Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal

By  |  pukul 10:07 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 05 April 2023 pukul 8:34 am

Tautan: https://rodja.id/3qz

Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jumat, 2 Ramadhan 1444 H / 24 Maret 2023 M.

Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal

Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan kepada kita kesempatan untuk bisa beribadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. Sungguh bulan Ramadhan adalah merupakan nikmat Allah yang besar kepada kita. Karena dengan adanya bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita banyak sekali kebaikan-kebaikan, berupa ampunan dari dosa, dan diangkatnya derajat-derajat kita.

Maka saudaraku.. Inilah bulan yang mulia. Kesempatan kita untuk memperbanyak beramal shalih dan menyelamatkan diri kita dari api neraka. Karena setiap kita berkewajiban untuk menyelamatkan dirinya dari api neraka dengan banyak beramal shalih, menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-larangan.

Namun saudaraku.. Amal ketaatan tidak akan sempurna kecuali dengan tiga perkara. Al-Imam Ibnu Qudamah menyebutkan itu dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin:

لا يتم المعروف إلا بثلاث ‏:‏ بتصغيره، وتعجيله، وستره

“Tidak sempurna amal kebaikan kecuali dengan tiga perkara; [pertama] tidak menganggap bahwa amal kita banyak, [kedua] segera melakukannya dan tidak menunda-nunda, [ketiga] menyembunyikannya/tidak memperlihatkan kepada manusia.”

1. Menyegerakan Amalan Shalih

Sesungguhnya itu yang diperintahkan oleh Allah. Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ …

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Rabb kalian…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 133)

Allah juga berfirman:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dalam perkara itulah hendaklah orang-orang yang berlomba-lomba itu berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 26)

Allah menyuruh kita bersegera kepada segala kebaikan. Ini menunjukkan bahwa ketika bersegera tentu kita tidak menunda-nunda sampai waktu esok ataupun kapan. Karena sesungguhnya sifat menunda-nunda bukanlah sifat seorang mukmin yang semangat di dalam beramal shalih.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jauhi oleh kalian sifat taswif (menunda-nunda). Karena engkau berada di hari ini, bukan di hari esok. Jika engkau bisa melakukan di hari ini besok pun engkau bisa melakukannya.”

Saudaraku seiman.. Sifat menunda-nunda bukanlah sifat orang yang semangat, akan tetapi ia adalah sifat pemalas. Orang yang senantiasa menunda hakikatnya ia tertipu oleh setan. Setan berusaha bagaimana supaya ia menunda-nunda amal shalihnya. Oleh karena itulah Abdullah bin Umar bin Khattab ketika membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah kamu di dunia seakan-akan kamu orang yang asing atau kamu sedang berada dalam perjalanan safar.”

Lalu Abdullah bin Umar berkata: “Kalau kamu berada di waktu pagi, jangan tunggu-tunggu waktu sore. Dan kalau kamu berada di waktu sore, jangan tunggu-tunggu waktu pagi. Ambil kesempatan sehatmu sebelum kamu sakit. Dan ambil kesempatan hidupmu sebelum kamu meninggal dunia.”

Maka saudaraku.. Kita berusaha setiap kali Allah berikan kepada kita kesempatan beramal shalih, jangan sampai kita tunda dan berkata “nanti dan nanti”.

Demi Allah, saudaraku.. Kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang. Maka ketika Allah berikan kepada kita sekarang di bulan Ramadhan ada kesempatan emas untuk menggugurkan dosa-dosa, maka kita gunakan sebaik-baiknya puasa Ramadhan ini dengan banyak beramal shalih, dengan membaca Al-Qur’an, dengan berusaha memanfaatkan waktu-waktu kita dalam perkara yang bermanfaat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Semangatlah dalam perkara yang bermanfaat untuk dirimu, dan mintalah tolong kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim)

2. Menyembunyikan amal

Kita tidak perlu memperlihatkannya kepada manusia. Karena hati kita lemah, saudaraku. Sementara keikhlasan itu bukan sesuatu yang mudah, tapi sesuatu yang sulit. Sufyan Ats-Tsauri berkata:

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي

“Tidaklah aku meluruskan sesuatu yang lebih berat daripada niatku sendiri.”

