Masjid Al-Barkah

Talbis Iblis

Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri

By  |  pukul 6:24 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 09 November 2023 pukul 9:09 am

Tautan: https://rodja.id/57q

Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1445 H / 30 Oktober 2023 M.

Kajian Tentang Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri

Ada kisah-kisah yang disebukan oleh kaum sufi, dicantumkan, dibacakan di dalam majelis mereka, dan ditulis dalam buku-buku mereka. Mereka ingin menceritakan kehebatan tokoh-tokoh mereka yang tidak melakukan ikhtiar dan menyandarkan keimanan mereka kepada Allah, yaitu tawakal.

Mereka mengklaim bahwa telah bertawakal dan tidak perlu melakukan usaha, karena hati mereka bersandar kepada Allah. Ini adalah klaim mereka. Dan untuk menegaskan hal itu, mereka menceritakan beberapa kisah. Sebelumnya, kita sudah membahas kisah seorang yang jatuh ke dalam sumur, lalu ddia tidak meminta pertolongan kepada siapapun, bahkan ketika sumur itu ditutup.

Lihat: Kejanggalan Kisah Abu Hamzah yang Masuk Sumur

Kisah selanjutnya yang mereka bawakan adalah dari Muammal bin Al-Mughabi, dia bercerita: “Aku biasa mendampingi Muhammad bin Assamin. Pada suatu hari aku pergi di wilayah antara Tikrit dan Maushil, wilayah di Iraq. Saat berjalan di tengah gurun pasir, tiba-tiba ada binatang buas yang mengaum di dekat kami. Aku merasa takut, wajahku pucat, dan ketakutan itu jelas terlihat.”

Baca Juga:
Muqaddimah Syarah Aqidah Thahawiyah

Tentunya takut melihat binatang buas mengaum adalah reaksi alamiah, seperti ketakutan kita jika berhadapan dengan binatang buas, misalnya harimau.

“Aku pun berusaha untuk melarikan diri, tetapi Muhammad bin Assamin menahanku dan berkata dengan tegas, ‘Wahai Muammal, tawakal adalah hakikatnya sekarang, bukan di masjid.” Maksudnya adalah dia mengatakan jangan lari, tetap di sini. Kalau betul-betul ingin menunjukkan tawakal, lakukan itu di sini, bukan teori di masjid.

Ini salah satu di antara banyak kisah yang menjelaskan bahwa mereka menolak untuk mengambil sebab dan berusaha, serta mengklaim bahwa usaha itu menafikan tawakal. Padahal siapa yang tidak takut pada binatang buas? Secara tabiat, manusia takut pada hal yang membahayakan dirinya dan berusaha untuk menghindarinya. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Menghindarlah dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari seekor singa.” (HR. Bukhari)

Artinya wajar kalau seseorang takut binatang buas dan lari. Tapi dalam kisah ini justru seorang tokoh sufi melarang teman perjalanannya untuk lari, jika benar-benar tawakal.

Kisah-kisah seperti ini bisa mengelirukan orang yang jahil, lalu menirunya. Ketika dia berhadapan dengan binatang buas, dia mungkin mengatakan, ‘Wah, saya bertawakal.’ Lalu dia diterkam binatang buas itu, tentu saja ini merugikannya. Dia kehilangan nyawa karena mungkin terinspirasi dengan kisah-kisah seperti ini. Padahal, kisah seperti ini belum tentu jelas kebenarannya.

Baca Juga:
Hukum Beristi'adzah dengan Selain Allah Subhanahu wa Ta'ala

Jadi, kisah-kisah seperti ini menafikan apa yang dilakukan oleh para Salaf. Nabi menghindari hal-hal yang membahayakan, bukan menantang bahaya. Allah mengatakan:

… وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ…

“Jangan kamu lemparkan dirimu kepada kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Juga Allah berfirman:

 وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ

“Jangan kamu binasakan dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa'[4]: 29)

Jadi, kita tidak boleh membahayakan diri kita sendiri. Maka kita harus mencari cara untuk menyelamatkan diri, bukan membiarkan diri kita dalam bahaya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh memudaratkan diri sendiri dengan sengaja menantang bahaya.

Lihat: Hadits Arbain 32 – Tidak Boleh Ada Bahaya dan Membahayakan

Jadi, kisah-kisah seperti ini berbahaya bagi orang-orang yang tidak paham. Kemudian, jika dia jadikan sebagai inspirasi atau pedoman dalam hidupnya, dia bisa mendapatkan bahaya besar ketika tidak berusaha untuk menghindari hal-hal yang membahayakan dirinya dengan klaim tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Jauzi mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa pengaruh tawakal akan nampak pada hamba yang bersikap tawakal di saat menghadapi kesulitan. Memang tawakal itu lebih ditekankan pada saat orang itu mendapatkan kesulitan. Dan dia perlu menyandarkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, tawakal itu bukan berarti harus menyerahkan diri atau melemparkan diri kepada bahaya, mencari-cari masalah, atau bahkan mencari mati, seperti menyerahkan diri kepada hewan buas. Bahkan, kata beliau, ini tidak boleh dilakukan. Kalau dia tahu itu bahaya, dia harus menghindarinya, bukan menantang bahaya. Di dalam Islam, kita juga dilarang mencari musuh atau berharap bertemu musuh. Tapi jika bertemu musuh, jangan lari.

Baca Juga:
Hak-Hak Hari Jum'at (Bagian ke-2) - Tabshiratul Anam (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.