Masjid Al-Barkah

Al-Fawaid

Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan

By  |  pukul 9:44 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 04 Desember 2023 pukul 10:22 am

Tautan: https://rodja.id/58x

Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 17 Jumadal Ula1445 H / 30 November 2023 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan

Kita masih melanjutkan pembahasan tentang makna doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta kepada Allah menghilangkan segala kegundahan dan kegelisahan di hati agar berganti dengan kelapangan, ketenangan, dan kegembiraan.

Di dalam doa ini terkandung makna penghambaan diri yang sangat dalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita, untuk mengucapkan lafadz dalam doa ini yang kita praktikkan secara nyata dalam kehidupan dan kita hadirkan secara nyata di dalam hati agar benar-benar menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati. Dan itulah keberuntungan yang besar bagi seorang hamba dunia dan akhirat.

Ketika menjelaskan tentang makna lafadz kalimat-kalimat dalam doa ini, Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Ketika kita mencermati makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam doa ini yang beliau ajarkan ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, putra dari hamba laki-lakiMu dan hamba perempuanMu.”

Baca Juga:
Yang Perlu Dilakukan Oleh Wanita Ketika Sedang Ihram - Bagian 4 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Pada lafadz ini mengandung makna berkomitmen/berpegang teguh dalam menghambakan diri kepada Allah, dengan menunjukkan rasa hina di hadapaNya, ketundukan, selalu kembali kepadaNya, melaksanakan perintah dari Tuhan kita, terus-menerus menunjukkan rasa butuh kepadaNya, bersandar kepadaNya, memohon pertolongan kepadaNya, bertawakal, berserah diri kepadaNya, berlindung kepada Allah, selalu menyandarkan diri kepadaNya, dan tidak menggantungkan hati kita kepada selainNya, baik dalam mencintai, takut, dan berharap.

Kalimat ini mengandung makna penghambaan diri yang sempurna. Dan kita tahu, seorang hamba jika semakin dia menyempurnakan sifat-sifat ini pada dirinya, maka semakin tinggi kedudukannya, semakin mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah jawaban kenapa di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memuji Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan gelar yang tertinggi, Allah sebutkan beliau sebagai hamba Allah.

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا 

“Dan bahwasanya, ketika hamba Allah (yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) berdiri untuk berdoa kepada Allah, hampir-hampir jin-jin itu berkerumun mengelilingi beliau, desak-desakan.” (QS. Al-Jinn[72]: 19)

Disebut sebagai hamba Allah, artinya menyempurnakan penghambaan dirinya. Selalu tunduk, merendahkan diri, selalu merasa butuh kepada Allah, selalu bersandar, selalu bertawakal, tidak mengantungkan diri kepada selainNya. Semakin kita sempurnakan berarti hamba ini benar-benar menyempurnakan kedudukan yang tertinggi bagi sebagai seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Talbis Iblis Terhadap Para Pemimpin dan Penguasa

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan: “Semakin sempurna sifat-sifat ini pada diri seorang hamba, maka semakin tinggi dan mulia kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Di dalam doa ini juga mengandung pengertian bahwa aku adalah hambaMu Ya Allah dalam semua segi, baik ketika saya kecil maupun sudah besar, ketika saya masih hidup dan ketika saya sudah meninggal dunia, ketika saya taat kepadaMu maupun ketika saya durhaka. Ketika saya dijauhkan dari cobaanMu dan ketika saya ditimpa cobaan. Pada ruhku, pada hatiku, ucapan lisanku, dan perbuatan anggota badanku.

Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan ucapan ini di awal, sebelum kita meminta permohonan kepada Allah? Ternyata ini termasuk bentuk tawasul (mencari sebab) agar doa dikabulkan. Dan ini juga termasuk sebaik-baik tawakal, karena kita menunjukkan kekurangan diri kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ingat bahwa di antara doa Nabi Yunus ‘Alaihish Shalatu was Salam yang diajarkan di dalam Al-Qur’an:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau Ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Anbiya[21]: 87)

Ini termasuk doa yang dijanjikan pengabulan oleh Allah ketika seseorang berdoa dengannya. Di sini ada sikap merendahkan diri. Mengakui kesalahan, kerendahan, dan kekurangan diri.

Baca Juga:
Aqidah Shahihah Sumber Berbagai Macam Anugerah

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.