Masjid Al-Barkah

Riyadhus Shalihin

Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan

By  |  pukul 3:15 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 15 Januari 2024 pukul 9:18 pm

Tautan: https://rodja.id/5a1

Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 27 Jumadal Akhir 1445 H / 09 Januari 2024 M.

Kajian sebelumnya: Haramnya Mengarang Mimpi

Kajian Tentang Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan

Kata Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala باب الحثّ عَلَى التثبت فيما يقوله ويحكيه (Bab anjuran agar seseorang mengcross-check berita atau perkataan yang diucapkannya atau yang diceritakan kepada orang lain).

Seseorang wajib memeriksa apakah sebuah berita benar atau tidak. Misalnya, seseorang mendapat berita melalui medsos atau yang lainnya. Kemudian, berita itu tidak jelas akan kebenarannya. Kita diperintahkan oleh agama Allah untuk cross-check berita itu sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Ini sangat penting, apalagi kita hidup di era medsos yang mencakup hampir seluruh kalangan manusia. Medsos ini menyebabkan apa yang kita dengar terkadang ada yang benar, ada yang tidak benar. Dan terkadang hanya melalaikan kita dari mengingat Allah dan membuang-buang waktu dan umur.

Oleh karena itu, sudah seyogianya kita lebih selektif dalam menerima informasi, karena di medsos itu kebanyakan orang-orang yang kita tidak kenal. Kita hanya mengetahui sebagian dari mereka. Demikian pula, (kita juga tidak mengetahui) apa motivasi mereka dalam mengirim berita. Oleh karena itu, mari kita betul-betul selektif, betul-betul kita cross-check apabila ada informasi atau berita yang kita ragu terhadap berita tersebut atau kita mendapatkan dari orang yang tidak kita kenal atau yang lainnya. Agama kita telah mengatur semuanya karena apa yang diucapkan dan disampaikan kepada orang lain akan menjadi pertanggungjawaban kita.

Baca Juga:
Muqaddimah Syarah Aqidah Thahawiyah

Ini telah disebutkan oleh Al-Qur’anul Karim, di antaranya firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat yang ke-36. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan jangan kamu berbicara sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati ini akan ditanya oleh Allah Taala.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)

Hendaknya kita berbicara apa yang kita ketahui, yang kita mempunyai ilmu tentangnya. Adapun yang kita tidak mempunyai ilmu tentangnya, jangan berbicara, karena semua akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat kelak. Itu latar belakangnya mengapa kita dilarang berbicara tanpa ilmu, dilarang menyampaikan informasi tanpa ada kepastian akan kebenaran informasi yang kita sampaikan kepada orang lain.

Ini telah diingatkan oleh Al-Qur’anul Karim sebelum ada peringatan-peringatan tentang hoax, yang itu menjadi Peraturan Pemerintah. Makanya benar, Islam ini adalah agama untuk semua kalangan, siapapun manusia, dan dimanapun dia, serta kapanpun, Islam tetap relevan dengan zaman, karena Islam adalah agama terakhir yang Allah turunkan kepada RasulNya yang terakhir, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian, juga Allah Taala berfirman tentang pertanggungjawaban ini dalam Surah Qaf ayat yang ke-18. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Baca Juga:
Kaum Mukminin Pada Hari Kiamat Akan Melihat Allah

“Tidaklah seorang manusia mengucapkan sebuah ucapan, melainkan ada malaikat-malaikat yang mencatat apa yang diucapkannya.” (QS. Qaf[50]: 18)

Bahkan mengeluh pun dicatat oleh malaikat. Diceritakan dalam sebagian kitab tentang Al-Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala. Ketika beliau dalam keadaan sakit, beliau mengeluh dan merintih karena sakitnya. Maka beliau diingatkan oleh putranya, Abdullah bin Ahmad bin Hambal atau salah satu putranya: “Wahai Ayahku, tidakkah engkau ketahui bahwa rintihan itu pun dicatat oleh malaikat?” Subhanallah. Maka kemudian Imam Ahmad bin Hambal berhenti dari merintih akan kesakitannya.

Jadi, apabila setiap Muslim memahami akan hal ini, mengetahui makna dan kandungan ayat-ayat yang dibacakan tadi, maka dia akan menjaga lisannya. Sebagaimana juga Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam telah mengingatkan kepada kita:

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا 

“Jaga lisanmu.”

Lihat: Hadits Arbain 29 – Pintu-Pintu Kebaikan

Orang yang tidak menjaga lisannya akan menerima risiko dari perilakunya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Menggali Potensi Anak

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.