Masjid Al-Barkah

Syarh Hadits Jibril fi Ta'limiddiin

Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin

By  |  pukul 1:50 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 12 Februari 2024 pukul 1:52 pm

Tautan: https://rodja.id/5az

Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 26 Rajab 1445 H / 7 Februari 2024 M.

Kajian Islam Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin

Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan tentang hadits Jibril: “Ketahuilah bahwa hadits Jibril ini mengandung berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab-adab, dan petikan-petikan hikmah. Bahkan, hadits ini adalah pokok agama Islam, sebagaimana yang telah kami nukil dari Al-Qadhi ‘Iyad.

Imam Al-Qurtubi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Hadits Jibril ini pantas untuk diberi julukan “Ummu Sunnah (induk sunnah)” karena mengandung secara global apa yang dikandung dalam sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Imam Ibnu Rajab Rahimahullah menyebutkan: “Hadits Jibril ini adalah hadits agung yang mengandung penjelasan agama secara umum. Makanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhir hadits ini mengatakan: ‘Ini adalah malaikat Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian agama kalian.'”

Maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita semua bisa benar-benar mempelajari, memahami dan mengamalkan kandungan hadits ini.

Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya dengan sanadnya dari Yahya bin Ya’mur, dia berkata, “Orang pertama yang mengadakan penyimpangan bahwasannya tidak ada takdir adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, Irak. Aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Humairi pernah pergi untuk berangkat haji atau umroh, kami berkata, ‘Kalau kita bertemu dengan salah satu dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita perlu bertanya kepada mereka tentang takdir.’ Kami beruntung bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab yang sedang masuk ke masjid. Kami mendekatinya, saya di sebelah kanan dan sahabat saya di sebelah kiri. Aku menyangka temanku mempersilahkan aku untuk berbicara, maka aku berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama, akan tetapi mereka mengatakan bahwa tidak ada takdir, dan bahwa segala sesuatu itu baru terjadi (tidak dikehendaki dan tidak diciptakan).’

Baca Juga:
Perjalanan Manusia Setelah Hari Kiamat

Maka Abdullah bin ‘Umar menjawab, ‘Jika engkau kembali dan bertemu dengan mereka, maka sampaikanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah, seandainya mereka mempunyai emas sebanyak gunung Uhud dan menginfakkan semuanya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai beriman kepada takdir.'”

Lalu Abdullah bin ‘Umar melanjutkan, “Ayahku Umar bin al-Khaththab menceritakan kepadaku, ‘Ketika kami berada di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu hari, tiba-tiba muncul seorang yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai dia mendekat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di paha. Dia bertanya, ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Islam adalah engkau bersyahadat bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika mampu melaksanakan perjalanan ke sana.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ ‘Umar berkata, ‘Kami heran, dia bertanya dan dia membenarkan.’

Orang itu bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang iman.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab, ‘Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.’ Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’

Baca Juga:
Menganggap Baik Bersedekah Setelah Korupsi

Maka dia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku apa itu ihsan.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab, ‘Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak sampai pada derajat tersebut, maka yakinlah bahwasannya Allah melihatmu.’

Dia melanjutkan pertanyaannya, ‘Beritahukan kepadaku kapan hari kiamat.’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.’

Maka orang itu melanjutkan pertanyaannya, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda kiamat.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab, ‘Tanda-tandanya adalah budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat orang miskin yang tadinya tidak menggunakan sendal, tidak mempunyai pakaian, penggembala kambing, mereka sudah berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan.’

Kemudian, orang itu pergi dan berlalu beberapa waktu, maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang datang bertanya?’ Aku mengatakan, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.’ Dia berkata, ‘Sesungguhnya itu adalah Malaikat Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.'” (HR. Muslim)

Ada beberapa faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas, di antaranya:

Pertama, bid’ah yang mengatakan bahwasanya tidak ada takdir itu muncul di Kota Basrah, Irak, di zaman sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Bahkan ketika sahabat Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhum masih hidup. Dan beliau wafat pada tahun 73 H.

Baca Juga:
Penjelasan Rukun Iman Sebagai Pondasi-Pondasi Keimanan

Kedua, kembalinya para tabi’in Rahimahumullah kepada para sahabat. Jika mereka mendapatkan permasalahan dalam agama, maka yang mereka tanyakan adalah para sahabat. Tentu ini perlu untuk kita contoh, baik itu dalam masalah aqidah ataupun selain. Inilah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim, yaitu kembali kepada para ahli ilmu ketika menemukan permasalahan dalam agama.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl[16]: 43)

Ketiga, bagi siapapun yang ingin berangkat haji ataupun umrah, maka sebaiknya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam agama, terutama jika pandai bahasa Arab. Ataupun jika tidak bisa melalui perantara penerjemah dengan bertanya langsung kepada para ulama untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang mereka ingin tanyakan yang berkaitan dengan hukum-hukum agama.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Baca Juga:
Nafkah Untuk Istri Yang Telah Diceraikan

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.