Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram

By  |  pukul 6:57 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 01 Agustus 2023 pukul 9:45 am

Tautan: https://rodja.id/3t1

Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 3 Muharram 1445 H / 21 Juli 2023 M.

Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram

Kita berada di bulan Muharram. Ia adalah merupakan bulan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa yang paling utama, maka beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini menamai bulan Muharram sebagai bulan Allah, itu menunjukkan akan agungnya bulan ini. Bahkan Al-Hasan Al-Basri menyebutkan bahwasanya ia adalah bulan haram yang paling agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bulan-bulan haram ada 4 bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, lalu Rajab. Ini adalah merupakan bulan-bulan haram, dimana perbuatan dosa menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari empat bulan haram ini ternyata yang paling agung adalah bulan Muharram, saudaraku.

Maka kewajiban kita dengan masuknya bulan Muharram ini, kita agungkan bulan ini dengan kita banyak bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperbanyak berpuasa. Karena sesungguhnya kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang saya sebutkan tadi, bahwasanya puasa sunnah yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Puasa yang dimaksud di sini yaitu puasa-puasa yang disunahkan kata para ulama. Seperti puasa senin kamis, puasa dawud, puasa tiga hari di tengah bulan, demikian pula puasa yang lainnya yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Nasihat Rasulullah Kepada Muadz bin Jabal

Di bulan Muharram ini pun kita mengingat bahwasanya umur kita semakin bertambah. Kita mengingat bahwasanya kita semakin dekat menuju ajal. Karena setiap manusia pasti telah ditentukan ajal dan kematiannya. Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Semakin bertambah tahun, semakin dekat ajal kita. Maka kewajiban kita mempersiapkan menuju kematian itu, saudaraku. Kita berusaha untuk memperkuat keimanan dan memperbanyak amalan. Jangan sampai kita menjadi hamba-hamba dunia yang hanya mencari dunia, yang hanya memikirkan kehidupan dunia belaka. Karena sesungguhnya الدنيا مزرعة الآخرة (kehidupan dunia tiada lain adalah ladang menuju kehidupan akhirat). Siapa yang menanam di hari ini, kelak esok ia akan memetik buahnya. Tapi siapa yang di hari ini ia melakukan kesia-siaan, lebih tertipu dengan kehidupan dunia dan gemerlapnya, lebih tertipu dengan kesenangan dunia, maka ia akan mendapatkan penyesalan. Dan penyesalan di hari kiamat sudah tidak ada manfaatnya.

Dengan datangnya bulan Muharram, semakin bertambah umur, maka seharusnya semakin bertambah amalan shalih kita, semakin sedikit amal maksiat, semakin kita dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin kita cerdas mencari kehidupan akhirat, bukan hanya cerdas mencari dunia. Berapa banyak orang yang ketika mencari dunia ia cerdas, ketika berbisnis ia cerdas, akan tetapi ketika mencari akhirat ia tidak cerdas, ia tidak berusaha berpikir dan menggunakan akal pikirannya “Bagaimana saya bisa mendapatkan kehidupan akhirat, sehingga bahagia di akhirat nanti.”

Baca Juga:
Pembangunan Masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Adapun kemudian ia hanya memikirkan kebahagiaan dunia, itu menunjukkan akan kurangnya iman dia kepada Allah dan kehidupan akhirat.

Saudaraku seiman.. Di bulan Muharram ini mari kita memperbanyak amalan shalih. Karena ia adalah Syahrullah (bulan Allah), dan itu menunjukkan keagungan bulan ini. Maka beramal shalih di bulan ini pun agung, saudaraku.

Kita memperbanyak puasa, memperbanyak shalat tahajjud, memperbanyak berbagai macam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menolong orang-orang yang susah, bersedekah kepada fakir miskin, membantu para janda dan orang-orang susah, sehingga kita mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun tentunya, saudarku.. Semua ini membutuhkan keimanan kepada Allah. Semua ini membutuhkan semangat yang kuat untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram

Di bulan Muharram ini ada sebuah hari, apabila kita berpuasa di hari tersebut akan digugurkan dosa-dosa kita setahun yang lalu. Ia adalah puasa Asyura’, puasa di tanggal 10 Muharram. Di hari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke kota Madinah, didapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa di hari tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada orang Yahudi: “Hari apa ini?” Mereka mengatakan: “Ini hari yang Allah selamatkan Bani Israil dari kejaran Firaun.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Melatih Diri Menahan Amarah

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Aku lebih berhak kepada Nabi Musa dari kalian.” (HR. Bukhari)

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh untuk berpuasa di hari ini. Tadinya puasa Asyura’ diwajibkan oleh Allah dan RasulNya, namun ketika Allah syariatkan bulan Ramadhan, Allah pun tidak wajibkan lagi puasa Asyura’. Namun Nabi menekankannya, saudaraku. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa berpuasa di hari Asyura’ itu bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu. Subhanallah..

Namun tentunya di sana ada adab yang harus kita perhatikan. Yaitu disunahkan kita berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya. Kata para ulama hal ini untuk menyelisihi ahli kitab, menyelisihi orang Yahudi. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkeinginan kalau masih ada waktu tahun depan, kata Rasulullah:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Maka kita hidupkan sunnah ini, kita berusaha semangat untuk mengamalkannya. Karena pahala akhirat demi Allah lebih baik daripada kehidupan dunia, saudaraku. Lebih baik daripada dunia dan seisinya, bagi orang-orang yang yakin.

Download mp3 Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Baca Juga:
Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.