Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah

By  |  pukul 4:12 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 22 Maret 2024 pukul 4:17 pm

Tautan: https://rodja.id/5c4

Khutbah Jumat: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 11 Ramadhan 1445 H / 22 Maret 2024 M.

Khutbah Khutbah Jumat: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah

Ramadhan adalah hadiah Allah untuk kita, saudaraku. Kenikmatan yang besar. Karena di bulan Ramadhan banyak sekali pemberian-pemberian yang ingin Allah berikan kepada kita. Di antaranya adalah Allah ingin memberikan kepada kita ampunanNya. AmpunanNya yang besar tentunya sangat kita butuhkan. Karena sesungguhnya orang yang tidak diampuni oleh Allah tentu dia tidak akan merasakan surgaNya.

Saudaraku, ibadah shiyam merupakan ibadah yang agung, ibadah sangat Allah cintai, bahkan ibadah yang tidak ada tandingan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

عليك بالصَّومِ فإنَّه لا مثلَ له

“Hendaklah kalian berpuasa sesungguhnya ia tidak ada yang sama dengannya.” (HR. An-Nasa’i)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan dalam hadits ini bahwa ibadah puasa tidak ada yang sama dengannya. Itu menunjukkan betapa agung dan besarnya puasa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untukKu dan Aku yang akan memberikan pahalanya.’” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Mahar Dimiliki Secara Penuh Oleh Seorang Istri

Subhanallah, betapa agungnya puasa di sisi Allah. Oleh karena itu, janji Allah untuk orang yang berpuasa pun sangat besar. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, untuk mendapatkan pahala yang besar ini, yaitu ampunan, hendaklah memenuhi dua perkara tadi. Yang pertama, karena iman; kita beriman bahwa ini perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita taati, kita beriman bahwa perintah Allah pasti maslahat untuk kehidupan manusia, kita beriman bahwa puasa di bulan Ramadhan itu adalah kebaikan yang Allah inginkan kepada kita. Ketika kita beriman kepada Allah, kepada hari akhirat, dan bahwasanya kita berharap pahala di sisi Allah, maka saat itulah Allah akan memberikan kepada kita ampunanNya yang besar.

Namun, tentunya dalam Islam tidak mungkin ibadah puasa kita akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali memenuhi beberapa syarat. Yang pertama, ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Kita tidak mengharapkan dunia, tidak mengharapkan pujian manusia. Kemudian, yang kedua, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah tidak akan diterima oleh Allah. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda,

Baca Juga:
Saat Kehilangan Buah Hati

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada di atasnya perintah kami, maka ia tidak akan diterima, ia ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Lihat juga: Pelaku Bid’ah Terhalang dari Telaga Nabi

Maka kita berusaha bagaimana agar puasa kita mendapatkan nilai di sisi Allah yang besar, bagaimana puasa kita mendatangkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Di sana ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan agar mendapatkan pahala besar dari puasa kita. Yang pertama, kita berusaha memperbanyak dzikir kepada Allah saat berpuasa. Al-Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa manusia yang paling utama puasanya adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah saat ia berpuasa.

Ketika berpuasa, ia banyak membaca Al-Qur’an; ketika ia berpuasa, ia banyak berdzikir, mengucapkan dzikir-dzikir yang disebutkan, bahwa itu adalah kalimat-kalimat yang sangat dicintai oleh Allah. Yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar. Demikian pula, kalimat-kalimat dzikir yang lainnya yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin puasa kita dihiasi dengan dzikir kepada Allah, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang kedua, semakin besar pahala puasa kita, ketika puasa menimbulkan ketakwaan kepada Allah. Karena sesungguhnya itulah tujuan dari shaum. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Baca Juga:
Shalat adalah Pintu Terbesar Diampuni Dosa-Dosa

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian shiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)

Maka shiyam yang tidak menimbulkan ketakwaan, itu pertanda shiyam yang tidak diterima oleh Allah. Tapi ketika shiyam menimbulkan ketakwaan pada mata kita, pada telinga kita, pada lisan kita, bahkan pada hati kita, sehingga pada waktu itu mata kita jaga dari melihat apa yang Allah haramkan, kita jaga telinga dari mendengarkan sesuatu yang Allah benci, kita jaga lisan, demikian pula anggota tubuh kita dari maksiat, berarti shiyam itu telah menimbulkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka itu pertanda shiyam kita diterima oleh Allah.

Khutbah Jumat Kedua: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah

Adapun ketika shiyam kita dihiasi dengan perkara yang tidak bermanfaat, sebagian ada yang menghabiskan waktu shiyamnya dengan main game, sebagian ada yang menghabiskan waktu shiyamnya dengan menonton film, sebagian lagi habis waktunya dengan media sosial, dan yang lainnya. Demi Allah itu bukanlah hakikat shiyam secara hakiki. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi, hakikat shiyam itu menahan diri dari perbuatan yang tidak ada manfaatnya dan ucapan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Baca Juga:
Bab Mengusap Kedua Khuf Saat Safar - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Nabi menyuruh kita untuk meninggalkan perkara yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya saat kita berpuasa, saudaraku. Maka kita berusaha. Kita dididik oleh Allah agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama kita di bulan Ramadhan ini.

Download mp3 Khutbah Jumat: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Ramadhan adalah Hadiah dari Allah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.