Masjid Al-Barkah

Talbis Iblis

Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat

By  |  pukul 8:05 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 19 Desember 2023 pukul 8:55 am

Tautan: https://rodja.id/59f

Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Jumadal Akhir 1445 H / 18 Desember 2023 M.

Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat

Kaum Sufi membedakan antara syariat dan hakikat. Ada yang mereka sebut sebagai ilmu syariat, ada juga yang mereka sebut sebagai ilmu hakikat. Tentunya hakikat ini derajatnya lebih tinggi daripada syariat dalam pandangan mereka.

Ibnul Jauzi mengatakan: “Ini adalah satu kejahilan dari orang yang mengucapkannya, karena syariat itu sepenuhnya adalah hakikat.” Namun, yang dimaksud oleh kaum Sufi dengan syariat adalah ilmu zahir, yaitu sesuatu yang tertulis dan termaktub secara tekstual dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Adapun hakikat adalah sesuatu yang tersembunyi, tidak tampak, dan tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini hanya bisa diketahui melalui proses-proses pensucian jiwa, karena mereka menganut paham bertakwa dulu baru berilmu. Mereka mengejar tingkat ketakwaan yang menurut mereka tingi lalu secara otomatis ilmu akan datang.

Ini adalah sesuatu yang keliru. Karena syariat merupakan inti dari agama, bahkan itulah hakikat agama, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi bahwa syariat itu sepenuhnya hakikat.

Abul Hasan bin Salim menjelaskan riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa para ulama, bahkan pendahulu kaum Sufi, mereka juga mengedepankan ilmu syariat. Mereka bahkan mengingkari kaum Sufi yang datang belakangan yang berpaling dari zahir, yaitu perkara lahiriyah atau ilmu syariat.

Abul Hasan bin Salim mengatakan: “Seseorang menemui Sahl bin Abdillah dengan membawa tinta dan buku. Dia berkata: ‘Aku datang untuk mencatat ilmu. Semoga Allah memberiku manfaat melalui usaha ini.’ Maka Sahl bin Abdillah menjawab: ‘Tulislah, jika kamu bisa bertemu Allah dengan membawa tinta dan buku, lakukanlah.'”

Abul Hasan bin Salim memerintahkan orang itu untuk menulis dan mencatat ilmu-ilmu syariat. Dia berpesan agar kalau bisa bertemu dengan Allah dalam keadaan masih tetap menuntut ilmu, maka lakukanlah. Artinya, tetaplah kamu menuntut ilmu sampai bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah, dalam pandangan ulama-ulama terdahulu, bahkan sampai ulama-ulama Sufi generasi pertama, mereka juga mengedepankan ilmu syariat sebagai sesuatu yang penting yang merupakan pondasi agama.

Ada seseorang bertanya: “Wahai Abu Muhammad, ajarkan aku sesuatu yang bermanfaat.” Maka Sahl bin Abdillah menjawab: “Dunia itu seluruhnya kejahilan kecuali ilmu, dan ilmu itu seluruhnya hujjah (tuntutan) kecuali yang diamalkan. Amalan itu seluruhnya tertolak kecuali yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan Sunnah itu harus berdasarkan ketakwaan.”

Jadi, semua urusan agama itu penting; tazkiyatun nufus penting, membersihkan diri supaya meraih derajat takwa itu penting. Menuntut ilmu juga penting. Maka tidak boleh kita meremehkan satu sisi, dan terfokus hanya pada satu sisi yang lainnya. Karena seluruh perkara agama itu saling terkait satu sama lain. Maka tidak ada hal yang tidak penting dalam agama. Ada perkara ushuluddin, ibadah, akhlak, dan semuanya penting. Setan memang menggelincirkan manusia dari sisi yang dia lemah. Mungkin karena ketidakmampuannya dia menganggap itu tidak penting. Misalnya, orang yang mengabaikan sisi tazkiyatun nufus, lalu dia menganggap itu tidak penting. Maka setan akan menyesatkannya dan menghancurkannya dari pintu itu, karena dia sudah meremehkannya.

Walaupun kita akui bahwa di dalam agama ini ada prioritas-prioritas yang lebih utama, tentunya tidak sama derajat ilmu tauhid dengan ilmu yang lain. Tapi kita tidak boleh mengabaikan ilmu yang lain karena hanya terfokus pada tauhid saja. Ini yang dikhawatirkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menjelaskan tentang keutamaan Laa ilaaha illallah. Nabi berkata kepada Muadz untuk tidak menyampaikannya dulu kepada manusia supaya manusia tidak salah memahaminya hingga mereka mengabaikan satu sisi dan hanya fokus kepada sisi yang lain. Setan memang menggelincirkan manusia dari sisi yang manusia itu menganggap remeh, enteng, dan rendah perkara itu. Maka kita tidak boleh memandang rendah atau menyepelekan perkara-perkara agama, walaupun kita tahu ada skala prioritas di dalam agama.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.