Masjid Al-Barkah

Tematik

Penjarakan Lisanmu

By  |  pukul 6:35 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 17 Oktober 2022 pukul 8:54 am

Tautan: https://rodja.id/3l2

Penjarakan Lisanmu adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 5 Rabi’ul Awwal 1444 H / 01 Oktober 2022 M.

Penjarakan Lisanmu

Sebuah pekerjaan yang sangat rumit, saking rumitnya Allah berjanji dengan janji yang luar biasa kepada orang yang bisa menguasai lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah kata-kata yang benar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70)

Ketika berkata-kata dengan lisan, ucapkan yang benar, ucapkan yang Allah ridhai, ucapkan yang Allah suka, ucapkan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala izinkan kita menggunakan lisan untuk mengucapkannya. Ini adalah perintah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kalau itu kita lakukan, Allah berjanji dalam ayat setelahnya:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ …

“Allah akan perbaiki untuk kalian amalan-amalan kalian…” (QS. Al-Ahzab[33]: 71)

Dengarkan baik-baik janji Allah manakala seorang muslim/muslimah menjalankan perintah Allah yang satu ini, menjaga lisannya dan tidak menggunakan lisan kecuali untuk hal yang dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka Allah akan perbaiki untuk kalian amal kalian.

Saudaraku, mana yang lebih kita harapkan, kita berjuang memperbaiki amal kita atau Allah yang memperbaiki amal kita? Mana yang lebih hebat? Tentu yang kedua. Kalau Allah sudah memperbaiki amal kita, maka ini sebuah kemuliaan yang luar biasa, keagungan yang sangat hebat, dan ini janji Allah kepada orang yang menjaga lisannya.

Baca Juga:
Hak-Hak Shalat - Bagian ke-1 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Ketika fadhilah dari sebuah amal itu sesuatu yang besar, itu menunjukkan amal itu bukan amal yang sepele/mudah. Dan semua kita tahu alangkah sulitnya menjaga lisan.

Seorang ulama bernama Yunus bin Ubaid, dari beliau Imam Ahmad banyak belajar akhlak dan adab, seorang ahli ilmu. Yunus bin Ubaid Rahimahullah berkata: “Engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang rajin shalat di malam hari, namun siang harinya melakukan hal yang diharamkan Allah. Dan engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang puasa di siang hari, namun malam harinya melakukan yang dimurkai dan tidak diridhai Allah. Namun engkau tidak akan saksikan orang yang menjaga lisannya, lalu engkau temukan amalannya berbeda dengan lisannya yang dia jaga itu.”

Artinya bahwa orang yang shalat malam tidak menjamin bahwa siangnya dia tidak melakukan yang diharamkan Allah. Orang yang puasa di siang hari tidak menjamin malam harinya dia melakukan hal yang dimurkai Allah Tabaraka wa Ta’ala. Namun orang yang sudah menjaga lisannya, engkau tidak akan temukan orang itu amalnya rusak. Ini adalah buah daripada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang memperbaiki untuk seorang hamba amalnya, fadhilah daripada seseorang yang menjaga lisannya.

Semua direkam

Terlalu banyak manusia hidup di zaman kita sekarang ini ketika berbicara, dia anggap ungkapan pembicaraannya itu setelah dia ucapkan hilang begitu saja di udara. Dan bukan begitu sebenarnya. Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an:

Baca Juga:
Penjelasan dan Anjuran Mengerjakan Shalat Witir

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu ucapan yang keluar dari lisan melainkan akan ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf[50]: 18)

Kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan yang tadi Allah katakan di dalam ayat yang tadi kita bacakan, hal yang harus kita lakukan adalah tidak pernah menganggap perkataan kita sesuatu yang akan hilang. Ini salah satu kaidah penting bagi orang yang serius ingin memperbaiki lisannya.

Ini yang terjadi di zaman kita sekarang. Orang berbicara dan hatinya tidak pernah merasakan bahwa pembicaraan itu direkam, pembicaraannya itu tertulis dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sehingga akhirnya ketika sifat itu hilang, yang terjadi adalah lisan digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah dan seolah-olah tidak ada penyesalan, seolah-olah tidak terjadi hal yang tidak baik, seolah-olah tidak terjadi dosa dan maksiat. Dan ini salah satu indikasi hati yang sudah mulai rusak.

