Masjid Al-Barkah

Riyadhus Shalihin

Keutamaan Mengajarkan Hadits

By  |  pukul 10:11 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 11 Januari 2023 pukul 8:42 am

Tautan: https://rodja.id/3ok

Keutamaan Mengajarkan Hadits adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 10 Jumadil Akhir 1444 H / 3 Januari 2023 M.

Kajian sebelumnya: Mengajarkan Ilmu Yang Bermanfaat

Keutamaan Mengajarkan Hadits

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِع مِنَّا شيئا، فَبَلَّغَهُ كما سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعَى مِن سَامِعٍ

“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seorang yang dia mendengar dari kami sesuatu kemudian menyampaikan apa yang didengar itu dari kami sebagaimana apa yang dia dengar. Banyak orang yang disampaikan sesuatu kepadanya lebih mampu memahami daripada orang yang mendengarkannya.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan ini hadits shahih)

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi orang-orang (terutama sahabat) yang mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari hadits-hadits beliau. Ini satu keutamaan bagi para sahabat dan ulama-ulama hadits yang mereka menerima hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mereka sampaikan kepada yang lainnya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan dalam hadits ini pula bahwa terkadang ada orang yang dia mendengar tentang hadits Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam kemudian disampaikan kepada orang lain. Yang mana orang lain ini bisa jadi lebih mampu memahami apa yang disampaikan tadi. Tentu keduanya mempunyai keutamaan. Karena intinya bahwa mereka menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Ghosob: Menguasai Hak Milik Orang Lain

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang bertingkat-tingkatnya pemahaman seseorang dalam memahami suatu nash (Al-Qur’anul Karim ataupun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Tentu ada perbedaan dalam kemampuan memahaminya. Tetapi ketika disampaikan, ini sudah satu poin mulia yang diperoleh oleh seorang yang menyampaikannya, meskipun orang yang disampaikannya itu lebih mampu memahami apa yang disampaikannya.

Hadits ini menganjurkan untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu itu kepada manusia. Yaitu agar orang yang berilmu itu menyampaikan ilmu kepada orang lain. Itulah di antara ilmu yang bermanfaat, dan itu salah dari amal-amal yang akan berkesinambungan. Jika seorang telah meninggal, maka amalnya ada yang berkelanjutan. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Maka orang yang mengajarkannya mendapatkan fadhilah berupa amal jariyah (yaitu amal yang mengalir pahalanya).

Maka dari itu mengajarkan ilmu adalah salah satu dari amalan-amalan yang mengalir pahalanya meskipun seorang telah wafat meninggalkan dunia ini. Namun semua itu tentu apabila seorang yang menyampaikannya dia ikhlaskan karena Allah Ta’ala. Karena keikhlasan ini sangat penting. Kita hidup ini hendaknya beribadah kepada Allah Ta’ala dengan selalu ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan senantiasa mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang kewajiban untuk menjaga dan memelihara ilmu. Supaya ilmu itu betul-betul dipelihara, jangan ditambahi, jangan dikurangi. Makanya Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyebutkan dalam hadits ini: “Dia menyampaikan apa yang didengarkan itu seperti apa yang dia dengarkan.” Dia tidak menambahi atau menguranginya. Ini menunjukkan pentingnya memelihara ilmu. Apalagi hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang didengar oleh para sahabat.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al Zalzalah dan Al 'Adiyat

Tentu apabila kita ingin ilmu itu terjaga, maka orang yang menyampaikan ilmu itu harus orang yang amanah. Dan disinilah pentingnya “amanah ilmiah” yang sering dijadikan sebagai istilah oleh para ulama. Ketika menyampaikan suatu sesuai dengan ilmunya. Karena tidak sedikit di antara manusia ada yang curang dalam menyampaikan ilmu. Mungkin ada yang disembunyikan atau ada yang tidak diberitahukannya. Maka ilmu agama yang diajarkan kepada manusia hendaknya sesuai dengan apa yang didengar (baik itu Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Keutamaan Mengajarkan Hadits” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.