Masjid Al-Barkah

Ta’zhimus Sunnah

Pengagungan Terhadap Sunnah

By  |  pukul 2:22 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 14 Agustus 2023 pukul 2:23 pm

Tautan: https://rodja.id/3to

Pengagungan Terhadap Sunnah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Ta’zhimus Sunnah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1444 H / 10 Juni 2023 M.

Kajian Tentang Pengagungan Terhadap Sunnah

Kita akan mengkaji kitab تعظيم السنة وموقف السلف ممن عارضها أو استهزأ بشيء منها (Pengagungan terhadap sunnah dan sikap para ulama Salaf terhadap orang yang menentangnya atau menghina sesuatu darinya). Buku ini ditulis oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As-Suhaibani Hafidzahullahu Ta’ala. Beliau pengajar di fakultas hadits Universitas Islam Madinah.

Penulis ingin menyampaikan sebuah pesan kepada kita bahwa tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

  1. Menjelaskan syariat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk manusia.
  2. Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari penyimpangan-penyimpangan dalam aqidah, ibadah, muamalah atau adab dan akhlak kepada jalan yang lurus yang ditunjuki oleh Al-Qur’an dan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  3. Menunjuki jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

Wajib Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Allah mewajibkan atas manusia ketaatan mutlak (tanpa alasan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ini yang dipraktekkan oleh para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum. Dan semestinya seorang Salafi seperti itu. Taat mutlak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tanpa bertanya mengapa, kenapa, apa hikmahnya, dan seterusnya.

Baca Juga:
Hak Mayit atas Orang yang Hidup - Bagian ke-2 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Bayangkan, para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum melepas sendal mereka saat melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam shalat, walaupun mereka mengenakan sendal. Mereka meletakkan sendal di samping kiri mereka. Kemudian, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Mengapa kalian tanggalkan sendal-sendal kalian?” Para sahabat menjawab dengan jawaban yang menunjukkan ketaatan mutlak, yaitu: “Kami melihat engkau melepas kedua sendalmu, maka kami pun melepaskan kedua sendal kami.”

Inilah ketaatan mutlak, tanpa alasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ…

“Dan taatilah oleh kalian seluruhnya Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 132)

Begitu juga dalam ayat yang lain:

… أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ…

“Taatilah oleh kalian seluruhnya Allah, dan taatilah oleh kalian seluruhnya Rasulullah, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa'[4]: 52)

Di Al-Qur’an ada sekitar 14 ayat yang menunjukkan taat kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ini perintah dari Allah. Dan asal hukum perintah menunjukkan kepada kewajiban.

Wajib Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Allah juga mewajibkan atas manusia mencintai, memuliakan, dan menghormati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 59 terdapat pelajaran wajibnya menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ketaatan yang mutlak (tanpa alasan). Kalau diperintah, maka kita taat. Meskipun tidak tahu apa maksud dan hikmah dari perintah tersebut. Kalau kita tahu maksud dan hikmah perintah, maka itu lebih menambah keyakinan. Tapi kalau tidak tahu, maka yang dituntut dari kita saat mendengar perintah adalah ketaatan yang mutlak. Itulah bukti kita bersyahadat أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

Baca Juga:
Sikap Al-Wala’ Wal Bara’ Bagian 2 - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Pengertian cinta

Ada hal yang menarik dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah dan disetujui oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa rasa cinta itu tidak bisa didefinisikan dan tidak bisa disebutkan pengertiannya. Karena cinta adalah perkara yang tumbuh di dalam qalbu sehingga sulit untuk mengungkapkannya.

Adapun rasa cinta secara istilah syariat, Imam Al-Qadhi Iyadh berkata: Rasa cinta kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara syariat adalah condongnya hati kepada yang dicintainya. Itulah rasa cinta.

Pengertian yang lebih komprehensif tentang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mendahulukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari apapun dan siapapun dari para makhluk di dunia ini.

Mengapa kita lebih mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan manusia seluruhnya? Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Pengagungan Terhadap Sunnah” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Baca Juga:
Bangga Kepada Islam

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.