Masjid Al-Barkah

Mendidik Anak Tanpa Amarah

Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan

By  |  pukul 2:46 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 29 Agustus 2022 pukul 10:19 am

Tautan: https://rodja.id/3js

Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Muharram 1444 H / 23 Agustus 2022 M.

Kajian sebelumnya: Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan

Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan

Jadilah ayah bunda yang penuh cinta dan kasih sayang. Karena  الجزاء من جنس العمل (balasan sesuai dengan amal perbuatan) dan كما تدين تدان (bagaimana kamu berbuat begitu kamu akan diperlakukan). Jika kita ingin disayang Allah, maka sayangilah hamba Allah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya hamba yang disayang Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hamba yang memiliki sifat penyayang.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya)

Nabi juga mengatakan dalam hadits yang lain:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang pasti akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi niscaya kamu akan disayangi oleh apa yang langit.” (HR. Tirmidzi)

Maka kasih sayang terhadap anak merupakan bagian dari sifat-sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam konteks mendidik kasih sayang ini mutlak diperlukan, bahkan menjadi suatu keniscayaan, tidak boleh hilang dari pendidikan. Antara kasih sayang dan pendidikan sangat berkaitan erat. Maka Nabi sebagai pendidik memiliki sifat kasih sayang ini.

Baca Juga:
Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling penyayang kepada anak-anak dan keluarga beliau. Ini yang disaksikan oleh Anas bin Malik yang menjadi khadim Nabi selama puluhan tahun. Anas Radhiyallahu ‘Anhu melihat ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara bentuk kasih sayang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada anak-anak seperti yang disebutkan di dalam hadits, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu:

إنِّي لَأَدْخُلُ في الصَّلَاةِ وأَنَا أُرِيدُ إطَالَتَهَا، فأسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فأتَجَوَّزُ في صَلَاتي ممَّا أَعْلَمُ مِن شِدَّةِ وجْدِ أُمِّهِ مِن بُكَائِهِ

“Aku masuk memulai mengerjakan shalat dan aku bermaksud memanjangkan shalat itu. Namun kemudian aku mendengar tangisan seorang bocah di belakang hingga aku pun mempersingkat shalat itu karena aku tahu bahwa ibunya pasti tidak tenang dengan tangisan anaknya.” (HR. Bukhari)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perhatian terhadap kondisi anak ini yang mungkin mencari ibunya dan ibunya juga mungkin tidak tenang mendengar tangisan anaknya. Maka Nabi mengurungkan niat untuk memperpanjang shalat itu dan mempersingkatnya. Ini adalah bentuk nyata kasih sayang kepada manusia, terutama kepada anak-anak.

Kasih Sayang Sebab Meraih Ridha Allah

Kasih sayang juga merupakan sebab untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surga. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa ada seorang wanita yang mendatangi ‘Aisyah. Lalu ‘Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberi tiap-tiap anaknya satu butir kurma dan menyisakan satu butir untuk dirinya. Lalu kedua anak itu memakan kurma tersebut. Setelah habis kurma mereka, mereka melihat kurma yang ada pada ibunya. Si ibu ini mengerti bahwa kedua anaknya menginginkan kurma yang ada di tangannya. Maka ia pun rela membagi dua kurmanya itu dan memberikan kepada masing-masing anaknya.

Baca Juga:
Istiqamah Di Atas Shirathal Mustaqim

Inilah pengorbanan dari seorang ibu kepada anaknya. Karena kasih sayang itu biasanya memerlukan pengorbanan. Seseorang mau berkorban untuk yang disayangi dan dicintai. Kalau kita tidak mau berkorban untuk sesuatu yang kita cintai, maka cinta itu perlu dipertanyakan.

Si ibu tadi rela membelah kurma dan memberikan kepada anak-anaknya. Tak lama kemudian Nabi pulang lalu ‘Aisyah menceritakan apa yang ia lihat itu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Nabi berkata:

وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صبييها

“Apa kamu takjub melihatnya wahai ‘Aisyah? Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merahmatinya karena kasih sayangnya kepada kedua anaknya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنَّ الله قَدْ أَوجَبَ لَهَا بِهَا الجَنَّة، أَو أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّار

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan untuknya surga atau menyelamatkannya dari api neraka (karena kasih sayangnya kepada anaknya).” (HR. Muslim)

Jadi kasih sayang ini sangat diperlukan di dalam mendidik. Dasar mendidik adalah kasih sayang. Kita mendidik anak-anak karena sayang kepada anak-anak kita. Maka didiklah dengan penuh kasih sayang.

Oleh karena itu jauhilah sifat sebaliknya, yaitu kasar dan suka marah. Hiasilah diri dengan kelembutan dan kasih sayang. Harapan besar dari kedua sifat ini adalah kita ingin agar anak-anak juga tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang.

Baca Juga:
Tanda-Tanda Husnul Khatimah Bag 2

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.