Masjid Al-Barkah

Tematik

Tafsir Ayat-Ayat Puasa

By  |  pukul 9:03 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 13 Maret 2024 pukul 9:50 am

Tautan: https://rodja.id/5bh

Tafsir Ayat-Ayat Puasa adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 22 Sya’ban 1445 H / 3 Maret 2024 M.

Kajian Tentang Tafsir Ayat-Ayat Puasa

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa…”

Semua ayat yang yang dimulai dengan ucapan ini, selalu isinya kalau tidak perintah maka larangan. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalau kamu mendengar Allah mengatakan ‘Hai orang-orang yang beriman,’ maka siapkan telingamu untuk mendengarkannya.”

Allah memanggil orang yang beriman. Karena iman itu hakikatnya adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Konsekuensi iman adalah kita senantiasa tunduk dan patuh. Makanya yang tunduk dan patuh kepada Allah hanyalah orang-orang yang beriman. Kalau ada orang yang tidak tunduk, berarti itu menunjukkan keimanannya kurang. Semakin iman seseorang sempurna, biasanya semakin ketundukannya pun kepada Allah sempurna.

Semua kita Alhamdulillah beriman. Berarti kita semua dipanggil. Semua yang merasa dirinya beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat dipanggil oleh Allah. Kalau antum dipanggil sama presiden, maka siap langsung datang. Ini yang memanggil adalah pencipta presiden, bahkan pencipta alam semesta. Mana yang lebih layak untuk kita tunduk dan patuhi? Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Khutbah Jumat: Keuntungan Besar dengan Sabar

Ketika Allah mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman,” maka kita bersiap untuk mengatakan sami’na wa atha’na.

“Diwajibkan atas kalian berpuasa.” Shiyam berasal dari kata shaum, yang secara bahasa artinya menahan diri. Adapun secara istilah adalah menahan diri dari semua yang membatalkan puasa dimulai dari semenjak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat.

Atas dasar definisi ini, rukun puasa itu ada dua. Yang pertama adalah niat. Dan niat tempatnya di hati, bukan di lisan. Tidak perlu kita mengucapkan niat, karena Nabi tidak pernah mengajarkan demikian. Niat puasa itu harus dari semenjak malam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak meniatkan puasa dari malam sebelum fajar terbit, maka puasanya tidak sah.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan yang lainnya)

Maka ketika kita sahur, disitu otomatis pasti mengandung niat untuk puasa.

Rukun yang kedua yaitu meninggalkan semua yang membatalkan puasa. Yaitu makan dan minum dengan sengaja, kalau lupa maka tidak batal. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Siapa yang makan karena lupa saat ia sedang berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya, karena saat itu Allah sedang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:
Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2 - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Dengarkan dan Download Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Tafsir Ayat-Ayat Puasa” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.