Masjid Al-Barkah

Talbis Iblis

Kegagalan Menetapkan Skala Prioritas dalam Kezuhudan

By  |  pukul 4:00 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 02 Agustus 2022 pukul 3:12 pm

Tautan: https://rodja.id/3it

Kegagalan Menetapkan Skala Prioritas dalam Kezuhudan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Dzulhijjah 1443 H / 25 Juli 2022 M.

Kajian Islam Tentang Kegagalan Menetapkan Skala Prioritas dalam Kezuhudan

Di antara ahli ibadah yang zuhud ada yang jika diminta memakai pakaian lembut maka dia tidak mau melakukannya. Anggapannya adalah supaya wibawa zuhudnya tidak berkurang. Ada yang rela tidak makan dan kelaparan, bahkan membahayakan jiwanya asalkan hal itu disaksikan oleh manusia. Ada juga yang tidak mau tersenyum apalagi tertawa hanya demi menjaga reputasi dan wibawa. Dan mereka menganggap baik hal-hal seperti ini.

Talbis iblis mengena sehingga bisa mengelabui mereka dengan membuatnya mengira bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu bermanfaat dan berguna untuk memperbaiki hubungan antar sesama manusia. Padahal sebenarnya semua itu ditujukan karena riya’, mengingat tindakan tersebut sudah menjadi aturan baku untuk meraih sebuah kehormatan. Dari situlah kita melihat bahwa orang-orang seperti ini kadang-kadang mengangguk-anggukkan kepalanya dan menampakkan tanda-tanda kesedihan. Namun tatkala ia sedang menyendiri kita melihatnya begitu buas dan liar, dia tidak mengindahkan hal-hal tersebut.

Perbuatan ini tentunya sangat kontras jika dikaitkan dengan para Salaf yang senantiasa menghindari segala sesuatu, menjauhi tempat-tempat yang diduga kuat akan membuat mereka menjadi pusat perhatian orang lain. Ini termasuk perkara yang selalu dihindari oleh para Salaf dahulu. Mereka tidak suka menjadi pusat perhatian orang banyak.

Baca Juga:
Sifat Kemuliaan Allah Disebutkan Secara Terperinci

Ada pula orang zuhud yang mengenakan pakaian robek tanpa dijahit, tidak merapikan serban yang dikenakan, tidak menyisir/merapikan jenggot. Ini dilakukan untuk memperlihatkan bahwa dia tidak punya hasrat kepada hal-hal duniawi sehingga meninggalkan kerapian dan segala sesuatu yang pantas.

Ibnu Jauzi mengatakan bahwa ini justru termasuk pintu riya’. Meskipun yang bersangkutan benar dalam berpaling dari ambisi dunia, akan tetapi ada tujuan lain disitu.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.