Masjid Al-Barkah

Tematik

Adab-Adab Berhari Raya

By  |  pukul 4:04 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 03 April 2024 pukul 4:11 pm

Tautan: https://rodja.id/5cb

Adab-Adab Berhari Raya adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 22 Ramadhan 1445 H / 2 April 2024 M.

Kajian Tentang Adab-Adab Berhari Raya

Dalam bahasa Arab hari raya adalah ‘id (عيد). Disebutkan dalam Lisanul Arab bahwa ‘id berasal dari kata ‘aada yauudu yang artinya kembali. Karena dia kembali setiap tahun. Ada yang mengatakan bahwa ‘id dari kata adat atau kebiasaan. Karena mereka terbiasa merayakannya.

Berkata Ibnul Arabi, “Disebut ‘Id karena ia setiap tahun kembali dengan kegembiraan yang baru.”

Sementara Al-Alamah Ibnu Abidin berkata, “Disebut ‘id karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki macam-macam ihsan kepada hamba-hambaNya yang Allah berikan. Di antara ihsanNya Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu setelah sebulan penuh kita berpuasa, maka di hari ‘id kita diizinkan kembali untuk makan, disyariatkan adanya sedekah zakat fitr. Adapun di hari raya di situ ada ihsannya Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa ibadah yang agung seperti haji, berkurban dan yang lainnya. Karena biasanya di hari raya itu kita gembira.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan hari raya umat Islam hanya dua saja, yaitu hari raya Idul Fitr dan Idul Adha. Anas bin Malik berkata,

قدِمَ النبي صلى الله عليه وسلم ولأهلِ المدينةِ يومانِ يلعبونَ فيهما في الجاهليةِ ، فقال : قدمتُ عليكم ولكمْ يومانِ تلعبونَ فيهما في الجاهليةِ ، وقد أبدلكُم اللهُ بهما خيرا منهما : يومٌ النحرِ ، ويومُ الفطرِ

Baca Juga:
Pakaian Adalah Nikmat Dari Allah

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang dalam keadaan penduduk kota Madinah memiliki dua hari raya dimana mereka di hari raya tersebut bermain di masa jahiliyah.” Maka beliau bersabda, “Aku datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian biasa bermain padanya dimasa jahiliah. Dan Allah telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lain yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitr.” (HR. Abu Dawud)

Dua hari raya ini adalah pilihan langsung dari Allah. Allah langsung yang mensyariatkannya. Dan dua hari raya ini berhubungan dengan dua rukun Islam yang sangat agung. Idul fitr berhubungan dengan puasa Ramadhan, adapun Idul Adha berhubungan dengan Haji dan qurban. Pada dua hari raya tersebut Allah mengampuni jamaah haji, demikian pula orang-orang yang berpuasa. Juga Allah menebarkan kasih sayangNya kepada seluruh hamba-hambaNya yang taat.

Jadi, hari raya dalam Islam bukan sebatas hari raya biasa, tapi ia berhubungan dengan dua ibadah yang sangat agung sekali yang merupakan rukun Islam. Yaitu puasa Ramadhan dan Haji. Dua amalan ini menyebabkan pelakunya digugurkan dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adab-Adab Berhari Raya

Bertakbir membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah,

…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan agar kalian menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan dan bertakbir membesarkan Allah atas petunjuk yang diberikanNya (dalam ibadah-ibadah yang agung ini), agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)

Baca Juga:
Kajian Kitab A'lam As-Sunnah Al-Mansyurah (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Maka ketika seseorang dapat berpuasa Ramadhan, berhaji ke Baitullah, atau kita berqurban dengan menyembelih hewan yang telah Allah tetapkan, dengan ibadah itu kita bersyukur. Subhanallah!

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai takbir. Jumhur ulama mengatakan bahwa mulai bertakbir itu semenjak pagi hari saat kita keluar dari rumah menuju lapangan, sampai akhirnya imam pun shalat.

Sedangkan Imam Asy-Asyafi’i, pendapatnya bahwa takbir dimulai dari malam hari raya. Dasarnya adalah ayat tadi, Allah Ta’ala berfirman, “Dan agar kalian menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan, dan kalian pun bertakbir.” Sementara di malam hari raya Idul Fitri, kata Mazhab Syafi’i, itu sudah sempurna bilangannya. Berarti karena sudah sempurna bilangannya, maka takbir dimulai dari malam hari raya.

Jumhur berpendapat bahwa takbir dimulai dari saat keluar dari rumah menuju lapangan, berdasarkan hadits bahwa Nabi dan beberapa sahabatnya yang bertakbir ketika keluar dari rumah sampai ke lapangan, sampai kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun shalat. Namun hadits ini dipertanyakan, apakah hadits ini Shahih, Hasan atau dhaif. Imam Albani menganggapnya hadits yang Hasan.

Namun, telah Shahih dari perbuatan Abdullah bin Umar bahwa beliau keluar memulai takbir semenjak keluar rumah, dan tidak diketahui adanya penyelisihan dari sahabat yang lain. Maka dari itu -wallahu a’lam- dalam hal ini yang lebih kuat seperti pendapat jumhur.

Baca Juga:
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah Hamba dan RasulNya

Namun kita tidak mengingkari juga orang yang memulai takbir dari malam hari. Karena mereka punya hujjah dan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lebih menguatkan pendapat Mazhab Syafi’i dalam hal ini, alasannya karena menurut beliau, mendahulukan dalil lebih layak daripada mengamalkan atsar sahabat. Karena Allah tegas mengatakan dalam ayat itu, “Hendaklah kalian menyempurnakan jumlah hari raya, dan kalian pun mulai bertakbir.” Sedangkan malam-malam hari raya itu sudah selesai.

Mandi

Disyariatkan kita untuk mandi di pagi hari. Dalam riwayat Baihaqi, dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dengan sanad yang Shahih, Ali menyebutkan tentang mandi-mandi yang disyariatkan di antaranya yaitu mandi hari raya. Tapi itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

Apa lagi Adab-Adab Berhari Raya selanjutnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Dengarkan dan Download Kajian Adab-Adab Berhari Raya

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Adab-Adab Berhari Raya” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.