Masjid Al-Barkah

Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah

Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim

By  |  pukul 6:44 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 14 Desember 2023 pukul 6:48 am

Tautan: https://rodja.id/59b

Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Jumadal Ula 1445 H / 12 Desember 2023 M.

Sebelumnya: Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan

Kajian Tentang Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim

Syaikhul Islam ditanya tentang kitab terbaik yang bisa diambil oleh seorang Muslim untuk menjadi buku agama pertama yang dia pelajari setelah Al-Qur’an. Maka, menjawab pertanyaan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan bahwa kitab yang bisa dijadikan sandaran dalam menuntut ilmu adalah bab yang luas. Jawabannya juga bisa berbeda dari satu orang ke orang yang lain, tergantung pada perbedaan negara tempat mereka tumbuh. Karena di sebagian negara, orang bisa dengan mudah mendapatkan salah satu ilmu, tapi tidak mudah mendapatkan ilmu yang lain. Atau juga karena ada perbedaan metode mencari ilmu dari satu negara ke negara yang lain. Kemudian, juga ada perbedaan madzhab yang umum dipakai di suatu negara, dimana tidak umum dipakai di negara lain. Jadi, ini semuanya berpengaruh kepada jawaban untuk kitab apa yang bisa dijadikan pegangan bagi seorang Muslim.

Kenapa beliau mengatakan bahwa jawabannya bisa berbeda dari perbedaan negara tempat seseorang tumbuh? Karena ada ilmu yang berkembang di suatu negara, dibandingkan dengan negara yang lain. Misalnya pada masa lalu, negeri Hijaz (Mekah dan Madinah) dikenal sangat kuat dalam tradisi ilmu hadits. Maka, hadits-hadits mudah dijumpai, banyak diriwayatkan di kota-kota dan desa di Hijaz, yakni di seputar Laut Merah. Ini merupakan potongan Jazirah Arab yang paling dekat dengan Kota Mekah dan Madinah, dimana wahyu paling banyak turun di antara keduanya.

Baca Juga:
Cara Kerja Otak Manusia

Sementara di Irak, hadits dan ilmu hadits relatif lebih sulit untuk dicari. Maka di sana, para ulamanya lebih kuat dari sisi logika atau qiyas. Hal ini karena dahulu mereka tidak mudah mendapatkan hadits-hadits. Maka dalam sebagian pembahasan fikih, mereka terpaksa memakai qiyas atau logika, karena tidak menemui hadits dengan mudah di sana.

Demikian juga dengan perbedaan cara untuk bisa mendapatkan ilmu atau perbedaan metode yang biasa dipakai oleh umat Islam dalam menuntut ilmu. Misalnya, di negeri kita sekarang dengan mudah mendapatkan pondok pesantren. Sementara model pondok pesantren bukanlah model yang populer dan umum di negara seperti Saudi Arabia. Di sana, para penuntut ilmu biasanya mencukupkan diri dengan sekolah. Kemudian, di sore atau malam hari, ditambah dengan halaqoh tahfidzul qur’an di masjid-masjid yang menjamur di seluruh penjuru negeri. Maka, jarang sekali ada orang yang tinggal di sekolah berasrama. Kecuali kalau sudah menginjak level perguruan tinggi, baru mereka biasa safar untuk menuntut ilmu dengan ngekos (berasrama) di kota-kota besar dimana banyak kampus-kampus yang menyediakan pendidikan yang lebih tinggi. Tapi di level SMP atau SMA sangat jarang ditemui ada pondok pesantren di sana. Ini juga bisa berpengaruh kepada kitab apa yang dianjurkan untuk dipelajari.

Kemudian, juga di negeri kita, Alhamdulillah ada kemudahan-kemudahan mendapatkan tempat untuk belajar. Sementara di sebagian negeri umat Islam kita juga mengenal ada perbedaan. Misalnya, di negeri kita, umat Islam banyak belajar membaca Al-Qur’an dengan metode yang ditemukan oleh para ulama.

Baca Juga:
Tafsir Ali Imran Ayat 77 - Ancaman Bagi Orang Yang Memperjualbelikan Janji dan Sumpah

Di Indonesia, misalnya, metode iqra’ atau yang semacamnya. Sementara di negara-negara arab yang lebih populer adalah metode القاعدة النورانية yang dulu kita kenal dengan metode turutan dimana ini ada pada dekade yang lalu, dimana saat ini barangkali kalah populer dengan iqra’.

Meminta Pertolongan Allah

Sebelum menjawab apa kitab terbaik ini, beliau jelaskan dulu beberapa hal penting seputar menuntut ilmu. Beliau mengatakan bahwasanya pokok kebaikan adalah kalau seorang penuntut ilmu itu meminta tolong kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam mempelajari ilmu yang diwariskan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jadi, jangan lupa, seorang penuntut ilmu, apapun kitab dan madzhabnya, dia harus memulai thalabul ilmi dengan meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seperti yang sering kita ikrarkan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepadaMu Ya Allah kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)

Kita butuh untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu, khususnya dalam menuntut ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena inilah ilmu yang terbaik.

Beliau menjelaskan, ilmu inilah yang berhak untuk disebut sebagai ilmu. Jadi, ilmu terbaik, ilmu yang paling layak untuk disebut dan digelari dengan ilmu, adalah ilmu agama yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Adapun yang lainnya, bisa jadi layak untuk disebut sebagai ilmu, tapi tidak bermanfaat, atau tidak layak untuk disebut sebagai ilmu, meskipun orang-orang menyebutnya sebagai ilmu. Dan kalau dia layak disebut ilmu, kemudian juga bermanfaat, maka ada dalam ilmu yang diwariskan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuatu yang membuat kita cukup dari ilmu itu, dan berarti mempelajari ilmu agama yang diwariskan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu lebih baik daripada ilmu ini.

Baca Juga:
Khutbah Jumat: Persaudaraan Kaum Muslimin Diikat Oleh Keimanan

Jadi, beliau menjelaskan bahwasanya kita hendaknya mengejar dan menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat itu menurut para ulama, ada dua. Yang pertama adalah ilmu yang dibawa oleh Al-Qur’an dan Sunnah, yakni ilmu agama. Ini jelas ilmu yang bermanfaat, diwariskan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ini adalah ilmu yang paling utama. Bahkan ilmu agama ini memiliki hukum khusus, yaitu tidak boleh dicari dan dituntut kecuali hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak boleh menuntutnya untuk mencari dunia. Karena dia adalah ilmu yang istimewa. Kalau ilmu duniawi maka boleh dicari dan dipelajari dengan niat untuk mendapatkan dunia. Tapi ilmu agama ini, karena keistimewaadan dan kemuliaannya, maka dia tidak boleh dicari dan dituntut untuk mencari kenikmatan dunia.

Kemudian yang kedua adalah ilmu yang tidak dibawa oleh Al-Qur’an dan Sunnah, tapi ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Yakni, Al-Qur’an dan Sunnah mengajari kita untuk mempelajari ilmu ini. Dan yang dimaksud adalah ilmu duniawi yang bermanfaat.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim” ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum.

Baca Juga:
Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.