Masjid Al-Barkah

Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu

Posisi Tangan Ketika I’tidal

By  |  pukul 10:35 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 03 Oktober 2022 pukul 9:10 am

Tautan: https://rodja.id/3kv

Posisi Tangan Ketika I’tidal ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 29 Safar 1444 H / 26 September 2022 M.

Download kajian sebelumnya: Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram

Kajian Tentang Posisi Tangan Ketika I’tidal

Permasalahan yang berkaitan dengan rukun i’tidal dan tuma’ninah di dalamnya adalah tentang apakah tangan ketika i’tidal itu disedekapkan ataukah dijulurkan? Pembahasan masalah ini sebenarnya adalah pembahasan yang berkaitan dengan sunnah dalam i’tidal. Dan para ulama sepakat bahwa i’tidal dengan kedua cara ini cukup untuk shalat seseorang. Maksudnya apabila seseorang i’tidal dengan menjulurkan tangannya, maka tidak ada seorang pun dari ulama yang mengatakan i’tidalnya tidak sah. Begitupula ketika seseorang menjadikan tangannya bersedekap ketika i’tidal, maka tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa shalatnya menjadi tidak sah.

Para ulama berbeda pendapat apakah yang lebih baik i’tidal dengan menyedekapkan kedua tangan ataukah dengan menjulurkan kedua tangan? Ada yang mengatakan lebih afdhalnya menyedekapkan kedua tangan. Hal ini karena keumuman hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berdiri beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini menjelaskan tentang berdiri. Dan i’tidal termasuk berdiri. Maka masuk dalam keumuman hadits ini.

Baca Juga:
Shalat Tahajud - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Pendapat yang kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang lebih baik ketika i’tidal adalah menjulurkan tangan. Dalilnya adalah bahwa tidak ada satupun hadits khusus yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika i’tidal menyedekapkan tangannya. Yang ada ada adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika i’tidal -dan juga beliau memerintahkan hal ini- menjadikan semua dua tulang-tulang beliau kembali kepada posisinya masing-masing. Dan ketika i’tidal, kembalinya tulang-tulang tersebut ke posisinya masing-masing adalah dengan menjulurkan tangan, bukan dengan menyedekapkan tangan. Kalau menyedekapkan tangan berarti ada beberapa potongan tulang yang tidak pada posisi alaminya.

Inilah dua pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan lebih afdhalnya menyedekapkan tangan, ada yang mengatakan lebih afdhalnya menjulurkan tangan. Wallahu ta’ala a’lam, ana melihat yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan menjulurkan tangan lebih afdal. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat beberapa kali dalam hidupnya. Dan shalat beliau dilihat oleh para sahabatnya. Dan tidak ada satupun riwayat yang shahih dari sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersedekap ketika i’tidal.

Berbeda dengan ketika berdiri sebelum ruku’. Ada banyak sekali riwayat yang khusus menjelaskan tentang sedekapnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu. Riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang sifat shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ada satu pun yang menjelaskan bahwa beliau pernah menyedekapkan tangannya ketika i’tidal. Di sisi lain banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa beliau menyedekapkan tangannya ketika berdiri sebelum ruku’. Makanya pendapat yang mengatakan bahwa lebih afdhalnya menjulurkan tangan ketika i’tidal itu lebih kuat.

Baca Juga:
Berlemah Lembut - Bab 217 - Hadits 466 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Adapun menyamakan i’tidal dengan berdiri sebelum ruku’, maka saya melihat ini kurang kuat. Karena nama rukunnya sudah berbeda. Yang satu namanya rukun berdiri, yang satu namanya rukun i’tidal. Maka perbedaan nama ini memberikan isyarat adanya perbedaan bentuk. Seperti juga adanya perbedaan rukun berdiri dengan rukun sujud. Namanya berbeda, maka mengisyaratkan bentuknya pun berbeda.

Wallahu ta’ala a’lam.. Ini adalah tarjih, dan tarjih tidak menafikan adanya perbedaan pendapat dikalangan para ulama.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Posisi Tangan Ketika I’tidal” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.