Oleh karena itu shalafush shalih berlomba-lomba untuk menyembunyikan amalan shalih mereka. Ini dia Imam Ahmad, beliau setiap tiga hari khatam Quran, tapi beliau tidak pernah memberitahu siapapun juga. Bahkan istrinya pun tidak tahu.

Ini dia Sufyan ats-Tsauri, beliau di waktu malam shalat tahajud. Kemudian ketika subuh telah masuk maka ia pura-pura bangun seakan-akan ingin memberitahu bahwasannya ia baru bangun saat itu. Dia tidak ingin memperlihatkan amal shalihnya kepada manusia. Tidak pula kita update status di facebook ataupun di media sosial tentang amalan shalih kita. Semakin kita sembunyikan semakin dekat kepada keikhlasannya, saudaraku. Tapi semakin kita perlihatkan semakin dekat kepada riya’. Dan siapa di antara kita yang bisa menjamin bahwa kita akan selamat dari riya’? Siapa di antara kita yang keimanannya seperti keimanan para Nabi dan keimanan para sahabat Rasulullah? Kalau para sahabat saja yang keimanannya luar biasa, tapi mereka tetap menyembunyikan amal-amal shalih mereka.

Maka saudaraku.. Dengan menyembunyikan amalan shalih, kita lebih ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita tidak mengharapkan pujian manusia, tidak mengharapkan pengakuan dari manusia. Kita tidak berharap sebutan manusia bahwa kita orang yang shalih, atau dipuji bahwa kita ahli ibadah. Semua itu kita tidak butuhkan. Yang kita butuhkan hanya pujian Allah saja. Kita tidak butuh kepada pujian manusia.

Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal

Di antara cerita tentang salafush shalih yang menyembunyikan amalnya, ada seorang yang sangat zuhud bernama Hatim Al-Asham. Terdengar kepada seorang khalifah bahwa dia seorang yang sangat zuhud dan ahli ibadah. Maka kemudian sang khalifah pun ingin berkunjung ke rumahnya melihat bagaimana kehidupannya. Ketika Hatim tahu khalifah datang, maka Hatim memperlihatkan seakan-akan ia orang yang serakah dalam makan. Maka ia memperlihatkan makan yang begitu sangat serakah di hadapan sang khalifah, sehingga sang khalifah merasa heran apakah seperti ini orang yang zuhud?

Subhanallah.. Saking mereka menyembunyikan amal shalih mereka, saudaraku.

3. Tidak menganggap banyak amal shalih kita

Kita tidak tahu berapa banyak amal shalih kita yang sudah diterima oleh Allah. Sebanyak apapun amal shalih kita, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan karunia Allah yang Allah berikan kepada kita.

Ketika kita merasa amal kita telah banyak, terkadang kita terkena penyakit ujub di hati kita. Ketika kita merasa bahwasanya amal shalih kita telah banyak, kita merasa telah sampai derajat yang tinggi, sehingga kemudian kita terkena penyakit ujub, dan ujub terhadap amal shalih membatalkan amal tersebut (kata para ulama).

Namun ketika kita menganggap amal kita sedikit, dan selalu kita mengingat kekurangan-kekurangan yang ada pada amal, selalu kita mengingat tentang dosa-dosa kita dan melupakan tentang amalan kebaikan kita, maka kita akan senantiasa menjadi hamba yang tawadhu, akan senantiasa menjadi hamba yang selamat dari ujub dan kesombongan, menjadi hamba yang senantiasa terus menambah kebaikan dan kebaikan.

Adapun kemudian kita sibuk melihat kelebihan diri kita, dan kemudian kita sibuk melihat kekurangan orang lain, disitulah sumber musibah yang akan menghancurkan amalan ibadah kita.

Download mp3 Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.