Masjid Al-Barkah

Talbis Iblis

Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah

By  |  pukul 4:31 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 31 Agustus 2023 pukul 5:50 am

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=53259

Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.

Kajian Tentang Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah

Salah satu di antara talbis Iblis terhadap kaum sufi adalah mengambil sikap tidak menikah, atau menjalani kehidupan tanpa menikah, atau membujang, bahkan ada yang mengebiri diri.

Mungkin mereka melakukan ini dengan anggapan bahwa menikah itu dapat menyibukkan, melalaikan, dan memalingkan mereka dari ibadah. Mereka lupa bahwa menikah itu sendiri adalah ibadah.

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa menikah karena takut berbuat zina wajib hukumnya, sementara saat tidak takut berbuat zina maka hukumnya sunnah muakkadah, menurut pendapat mayoritas ahli fiqih. Sedangkan menurut mazhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal, saat dalam kondisi itu hukum menikah lebih baik daripada seluruh amalan nafilah. Alasannya karena menikah merupakan sebab seseorang mendapatkan keturunan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan di dalam hadits bahwa tujuan terpenting dari menikahi itu adalah mendapatkan keturunan.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kaum pria untuk mencari wanita yang subur. Tujuannya adalah agar bisa dipastikan dia memiliki keturunan. Walaupun anak itu adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi tentunya ada sebabnya. Kalau seorang wanita itu mandul, maka sebabnya hilang. Maka Nabi memerintahkan kita untuk memilih wanita yang subur. Bahkan Nabi melarang menikahi wanita yang mandul jika tujuannya untuk mencari keturunan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga-bangga dengan jumlah kalian di hari kiamat nanti di hadapan semua umat.” (HR. Bukhari)

Memiliki sifat penyayang, karena dia akan menjadi ibu dan merawat anak-anaknya. Sedangkan merawat dan mendidik anak itu perlu kasih sayang. Maka sifat ini disebutkan oleh Nabi sebagai yang pertama. Karena seorang wanita memiliki tugas lebih dari sekadar melahirkan anak saja –walaupun itu adalah kodrat wanita– tapi lebih dari itu, dia dituntut untuk bisa mendidik anak-anak tersebut.

Banyak wanita yang bisa punya anak, tapi wanita yang bisa mendidik anak itu lebih sedikit. Oleh karena itu, Nabi mewanti-wanti agar kita memilih wanita yang memang siap untuk mendidik anak, bukan hanya siap untuk melahirkan anak. Maka sifat yang paling penting untuk dimiliki oleh wanita adalah sifat penyayang.

Kemudian Nabi menyebutkan, “Wanita yang bisa melahirkan (bukan wanita yang mandul).” Maka ini salah satu tujuan mulia dan tujuan agung dari menikah, yaitu menghasilkan keturunan. Maka dia adalah ibadah yang sangat agung. Anehnya, kaum sufi menghindari menikah karena dianggap bisa mengganggu ibadah. Padahal, menikah itu sendiri adalah ibadah yang sangat agung.

Sa’ad bin Abi Waqqash mengutarakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menolak membujangnya Utsman bin Madz’un. Nabi tidak menerima keinginannya itu. “Jika Nabi mengizinkan, niscaya kami akan mengebiri diri sendiri,” tapi Nabi tidak mengizinkan itu.

Dari Anas bin Malik, sejumlah sahabat Nabi bertanya kepada Ummahatul Mukminin mengenai amalan Nabi saat sedang sendiri. Istri-istri Nabi memberitahukan. Kemudian salah seorang dari mereka bertekad, “Aku tidak akan makan daging selamanya (akan berpuasa terus menerus).” Yang lain mengatakan, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Yang lain lagi berkata, “Aku tidak mau tidur malam, aku akan shalat terus-menerus.”

Ketika mengetahui hal itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَابَالُ أَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنِّي أُصَلِّى وَأَنَامُ ,وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan ini dan itu? Akan tetapi, aku mengerjakan shalat dan juga tidur. Aku berpuasa dan berbuka. Dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, dia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyalahkan sikap mereka. Dimana salah satunya adalah sikap ingin membujang dan tidak menikahi wanita. Tujuan mereka melakukannya mungkin baik, yaitu agar bisa fokus dan meningkatkan ibadah. Tapi ini tidak sejalan dengan sunnah Nabi.

Demikian, Ahmad bin Hanbal Rahimahullah mengatakan bahwa membujang bukan merupakan ajaran Islam. Itu adalah ajaran Rohbaniyah yang diamalkan oleh umat-umat sebelum kita. Misalnya, umat Nasrani –para pemuka agama mereka membujang. Mereka menganggap bahwa menikah itu adalah sesuatu yang pantang atau tabu dilakukan oleh pemuka agama. Mereka seharusnya fokus pada ibadah kepada Tuhannya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.