Masjid Al-Barkah

Fiqih Dzikir dan Do'a

Membaca Surah Al-Kafirun Sebelum Tidur

By  |  pukul 9:37 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 05 Juli 2022 pukul 1:49 pm

Tautan: https://rodja.id/3hv

Membaca Surah Al-Kafirun Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Dzul Qa’dah 1443 H / 27 Juni 2022 M.

Lihat sebelumnya: Membaca Surah Al-Mulk Sebelum Tidur

Kajian Tentang Membaca Surah Al-Kafirun Sebelum Tidur

Bacaan yang biasa dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum tidur adalah membaca surah Al-Kafirun satu kali. Nomor urut surah ini dalam mushaf Al-Qur’an adalah nomor 109, terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.

Dalil Landasan

عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.

Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul ya ayyuhal kafirun” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud. Isnad hadits ini dinilai shahih oleh Al-Hakim dan Ibn Hajar).

Ini adalah perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sahabat ini. Dan perintah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlaku untuk semua umatnya. Kecuali kalau ada pengkhususan.

Baca Juga:
Mengambil Kembali Hibah

Kita tahu syirik adalah dosa yang paling besar. Maka kita diperintahkan untuk berlepas diri (mendekat saja tidak boleh apalagi melakukan). Agar kita bisa senantiasa mengingat prinsip ini, maka setiap malam kita dianjurkan untuk membaca surah Al-Kafirun.

Renungan Kandungan

Tema umum surah mulia ini adalah: pemaparan prinsip bara’ah (penolakan/berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamayuz (diferensiasi/pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menerangkan, “Di dalam Al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surah Al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik.”

Ayat-ayat dalam surah Al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surah mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:

Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah Ta’ala memerintahkan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Ya ayyuhal kafirun (Wahai orang-orang kafir).” Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitab (sapaan) semacam “Ya ayyuhan nas (Wahai sekalian manusia)” dan semisalnya.

Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.

Baca Juga:
Ketika Kepintaran Menjadi Musibah

Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembahNya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.

Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.

Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.

Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.

Baca Juga:
Waktu Mustajab Untuk Berdo'a - Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Download mp3 Kajian Membaca Surah Al-Mulk Sebelum Tidur

Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.