Masjid Al-Barkah

Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu

Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian

By  |  pukul 2:02 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 20 Oktober 2022 pukul 9:14 am

Tautan: https://rodja.id/3lk

Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 17 Rabi’ul Awwal 1444 H / 13 Oktober 2022 M.

Kajian sebelumnya: Ilmu Adalah Jalan Keberkahan

Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian

Disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, dari Abdullah bin Dawud Rahimahumullahu Ta’ala, beliau berkata: “Ketika nanti pada hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjauhkan para ulama dari hisab (perhitungan amal), dan Allah berfirman kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga dengan amal apapun yang pernah kalian lakukan. Karena sesungguhnya Aku tidak menganugerahkan ilmu kepada kalian kecuali untuk kebaikan yang Aku kehendaki agar dilimpahkan kepada kalian.'”

Nukilan dari Imam Ibnu Abdil Bar ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu.

Kalau ada yang bertanya tentang bagaimana kaidah-kaidah syariah yang menyebutkan bahwa orang jahil itu justru lebih dimaafkan dibandingkan orang-orang yang berilmu, orang-orang yang tidak tahu justru lebih diampuni dibandingkan orang-orang yang berilmu? Karena argumentasi Allah terhadap orang yang berilmu tentu lebih tegak dibandingkan orang yang tidak tahu. Pengetahuan orang yang berilmu tentang buruknya perbuatan maksiat, kebencian dan hukuman Allah bagi pelakunya tentu lebih besar dibandingkan orang yang tidak tahu. Kemudian nikmat yang Allah berikan kepada orang yang berilmu tentu lebih besar dibandingkan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jahil. Semua pertimbangan ini harusnya orang berilmu yang harusnya dihukum.

Baca Juga:
Khutbah Idul Adha: Hikmah Qurban - Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Dalil-dalil menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan nikmat berupa dikhususkan dengan keutamaan dan kemuliaan kemudian dia menjerumuskan dirinya dengan mengikuti syahwatnya, memasukkan dirinya ke dalam tempat-tempat kebinasaan, dia lancang melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan dia meremehkan keburukan tersebut, dia akan mendapatkan balasan, siksaan dan celaan yang tentu itu berbeda dengan celaan yang didapati oleh orang yang tidak seperti nikmat yang didapatkannya. Ini juga alasan mereka bahwa harusnya orang yang berilmu justru mendapatkan siksa yang lebih keras. Tapi kenapa justru dijauhkan dari perhitungan amal?

Berdasarkan inilah kenapa dalam Al-Qur’an disebutkan tentang istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tentu mereka mendapatkan nikmat dan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ‎

“Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antara kalian yang melakukan perbuatan keji yang nyata, maka akan dilipat gandakan baginya adzab dengan dua kali lipat dibandingkan perempuan yang lain. Dan itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 30)

Oleh karena itu batasan hukuman yang diberlakukan bagi seorang yang merdeka (bukan budak) itu dua kali lipat dibandingkan batasan hukuman yang diberlakukan bagi seorang budak, baik itu dalam dosa zina, menuduh orang tanpa alasan yang benar, atau minum khamr. Hal ini karena seorang yang merdeka tentu mendapatkan le

Baca Juga:
Hukum Menyusui Anak - Surah Al-Baqarah 233

 

bih banyak nikmat dibandingkan budak.

Salah seorang ulama salaf berkata:

يُغفَرُ لِلجاهِلِ سَبعونَ ذَنباً قَبلَ أن يُغفَرَ لِلعالِمِ ذَنبٌ

“Orang yang bodoh itu akan diampuni 70 dosanya sebelum orang yang berilmu diampuni satu saja dosanya.”

Ulama salaf lainnya mengatakan:

إن الله يعافي الجهال مالا يعافي للعلماء

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pemaafan kepada orang jahil yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berikan pemaafan bagi orang yang berilmu.”

Mereka membawakan argumentasi ini adalah untuk mengkritisi pertanyaan kenapa orang yang berilmu justru dibebaskan dari perhitungan amal dan langsung masuk surga? Padahal harusnya karena berilmu dan mereka berbuat salah justru mendapatkan hukuman yang lebih keras dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu.

Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa semua yang disebutkan tadi itu adalah benar tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi juga termasuk kaidah-kaidah yang dibenarkan di dalam syariat dan yang sesuai dengan hikmah bahwa orang yang punya kebaikan yang banyak, memiliki jasa yang nyata di dalam Islam, maka akan mendapatkan keringanan yang tidak didapatkan oleh selainnya dan akan mendapatkan pemaafan yang tidak didapatkan pemaafan itu oleh selainnya.

Ketika seorang ulama melakukan perbuatan dosa. Karena bagaimanapun dia adalah manusia biasa yang tidak mungkin luput dari kesalahan. Tapi kita lihat bahwa dia seorang yang punya banyak kebaikan. Seorang ulama Ahlus Sunnah yang mendakwahkan agama dan bersabar dalam menyampaikan kebenaran; dari mulai dia menuntut ilmu, berusaha sungguh-sungguh meluangkan waktunya, setelah itu dia menyebarkan ilmu agama. Sementara yang lain sibuk dengan dunia tapi dia menyembuhkan diri menyebarkan petunjuk Allah dan RasulNya. Ketika dia berbuat kesalahan, maka karena jasa-jasa dan kebaikan-kebaikannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pembelaan yang lebih kepadanya dibandingkan selainnya.

Baca Juga:
Sikap Kita Terhadap Perselisihan Muawiyah dengan Para Sahabat

Di sini tentu saja bukan maksudnya adalah orang berilmu yang kemudian meremehkan dosa, berbuat maksiat dijadikan sebagai kebiasaannya, kemudian dia bangga dengan maksiatnya, bukan sama sekali. Tapi seorang yang mungkin pernah melakukan kesalahan/tergelincir, tentu ini akan mendapatkan perlakuan khusus atau pemaafan dari Allah, tidak seperti yang lainnya.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa perbuatan maksiat itu ibaratnya adalah kotoran atau najis, sedangkan air -disebutkan dalam hadits yang shahih- kalau dia telah mencapai 2 qullah, maka dia tidak akan dipengaruhi dengan kotoran atau najis padanya.

Ini adalah perumpamaan kalau kebaikan dari seseorang yang berilmu, menyebarkan agama dan membela sunnah demikian banyak, kalau ada perbuatan buruknya -bukan dengan meremehkan tentu saja- maka tidak akan mempengaruhi kemuliaannya dan akan mudah mendapatkan pemaafan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Yang Perlu Dilakukan Oleh Wanita Ketika Sedang Ihram - Bagian 3 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.