Masjid Al-Barkah

Fiqih Pendidikan Anak

Bercengkerama Dengan Anak

By  |  pukul 2:18 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 12 Oktober 2022 pukul 8:42 am

Tautan: https://rodja.id/3ld

Bercengkerama Dengan Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.

Kajian Tentang Bercengkerama Dengan Anak

Bagaimana caranya orang tua bisa dekat dengan anaknya? Inilah salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para orang tua, kenapa anak lebih dekat dengan temannya? Kenapa kalau anak bertemu dengan saya seakan-akan ada jarak yang memisahkan? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul. Sehingga membutuhkan jawaban.

Ketahuilah para jamaah yang kami hormati, bahwa salah satu kunci sukses berinteraksi dengan orang lain (termasuk didalamnya interaksi orang tua dengan anak) adalah memahami tabiat. Orang tua agar sukses berinteraksi dengan anaknya, maka dia perlu mengerti apa tabiat dasar seorang anak. Ketika kita telah mengerti tabiat-tabianya, maka kita berusaha menyesuaikan pola dan cara kita ketika berinteraksi dengan mereka. Dan salah satu tabiat anak kecil adalah suka bermain.

Bisa jadi bermain itu adalah salah satu kebutuhan primer anak. Ketika orang tua tidak mengerti hal itu, bahwa memang umurnya adalah umur bermain, ini bisa berakibat fatal. Karena orang tua kemudian menghalangi anak dari kebutuhan gara-gara orang tua tidak mengerti tabiat tersebut. Akibatnya anak menjadi jenuh, bosan, mogok, dan bahkan malas belajar. Ini semua gara-gara kebutuhannya tidak terpenuhi.

Baca Juga:
Sebab-Sebab Yang Membantu Mengerjakan Shalat Tahajud - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Sebagian orang tua khawatir anaknya terpengaruh hal negatif ketika bermain dengan anak tetangga. Karena mungkin anak-anak tetangga kurang dididik dengan baik oleh orang tua mereka, berbicaranya kasar dan kemana-mana pegang HP. Maka jawabannya adalah bahwa saya tadi mengatakan “bermain”, saya tidak menyampaikan bermain dengan anak tetangga. Artinya yang namanya bermain itu tidak harus sama anak tetangga. Tapi bisa bermain dengan orang tuanya.

Apakah orang tua bermain dengan anak-anak itu melanggar aturan agama? Jawabnya tidak melanggar, bahkan itu tuntunan agama. Jadi yang saya maksud “bermain” di sini adalah orang tua yang melayani anaknya bermain. Entah itu dengan ayahnya, ibunya, kakaknya atau adiknya.

Manfaat orang tua bermain dengan anak

Selain menjalankan dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang juga kerap bermain dengan anak-anak, manfaat yang lain adalah akan terjalin kedekatan dan keakraban antara anak dengan orang tuanya. Inilah modal yang luar biasa untuk memudahkan masuknya nasihat/arahan/wejangan yang disampaikan oleh ayah dan ibu kepada sang anak.

Di antara cara agar kita dekat dengan anak adalah bermain. Kalau orang tua sudah bermain dengan anaknya, maka anak akan merasa dekat dengan orang tuanya. Kalau anak merasa dekat dengan orang tuanya, insyaAllah dia akan mau mendengar nasihat-nasihat orang tuanya, kemudian dia mau mengikuti nasihat tersebut dengan senang hati, bukan dengan keterpaksaan dan ketakutan.

Baca Juga:
Sunnah-Sunnah Dalam Berwudhu

Dalil landasan

Bermain dengan anak adalah aturan agama. Dalilnya adalah praktik panutan kita semua, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keseharian beliau. Haditsnya banyak. Di antaranya adalah hadits yang dituturkan oleh sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bernama Ya’la bin Murrah Radhiyallahu ‘Anhu.

خرَجْنا مع النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – ودُعِينا إلى طعام ، فإذا حُسَين يلعب في الطريق، فأسرع النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – أمام القوم ثم بسط يديه ، فجعل الغلام يفرُّ ههنا وههنا ، ويُضاحكه النبي – صلى الله عليه وسلم – حتى أخذه ، فجعل إحدى يديه في ذقنه ، والأخرى في رأسه ، ثم اعتنقه ، ثم قال النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – : ( حُسَين مني وأنا من حُسَين ، أحبَّ الله مَن أحب الحسن والحسين سبط من الأسباط )

“Pada suatu hari kami beserta dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk memenuhi undangan makan. Di tengah perjalanan mereka melihat Husain sedang bermain di jalan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buru-buru mendahului kami mengejar Husain dan membuka kedua tangannya (ingin menangkap Husain). Husain lari menghindar kesana-kemari, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan itu sambil bercanda sampai berhasil menangkap Husain. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan salah satu tangannya di dagunya Husain, dan tangan yang satunya di kepalanya Husain, kemudian dipeluk oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Husain adalah bagian dari jiwaku, dan Aku adalah bagian dari jiwanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai siapa yang mencintai Hasan dan Husein, karena keduanya adalah cucuku.'” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Baca Juga:
Buah dan Faidah dari Keimanan Bagian 3 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Menit ke-21:18 Kisah ini sangat menakjubkan dan perlu untuk direnungi kandungannya. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Bercengkerama Dengan Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.