Hati adalah raja

Kita tahu hati adalah raja anggota tubuh. Hati yang memerintahkan apapun kepada seluruh anggota badan. Ketika hati ingin melihat dia akan perintahkan mata, ketika hati ingin pergi ke sebuah tempat maka kaki melangkah mengikuti perintah hati. Hal yang sama dengan lisan. Lisan hanya juru bicara hati. Lisan mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan oleh hati manusia. Ketika hatimu ingin mengungkapkan kata, maka ia gunakan lisan untuk mengucapkan itu.

Baca Juga:
Hak Nasihat dan Adab Memberi Nasihat - Bagian ke-1 - Tabshiratul Anam (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Oleh karena itu lisan manusia adalah gambaran hatinya. Maka kita menilai manusia dengan apa yang diucapkan dengan lisannya. Ketika lisannya mengucapkan hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka kita akan menilah bahwa dia orang yang hatinya baik. Karena lisan yang keluar itu adalah ungkapan hatinya.

Sebaliknya, manakala kita melihat seseorang selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak diridhai Allah, dengan lisannya dia ucapkan hal-hal yang tidak dicintai Allah, dengan lisannya dia lakukan dosa-dosa lisan, kita pun bisa menilai bahwa orang ini hatinya tidak baik.

Lisan adalah juru bicara hati. Hati yang baik akan mengeluarkan kata-kata yang baik, hati yang kotor akan mengeluarkan kata-kata yang kotor. Tentu ilmu pasti ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita menilai orang dengan lisannya.

Kaidah penting tentang lisan

Di dalam agama kita ada beberapa kaidah penting yang berhubungan dengan lisan.

Pertama, lisan adalah nikmat besar dari Allah Tabaraka wa Ta’ala yang harus dijaga untuk menyempurnakan Islam. Kesempurnaan Islam seseorang akan dilihat salah satu di antaranya adalah dari lisannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang Shahih riwayat Bukhari dan Muslim:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang selamat muslim lainnya dari kejahatan lisannya dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:
Penetapan Nama dan Sifat Allah

Lihat kaidah penting dalam masalah ini, baik dan tidak baiknya Islam seseorang dilihat dari lisannya. Apakah lisannya tersebut lisan yang dia jaga dari mendzalimi orang lain dengan lisannya atau tidak? Ketika dia adalah orang yang menjaga lisannya daripada menyakiti orang lain, membicarakan orang lain dengan pembicaraan yang akan mengandung dosa, maka dia bukan muslim yang diinginkan Rasul kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi kalau dia adalah orang yang selalu perhatian kepada apa yang diucapkan dengan lisannya, dia memperhatikan apa yang keluar dari lisannya, dan dia memperhitungkan apa yang akan dia keluarkan dengan lisannya, maka ini adalah kesempurnaan Islam seorang muslim.

Dengarkan apa yang dikatakan Rasul kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau hendaklah diam.” (HR. Bukhari)

Lihat: Berkata Baik Atau Diam

Lihat, lisan adalah cerminan agama seorang manusia. Kalau dia benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, maka imannya akan mengekang lisannya dari berbuat maksiat kepada Allah sebagaimana mengekang anggota tubuh yang lainnya untuk berbuat maksiat kepada Allah. Sebagaimana imannya mengekang tangannya untuk mencuri, mendzalimi orang lain dengan cara memukul, mengambil harta orang lain, menulis kata-kata yang tidak diridhai Allah,  menghalangi kakinya untuk melangkah ke tempat-tempat maksiat, hal yang sama imannya akan menghalangi lisannya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak diridhai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca Juga:
Hak-Hak Muslim atas Muslim yang Lainnya - Bagian ke-1 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Maka masing-masing kita hendaklah memperhatikan diri bagaimana kita dengan lisan kita. Sekiranya kita dengan lisan kita adalah orang yang peduli dan perhatian terhadap lisan itu, semoga ini adalah bagian daripada apa yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.

Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Penjarakan Lisanmu” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.