maka dari itulah saudaraku.. Kewajiban kita hanya mengharapkan pahala di sisi Allah saja, tidak mengharapkan penghormatan dan pengakuan dari manusia. Kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja melarang kita merasa suka orang berdiri menghormati diri kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من سره أن يتمثل له الناس قياماً فليتبوأ مقعده من النار

“Siapa yang merasa suka orang-orang berdiri menghormati dirinya, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.” (HR. Abu Dawud)

Merasa suka orang untuk berdiri menghormati dirinya saja terancam pelakunya masuk neraka. Makanya kata Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam paling benci ketika para sahabat menyambut beliau dengan cara berdiri. Beliau marah, beliau tidak suka. Ssementara kita lebih suka dan sangat gila kehormatan dari manusia.

Download mp3 Khutbah Jumat Jangan Senang Dipuji Manusia

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Jangan Senang Dipuji Manusia” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Baca Juga:
Aqidah Pemersatu Kaum Muslimin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.