Masjid Al-Barkah

Hadits-Hadits Perbaikan Hati

Buruk Sangka Sesama Muslim

By  |  pukul 9:46 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 22 Mei 2024 pukul 9:53 am

Tautan: https://rodja.id/5dj

Buruk Sangka Sesama Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 12 Dzulqa’dah 1445 H / 20 Mei 2024 M.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Buruk Sangka Sesama Muslim

Imam Bukhari dan Muslim, dalam dua kitab shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ، ولا تَحَسَّسُوا، ولا تَجَسَّسُوا، ولا تَنافَسُوا، ولا تَحاسَدُوا، ولا تَباغَضُوا، ولا تَدابَرُوا، وكُونُوا عِبادَ اللهِ إخْوانًا.

“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, mengintai-intai kesalahan, janganlah selalu berlomba-lomba saling iri, saling hasad, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari Muslim)

Sesungguhnya, di antara tujuan-tujuan yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim adalah menjaga persaudaraan keimanan, menjaga hubungan keagamaan yang merupakan hubungan yang paling kuat dan tali yang paling kokoh, serta menghindari semua hal yang bisa melemahkan atau merusak persaudaraan. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)

Ada beberapa perkara yang diperingatkan oleh syariat dan dilarang olehnya, yang bisa mempengaruhi persaudaraan keimanan, serta bisa merusak dan melemahkan persaudaraan, yaitu prasangka buruk kepada saudara sesama Muslim. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ

“Jauhilah prasangka, sesungguhnya prasangka tersebut adalah seburuk-buruk perkataan.” Yaitu bisikan jiwa yang dibisikan oleh setan di dalam jiwa seorang manusia. Tentu yang dimaksud di sini adalah larangan dari prasangka buruk, karena hal ini sama dengan apa yang tertera dalam Al-Qur’anul Karim setelah firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ…

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)

Sesungguhnya, persangkaan buruk yang dilakukan oleh seorang Muslim kepada saudaranya merupakan salah satu penyakit dari pengyakit-penyakit hati, yang bisa berdampak besar dan memberikan pengaruh yang sangat buruk dan berbahaya dalam merusak persaudaraan. Bahkan, hal ini bisa menghancurkan persaudaraan sesama kaum Muslimin. Persangkaan buruk adalah prasangka yang ada di dalam hati yang tidak dibangun di atas bukti, melainkan hanya bersandar pada ucapan yang ia dengar dari saudaranya atau kelakuan yang ia lihat dari saudaranya. Kemudian, ia membangun prasangka-prasangka dan tuduhan-tuduhan batil yang akhirnya menyebabkan permusuhan, pemutusan silaturahim, dan pertengkaran.

Banyak sekali hubungan suami-istri yang rusak, persahabatan yang rusak, serta persaudaraan yang terputus disebabkan oleh persangkaan-persangkaan buruk ini. Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim untuk waspada dan menjauhi prasangka buruk kepada saudaranya. Karena tuduhan dan prasangka khianat yang ada di dalam hati, yang dibisikkan oleh setan, tidak dibangun di atas bukti yang kuat. Seorang Muslim yang menjaga agamanya, apabila mendengarkan suatu ucapan dari saudaranya yang bisa menyebabkan prasangka buruk, hendaklah ia menjauhi ucapan tersebut dan mencari uzur serta kemungkinan-kemungkinan yang baik bagi saudaranya.

Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Janganlah sekali-kali engkau menyangka satu kalimat yang keluar dari saudaramu sesama Muslim adalah keburukan, padahal engkau masih bisa mencari kemungkinan yang baik.” Maksudnya adalah carilah kemungkinan-kemungkinan baik agar engkau selamat dan saudaramu juga selamat. Seandainya ia tidak bisa mendapatkan kemungkinan yang baik dari ucapan tersebut, maka hendaklah ia mengatakan, “Mungkin ada uzur yang saya tidak ketahui.”

Sebagaimana diucapkan oleh Muhammad bin Sirin Rahimahullah, “Jika sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu, maka carilah untuknya uzur. Dan apabila engkau tidak mendapatkan uzur untuknya, maka katakanlah, ‘Mungkin dia punya uzur yang aku tidak ketahui.'”

Adapun jika seseorang memasukkan prasangka-prasangka buruk dan pikiran-pikiran buruk ke dalam dirinya, maka itu akan sangat berbahaya bagi dirinya. Bahkan, kondisinya bisa lebih buruk daripada orang yang benar-benar memusuhinya.

Imam Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam kitab beliau Al-Adabul Mufrad, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata,

مَا يَزَالُ الْمَسْرُوقُ مِنْهُ يَتَظَنَّى حَتَّى يَصِيرَ أَعْظَمَ مِنَ السَّارِقِ

“Terus-menerus seseorang dicuri darinya suatu barang berprasangka buruk sampai ia lebih parah daripada orang yang mencuri.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, ia masuk ke dalam prasangka dan pikiran buruk. Ini adalah kondisi kebanyakan manusia: apabila dicuri darinya sesuatu atau ada kesalahan yang diperbuat pada haknya dan ia tidak mengetahui siapa yang mengerjakannya, maka ia pun masuk ke dalam prasangka-prasangka buruk. Mungkin saja ia mengatakan, “Mungkin Fulan yang melakukan” atau “Mungkin Fulan, sungguh aku melihat Fulan di tempat tersebut.” Kemudian ia masuk dalam prasangka, ghibah, fitnah, adu domba, dan dosa-dosa besar. Bahkan, kondisinya bisa menjadi lebih parah daripada dosa seseorang yang mencuri.

Demikian juga pada kesalahan-kesalahan lain, kita bisa mengambil satu contoh. Apabila ada seorang yang terkena penyakit ‘ain kemudian ia sakit atau mengalami sakit di badannya atau sebagian harta miliknya, kemudian ia masuk dalam prasangka-prasangka buruk dan tuduhan-tuduhan dusta, ia mengatakan, “Mungkin Fulan” atau “Mungkin Fulan.” atau “Aku mengetahui Fulan demikian.” Dan ia merusak kehormatan saudaranya sesama Muslim dengan prasangka yang tidak dibangun di atas bukti. Ia mengghibah atau bahkan merusak kehormatan saudaranya sesama Muslim. Maka, kondisi yang demikian lebih parah daripada orang yang benar-benar hasad kepadanya atau menimpakan ‘ain kepadanya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Buruk Sangka Sesama Muslim

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.