Masjid Al-Barkah

Fiqih Pendidikan Anak

Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak

By  |  pukul 4:34 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 12 April 2023 pukul 4:34 pm

Tautan: https://rodja.id/3r8

Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Ramadhan 1444 H / 10 April 2023 M.

Kajian Tentang Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak

Sebelum kita memasuki tema kajian ini, ada satu hal penting yang perlu kita pahami. Bahwa rahmat (ksaih sayang) Allah kepada manusia amat banyak sekali. Salah satu dari bentuk rahmat tersebut adalah anak-anak yang belum baligh. Yaitu anak yang belum mendapatkan kewajiban menjalankan perintah agama dan belum mendapatkan kewajiban untuk meninggalkan larangan agama.

Hal ini karena akalnya belum sempurna. Sedangkan salah satu syarat wajib menjalankan perintah agama atau wajib meninggalkan larangan agama adalah akalnya harus sempurna. Sempurnanya akal ditandai dengan baligh.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ؛ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ»

“Pena tidak mencatat perbuatan tiga jenis manusia; (1) Orang gila yang hilang akal, selama ia belum sembuh. (2) Orang tidur, selama ia belum bangun. (3) Anak kecil, selama ia belum baligh.” (HR. Abu Dawud)

Sehingga selama dia belum baligh, maka belum ditulis perbuatannya oleh malaikat. Ini adalah rahmat dari Allah.

Namun walaupun perbuatannya belum tertulis di buku catatan amal, bukan berarti anak kecil boleh diajari keburukan. Sebab orang yang mengajarinya itu akan terkena imbas dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Kedudukan Yang Tinggi Diraih Dengan Ilmu

«وَمَنْ سَقَاهُ صَغِيرًا لَا يَعْرِفُ حَلَالَهُ مِنْ حَرَامِهِ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ»

“Barangsiapa memberikan minuman keras kepada anak kecil yang belum mengetahui halal-haram, maka kelak ia akan diberi minum nanah penghuni neraka.” (HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh Ibn al-Qatthan serta al-Albaniy)

Jangan Mencontohkan Keburukan

Itulah bahaya mengajarkan secara langsung keburukan pada anak. Selain itu masih ada perilaku yang tidak kalah berbahayanya, yaitu mencontohkan keburukan. Yakni manakala para orang tua melakukan berbagai perbuatan buruk, lalu dicontoh oleh putra-putrinya.

Misalnya dalam hal akidah: sebagian orang tua masih percaya jimat dan ramalan, suka pergi ke dukun, sering ngalap berkah dari kuburan, dan yang semisal ini. Lalu ditiru oleh anaknya.

Dalam hal ibadah: sebagian orang tua sering telat menunaikan shalat lima waktu, bahkan kerap meninggalkan shalat. Di bulan Ramadhan terang-terangan tidak berpuasa, padahal ia mampu untuk menjalankannya. Sehingga anaknya pun mencontoh perilaku buruk itu.

Dalam hal akhlak: sebagian orang tua masih terbiasa ngomong kotor, sering menggunjing orang lain, memutus silaturahim, gemar merokok, suka menghabiskan waktu nonton sinetron dan kecanduan gadget. Akibatnya anak ikut-ikutan melakukan hal-hal negatif tadi.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan,

«مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»

Baca Juga:
Khutbah Jumat Singkat Tentang Realisasi Tauhid Dalam Kehidupan

“Barangsiapa dalam Islam mencontohkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala setiap orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa dalam Islam mencontohkan keburukan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa setiap orang yang melakukannya, tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim dari Jarir radhiyallahu ‘anhu)

Jadi, walaupun anak belum baligh, orang tua tetap bertanggungjawab untuk membiasakan kebaikan pada mereka, serta mencegah mereka dari perbuatan buruk. Namun tentunya pembiasaan itu dilakukan dengan cara yang baik, penjelasan yang mudah dicerna dan memuaskan. Bukan dengan kekasaran, apalagi caci maki. Karena penggunaan cara buruk bisa berakibat fatal. Gara-gara itu, mungkin anak malah menjadi antipati terhadap kebaikan. Na’udzubillah min dzalik…

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Baca Juga:
Kecupan Kasih Sayang - Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.