Masjid Al-Barkah

Riyadhus Shalihin

Adab Duduk di Majelis Ilmu

By  |  pukul 1:54 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 01 Agustus 2023 pukul 9:07 am

Tautan: https://rodja.id/3ra

Adab Duduk di Majelis Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Ramadhan 1444 H / 11 April 2023 M.

Kajian sebelumnya: Memperbanyak Dzikir Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

Adab Duduk di Majelis Ilmu

Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:

وعن أَبي واقدٍ الحارث بن عوف – رضي الله عنه: أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ في المَسْجِدِ، والنَّاسُ مَعَهُ، إذْ أَقْبَلَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رسُولِ اللهِ

Dari Abu Waqid Al-Harits bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika sedang duduk di masjid bersama para sahabat, tiba-tiba mucul tiga orang. Maka dua orang menuju kepada majelis Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedang yang satu pergi. Dua orang itu berdiri di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang satu melihat ada tempat kosong di mejelis itu, lalu dia langsung duduk di situ, adapun yang satunya lagi duduk di belakang majelis ilmu itu, sedangkan orang yang ketiga langsung pergi meninggalkan majelis.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan pelajarannya, maka beliau berkata: “Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang ini? Adapun salah seorang (yang sungguh-sungguh menempati tempat yang kosong), ia menempatkan dirinya kepada Allah, maka Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang satunya (yang duduk di belakang majelis), ia adalah orang yang malu, maka Allah pun malu terhadap orang ini. Sedangkan yang seorang yang ketiga (yang meninggalkan majelis), dia adalah orang yang berpaling, maka Allah pun juga berpaling darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Baca Juga:
Penjelasan Hadits Tentang Berwudhu

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana sifat orang-orang yang datang di majelis ilmu. Yang mana majelis ilmu itu adalah majelis yang mulia. Kita melihat dalam hadits ini beliau selalu memberikan pelajaran kepada para sahabat di masjid. Ini menunjukkan pentingnya kita memiliki sarana untuk mengajarkan ilmu. Apalagi masjid. Karena memang semenjak zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai hari ini kita melihat bahwa masjid-masjid kaum muslimin adalah tempatnya ilmu. Jadi menuntut ilmu di masjid bersama para ulama adalah suatu hal yang telah ada semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seterusnya sampai hari ini.

Yang perlu diambil dari hadits ini adalah tentang ilmu. Bahwa ilmu akan hidup kalau diajarkan dan kalau terus ada kegiatan belajar mengajar. Makanya dengan keberadaan para ulama dan keberadaan orang-orang yang menuntut ilmu, ini menjadikan ilmu Islam terus hidup.

Hadits ini jug menjelaskan tentang dianjurkannya untuk selalu menghadiri majelis-majelis ilmu yang kita belajar di majelis itu. Namun yang perlu diingatkan dalam masalah ini adalah tentang keikhlasan dalam menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu adalah ibadah. Oleh karena itu niat seorang yang akan menuntut ilmu harus betul-betul ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena kepentingan-kepentingan duniawi.

Seorang yang ikhlas dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu, maka insyaAllah ilmunya akan diberkahi oleh Allah Ta’ala. Tetapi kalau seseorang belajar atau mengajarkan ilmu bukan karena Allah, tetapi karena niat-niat yang selainnya, maka ilmunya tidak akan ada berkahnya. Oleh karena itu di sinilah pentingnya keikhlasan, baik dalam mengajarkan ataupun dalam belajar.

Baca Juga:
Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2 - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Adab Duduk di Majelis Ilmu

Menit ke-12:19 Dari kisah tiga orang yang datang di majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini kita melihat bahwa seorang kalau datang di satu majelis ilmu, hendaknya dia duduk sebisanya di majelis ilmu tersebut. Sebetulnya dia boleh untuk melangkahi manusia kalau memang ada tempat yang kosong. Tetapi dengan catatan tidak menyakiti/mengganggu mereka dan dengan adab yang baik. Maka itu InsyaAllah tidak mengapa. Sebagaimana perbuatan seorang yang diceritakan dalam hadits ini. Dimana dia melihat ada tempat yang kosong di majelis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka dia masuk dan menempati tempat yang kosong itu. Tentu di sini dia melangkahi beberapa sahabat yang duduk di majelis tersebut.

Kemudian orang kedua yang duduk di belakang. Ini menunjukkan bahwa seseorang kalau memang sudah tidak ada tempat lagi di majelis itu, maka sampai dimana dia duduk di tempat tersebut sehingga tidak mengganggu yang lainnya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Adab Duduk di Majelis Ilmu” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Serba-serbi Hadits Indah Pilihan - Bagian ke-9 - Hadits tentang Syafaat dan Keutamaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Pemimpin para Nabi - Bab 370 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. Dr. 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.