Masjid Al-Barkah

Al-Fawaid

Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus

By  |  pukul 10:17 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 04 September 2023 pukul 10:17 am

Tautan: https://rodja.id/55k

Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 14 Safar 1445 H / 31 Agustus  2023 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus

Mengenal Allah ada dua macamnya:

Mengenal Allah Secara Fitrah

Yang pertama yaitu mengenal yang sifatnya sekedar menetapkan Allah adalah pencipta, sekedar mengakui rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta. Ini adalah pengenalan terhadap Allah yang semua manusia mengakuinya (baik yang taat maupun durhaka, baik yang shalih maupun tidak shalih, mukmin maupun kafir).

Ini yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ 

“Kalau kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan diri-diri mereka?’, mereka akan mengatakan: ‘Allah’…” (QS. Az-Zukhruf[43]: 87)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ

“Kalau kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’, mereka akan mengatakan: ‘Allah”…” (QS. Az-Zumar[39]: 38)

Sampai para ulama menjelaskan sewaktu Fira’un mengaku sebagai Tuhan, pengakuan ini bukan bersumber dari hatinya. Karena dalam hatinya dia mengakui tentang penciptaan dan pengaturan alam semesta ini hanya satu-satunya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an

Baca Juga:
Landasan Utama Dari Penghambaan Diri Kepada Allah

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ

“Mereka menolak (bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Kuasa melakukan pengaturan alam semesta) padahal jiwa-jiwa mereka meyakininya, ini karena kedzaliman dan kesombongan…” (QS. An-Naml[27]: 14)

Makanya pengetahuan yang ini belum cukup. Karena ini adalah fitrah dalam hati manusia. Dari sinilah para ulama menjelaskan bahwa ketika menafsirkan kalimat Laa Ilaaha Illallah yang benar maknanya adalah “Tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Kalau diartikan “Tidak ada Tuhan (pencipta/pengatur alam semesta/yang mematikan/menghidupkan/pemberi rezeki) selain Allah.” Ini meskipun benar secara asal maknanya, tetapi ini bukanlah makna Laa Ilaaha Illallah. Karena setelah kita menetapkan tidak ada pencipta/pelindung/pengatur/pemberi rezeki, harusnya mengandung konsekuensi setelah itu kita beribadah kepada Allah semata-mata, tidak menyembah/menggantungkan diri/bersandar/meminta dan semua ibadah lahir dan batin kecuali hanya kepada Allah.

Makna (Tidak ada Tuhan selain Allah) bukan berarti disalahkan dari segi maknanya, tapi tidak cukup hanya mengakui rububiyah Allah. Karena ini diakui oleh orang-orang musyrik, namun ternyata hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Yang mereka ingkari menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Ingat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an menyebutkan tentang orang-orang musyrik yang menolak dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Baca Juga:
Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas - Prinsip-Prinsip 'Aqidah Menurut Imam Ahmad

 إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ‎﴿٣٥﴾‏ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ ‎﴿٣٦﴾

“Mereka adalah orang-orang yang apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ucapkan Laa Ilaaha Illallah’, mereka menyombongkan diri dan mereka mengatakan: ‘Apakah kita harus meninggalkan sembahan kita karena penyair yang gila itu?'” (QS. As-Saffat[37]: 35-36)

Jadi yang mereka tolak adalah menjadikan sembahan dan menyerahkan ibadah kita lahir dan batin hanya satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Ini jenis mengenal yang pertama, dan ini belum mencukupi seorang untuk masuk Islam. Karena pengenalan terhadap Allah jenis ini diakui oleh orang yang shalih maupun durhaka, beriman maupun kafir.

Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus

Yang kedua, mengenal Allah yang melahirkan rasa malu kepadaNya, mencintaiNya, keterikatan hati denganNya, selalu rindu untuk berjumpa denganNya, selalu takut, selalu kembali, merasakan tenang ketika dekat denganNya, dan selalu berpaling dari makhluk untuk mendekatkan diri kepadaNya. Ini mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dituntut dalam Islam. Dan inilah yang mayoritas kandungan dan isi Al-Qur’an berisi ajakan kepadanya.

Inilah pengenalan kepada Allah yang menjadikan orang yang semakin mendalaminya maka semakin sempurna tauhidnya, semakin sempurna imannya, dan semakin sempurna penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah pengenalan Allah yang khusus dan inilah yang dimaksud ketika ada ucapan dari para ulama Salaf sebelum kita ketika membahas tentang “makrifatullah“.

Baca Juga:
Perbedaan Antara Tahrib (penyelewengan) dan Takwil

Dalam hal ini manusia bertingkat-tingkat. Karena hal ini sesuai dengan tingkatan iman, tingkatan tadabbur terhadap Al-Qur’an, tingkatan ilmu yang kita dapatkan, tentu dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya perbedaan tingkatan manusia dalam hal ini tidak ada yang bisa menghitungnya.

Contohnya dalam mencintai Allah, secara fitrah manusia akan mencintai Allah. Hal ini karena dia mengakui Allah yang menciptakan dia dari tidak ada menjadi ada, Allah yang menyempurnakan sebab-sebab kelangsungan hidupnya dalam urusan dunianya, Allah yang memberikan rezeki kepadanya. Inilah kenapa di dalam surah Al-Baqarah Allah menyebutkan bahwa orang musyrik pun mencintai Allah. Tapi apakah dengan kecintaan ini sudah menyelamatkan mereka dari kesyirikan? Jawabannya tidak. Karena mereka menjadikan kecintaan kepada Allah sama dengan kecintaan kepada selainNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ 

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan sekutu-sekutu yang disembah selain Allah yang mereka mencintai sekutu-sekutu itu seperti mencintai Allah…” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)

Pelaku syirik juga mencintai Allah Ta’ala. Maka kata Imam Ibnul Qayyim, “Berdasarkan ayat ini pelaku syirik juga mencintai Allah, tapi mereka tidak dikatakan sudah beriman. Karena mereka masih menyamakan kecintaan kepada Allah dengan kecintaan kepada berhala.”

Makanya Allah lanjutkan setelah itu:

 وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

Baca Juga:
Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia

“Dan orang-orang yang beriman sangat besar kecintaan mereka kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)

Inilah bedanya orang yang beriman dengan orang-orang yang berbuat syirik. Semakin mereka mengenal Allah, semakin mengenal kesempurnaan sifat-sifat Allah, maka kecintaan mereka kepada Allah semakin besar pula melebihi kecintaan kepada yang lain. Dan dengan sebab ini mereka disebut sebagai orang yang beriman.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.