Masjid Al-Barkah

Mukhtashar Shahih Muslim

Bab I’tidal dan Kesempurnaan Shalat

By  |  pukul 2:52 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 20 Mei 2024 pukul 2:55 pm

Tautan: https://rodja.id/5df

Bab I’tidal dan Kesempurnaan Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 11 Dzulqa’dah 1445 H / 19 Mei 2024 M.

Bab I’tidal dan Kesempurnaan Shalat

Dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

 رَمَقْتُ الصَّلَاةَ مَعَ مُحَمَّدٍ ﷺ فَوَجَدْتُ قِيَامَهُ فَرَكْعَتَهُ فَاعْتِدَالَهُ بَعْدَ رُكُوعِهِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ مَا بَيْنَ التَّسْلِيمِ وَالِانْصِرَافِ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ.

“Aku memperhatikan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka aku dapati berdirinya beliau, rukuknya, i’tidalnya setelah rukuk, sujudnya, duduknya di antara dua sujud, sujudnya kembali, dan duduknya beliau antara taslim dan insiraf, itu hampir sama panjangnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini dijadikan hujah oleh sebagian ulama bahwa yang paling utama di dalam shalat adalah kesamaan panjang antara berdiri, rukuk, i’tidal, dan sujud. Hal ini karena terjadi ikhtilaf di kalangan ulama tentang yang paling utama: apakah berdirinya atau memperbanyak rukuk dan sujud, atau sama panjangnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang paling utama adalah memperbanyak rukuk dan sujud. Dalilnya adalah hadits, dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang sahabat: “Mintalah.” Sahabat itu berkata: “Aku minta agar bisa menemanimu di surga, wahai Rasulullah.” Nabi berkata: “Tidak ada yang lain?” Sahabat itu berkata: “Hanya itu saja.” Nabi berkata: ” Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu dengan banyak sujud.” Ini menunjukkan bahwa memperbanyak rukuk dan sujud itu lebih utama. Demikian pula hadits yang menyebutkan bahwa setiap kali seorang hamba sujud, Allah mengangkat satu derajat dan gugurkan satu kesalahan. Ini adalah madzhab Ibnu Umar, dimana dia merajihkan bahwa yang paling utama adalah memperbanyak rukuk dan sujud.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang paling utama adalah panjangnya berdiri, terutama untuk shalat malam. Dalilnya adalah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat satu rakaat dengan membaca surah Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran. Dalam hadits Aisyah juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat tahajud dengan berdiri yang panjang sampai kedua kakinya bengkak. Ketika Aisyah bertanya, Rasulullah menjawab: “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Ini menunjukkan bahwa yang paling utama adalah panjang berdirinya. Mereka juga menafsirkan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi ditanya tentang shalat yang paling utama, dan Nabi menjawab: “Panjangnya Qunut,” yang mereka tafsirkan qunut sebagai panjang berdiri.

Sebagian ulama lagi mengatakan bahwa yang paling utama adalah kesamaan panjang antara berdiri, rukuk, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin Azib di atas, dimana ia memperhatikan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendapati bahwa berdirinya, rukuknya, i’tidalnya, sujudnya, dan duduk di antara dua sujudnya adalah hampir sama. Ini yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Adapun dalil yang menyebutkan tentang banyak sujud, maka itu tidak bertabrakan dengan hadits yang sedang kita bahas, karena orang yang memperbanyak rukuk dan sujudnya berarti rukuk dan sujudnya sama panjang dengan berdirinya. Jadi, jika kita memperpanjang berdiri, maka rukukdan sujudnya juga sebaiknya sama panjang. Jika berdirinya satu jam, maka rukuknya juga mirip.

Hadits 329:

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

 إِنِّي لَا آلُو أَنْ أُصَلِّيَ بِكُمْ كَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يُصَلِّي بِنَا قَالَ فَكَانَ أَنَسٌ يَصْنَعُ شَيْئًا لَا أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَهُ كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ انْتَصَبَ قَائِمًا حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ قَدْ نَسِيَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ مَكَثَ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ قَدْ نَسِيَ.

“Sesungguhnya aku tidak mengurangi untuk shalat bersama kalian seperti aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami (Artinya Anas ingin mencontohkan bagaimana shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Dan adalah Anas melakukan sesuatu yang aku tidak melihat kalian melakukannya, yaitu beliau kalau mengangkat kepalanya dari rukuk, maka beliau berdiri sampai-sampai orang berkata bahwa beliau sudah lupa (Artinya, i’tidalnya panjang). Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau duduk di antara dua sujud sampai-sampai ada orang berkata bahwa beliau telah lupa.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan untuk memperpanjang i’tidal dan duduk di antara dua sujud. Hadits ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa i’tidalnya Nabi itu tidak panjang. Memang ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika i’tidal mengatakan “Samiallahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu,” sudah cukup. Kita katakan itu benar, memang ada riwayat yang shahih. Namun, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkadang memanjangkannya sampai-sampai disebutkan oleh para perawi bahwa orang berkata beliau sudah lupa karena saking panjangnya.

    Kalau antum memperpanjang bacaannya, misalnya dengan “Rabbana lakal hamdu,” itu sebentar, kemudian diteruskan dengan “Rabbana lakal hamdu amawat,” dan masih ada tambahannya lagi. Dalam satu riwayat yang lain, Nabi mengatakan, “lirabbi alhamdu, lirabbi alhamdu, lirabbi alhamdu bihamdu,” sepanjang-panjangnya.

    Demikian pula, duduk di antara dua sujud pun disyariatkan untuk panjang.

    كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا رفَع رأسَه مِن الرُّكوعِ قال: ربَّنا لك الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ والأرضِ، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ، أهلَ الثَّناءِ والمجدِ، أحقُّ ما قال العبدُ، وكلُّنا لك عبدٌ، اللهمَّ لا مانعَ لِما أعطَيتَ، ولا مُعطيَ لِما منَعتَ، ولا ينفَعُ ذا الجَدِّ منك الجَدُّ 

    Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, لربِّي الحمدُ sepanjang-panjangnya.

    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

    Download mp3 Kajian

    Mari turut membagikan link download kajian “Bab I’tidal dan Kesempurnaan Shalat” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

    Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

    Telegram: t.me/rodjaofficial
    Facebook: facebook.com/radiorodja
    Twitter: twitter.com/radiorodja
    Instagram: instagram.com/radiorodja
    Website: www.radiorodja.com

    Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

    Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
    Twitter: twitter.com/rodjatv
    Instagram: instagram.com/rodjatv
    Website: www.rodja.tv

    Leave a Reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.