Masjid Al-Barkah

Ada Apa dengan Remaja

Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja

By  |  pukul 8:42 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 22 Januari 2024 pukul 10:48 am

Tautan: https://rodja.id/5a9

Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Senin , 5 Rajab 1445 H / 16 Januari 2024 M.

Kajian Tentang Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja

Ada hal-hal yang harus kita hindari ketika berdialog, karena ini bisa mengganggu atau bahkan merusak suasana dialog dengan anak-anak remaja. Di antaranya adalah:

Yang pertama, berbicara dengan gaya bahasa yang terkesan menggurui dan ingin terus menceramahi. Memang tujuan kita adalah memberi nasihat, ceramah, atau peringatan kepada anak. Kita adalah guru dan mentornya. Namun, gaya bahasa yang harus kita perhatikan. Karena menceramahi tidak harus dengan gaya bahasa ceramah. Menggurui tidak harus dengan kata-kata yang terkesan menggurui. Memberikan pelajaran tidak harus dengan cara seperti itu.

Hindari gaya bahasa yang terkesan ingin menceramahi dan menggurui, seolah-olah dia tidak tahu apa-apa, sedangkan kita yang maha tahu segalanya. Ini yang kadang-kadang membuat lawan dialog kita cenderung mengabaikan.

Maka, pilihlah kata-kata yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangannya. Kita mengajak dia untuk berpikir ikut terlibat dalam dialog tersebut. Gaya bahasa yang menggurui itu cenderung monolog. Sehingga kita yang terus mengambil alih pembicaraan itu, seperti orang ceramah, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk mencerna apa yang kita sampaikan.

Baca Juga:
Biografi Imam Al-Baghawi

Maka kadang-kadang diselingi dengan kalimat-kalimat yang bernada pertanyaan untuk memancing perhatiannya. Jadi tidak monoton dan membosankan seperti kita mendengarkan ceramah.

Makanya nabi, beliau adalah guru yang terbaik. Kadang kala beliau melontarkan pertanyaan untuk menarik perhatian dari pendengar. Nabi sering menggunakan metode itu, yaitu dengan melontarkan pertanyaan, supaya yang mendengar juga ikut terlibat di dalam pembicaraan. Tidak cenderung satu arah seperti orang menggurui itu.

Kadangkala beliau memancing sahabat dengan pertanyaan: “Tahukah kalian hari apa ini?” atau “Di mana ini?” Beliau tahu sedang di tanah haram dan di bulan haram. Tapi nabi bertanya, sehinga mereka mengira jawabannya yang lain. Ternyata nabi ingin menjelaskan tentang haramnya kehormatan muslim.

Yang kedua, hindari redaksi perkataan yang cenderung menyudutkan dan menyalahkan. Ini adalah tindakan yang seolah-olah kita berdiri di hadapannya sebagai hakim dan dia sebagai terdakwa di ruang persidangan. Ini akan mematikan kemampuan berpikirnya.

Orang yang duduk di kursi terdakwah itu tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali membela diri. Maka kalau kita memposisikan diri sebagai hakim, maka yang dilakukan oleh si anak adalah membela diri dengan apapun. Bahkan terkadang dengan berbohong.

Ini dialami oleh banyak anak. Ketika orang tuanya berdiri di depannya sebagai hakim, maka dia cenderung ingin menghindar dan mencari celah bagaimana untuk mengakhiri pembicaraan. Kita ingin memperbaiki, bukan menghakimi. Kita ingin memberikan kebaikan, bukan menjatuhkan vonis hukum.

Baca Juga:
Talbis Iblis Untuk Melakukan Pengembaraan

Yang ketiga, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak dan berkali-kali. Yang pertanyaan itu terkadang sudah dijawabnya tapi ditanya lagi. Seolah-olah orang tua tidak percaya kepada jawabannya. Ini seperti orang tua yang kekurangan bahan dalam berdialog dengan anak-anaknya. Anak akan merasa seperti duduk di depan investigator.

Maka jadilah kita Ayah Bunda yang penuh kasih sayang, perhatian, kelembutan ketika berdialog dengannya. Jadi bukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan atau yang sifatnya tudingan atau pertanyaan berulang-ulang seolah-olah kita tidak percaya dengan jawabannya.

Yang keempat, banyak orang tua yang terlalu banyak cerita tentang dirinya. Bercerita tentang pengalaman adalah salah satu perkara yang perlu juga kita ceritakan kepada anak. Anak perlu mengambil pelajaran dari pengalaman hidup kita. Tapi jangan terlalu mengumbar cerita tentang diri kita. Seolah-olah kita itu manusia sempurna. Ini juga kesan meninggikan diri dan kurang humble.

Maka perlu bicara tentang pengalaman kita, tapi tidak setiap waktu hingga terkesan membanggakan diri kita di depannya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Mukaddimah Kajian Tujuan-Tujuan Haji

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.