Masjid Al-Barkah

Mendidik Anak Tanpa Amarah

Sebatas Inilah Kadar Manusia

By  |  pukul 10:08 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 04 Agustus 2022 pukul 9:00 am

Tautan: https://rodja.id/3iw

Sebatas Inilah Kadar Manusia merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Dzulhijjah 1443 H / 26 Juli 2022 M.

Kajian sebelumnya: Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas

Sebatas Inilah Kadar Manusia

Sebatas inilah kadar manusia, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah melakukan usaha yang terbaik.

Salah satu hal yang mendorong kita untuk marah kepada anak anak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, jauh dari ekspektasi yang kita inginkan, apalagi kalau kita bandingkan dengan anak orang lain. Ketika kita dapati anak tidak seperti yang kita harapkan, maka kita pun terdorong untuk marah.

Tidak jarang orang tua menyebut anak orang lain di harapan anaknya. Tentu tujuannya bukan untuk memotivasi, tapi untuk menjatuhkan dan meluapkan kekecewaan. Seolah-olah dia mengatakan: “Aku mau engkau seperti dia, tapi engkau tidak seperti dia.”

Maka disini kita perlu menyadari bahwa manusia dibatasi, ada limit yang tidak bisa kita lewati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan kadarnya.

وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“Dialah Allah yang telah menetapkan kadar dan memberikan petunjuk.” (QS. Al-A’la[87]: 3)

Artinya ada orang-orang yang Allah kehendaki mendapatkan hidayah dan ada orang-orang yang tidaklah Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah itu.

Baca Juga:
Hak-Hak Suami atas Istrinya - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan dengan kadar (batas).” (QS. Al-Qamar[54]: 49)

Kita sebagai orang tua juga ada batasnya. Kita tidak kuasa untuk menjamah hal-hal yang itu bukan merupakan domain manusia, yaitu memberikan hidayah. Kita sadar betul bahwa itu bukan kuasa kita. Allah mengatakan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ…

“Engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tapi Allah ia memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…” (QS. Al-Qasas[28]: 56)

Hanya saja kita tidak boleh menyerah dan berserah diri kepada takdir tanpa usaha, itu bukanlah tawakal. Maka setelah melakukan ikhtiar yang bisa kita lakukan, mendidik anak semampu kita sesuai dengan kapasitas kapasitas yang kita miliki, mulai dari menyekolahkan di sekolah yang baik untuk agamanya, sekolah yang mengajarkan sunnah, dimasukkan ke pesantren, misalnya segala sesuatu sudah dilakukan, ingat bahwa hidayah bukan di tangan orang tua.

Hal itu juga terjadi atas para Nabi dan Rasul. Apakah Nabi tidak mendakwahi Abu Thalib dan baru mendakwahinya pada saat Abu Thalib sekarat? Apakah Nabi Nuh tidak mendidik anaknya sehingga anak itu harus tenggelam bersama orang-orang yang kafir? Apakah Nabi Luth tidak pernah mendakwahi istrinya sehingga menghianati dan memberitahukan keberadaan tamu-tamu (para malaikat) kepada kaumnya? Tentu jawabannya tidak, para Nabi dan Rasul telah melakukan usaha yang terbaik. Mereka telah mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Tapi sekali lagi, ini yang harus kita sadari bahwa hidayah itu bukan di tangan orang tua.

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits 959-965 - TPP: "Umat Islam adalah Umat yang Disayangi oleh Allah, Keutamaan Orang yang Mati Syahid, Keutamaan Menyantuni Anak Yatim, dan Seterusnya" (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Maka setelah melakukan usaha terbaik sampai kepada puncak ikhtiar (yaitu doa), kita harus sadar bahwa manusia ada batas yang tidak akan bisa dia lewati. Sepintar apapun dia, sekuat apapun ikhtiar yang sudah dia lakukan, setinggi apapun kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ…

“Tidaklah kamu berkehendak melainkan semua dibawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. At-Takwir[81]: 29)

Semuanya terpulang kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah menghendaki hidayah maka Allah akan beri hidayah. Jika Allah menghendaki sebaliknya, maka tidak ada yang bisa dan kuasa memberikan hidayah kepadanya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Sebatas Inilah Kadar Manusia” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.