Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin

By  |  pukul 9:24 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 11 Juni 2024 pukul 9:30 am

Tautan: https://rodja.id/5dz

Khutbah Jumat: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1445 H / 31 Mei 2024 M.

Khutbah Jumat Pertama: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin

Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam didatangi oleh Malaikat Jibril. Lalu Jibril berkata kepada beliau,

يا محمَّدُ ! عِشْ ما شئتَ فإنَّك ميِّتٌ…

“Ya Muhammad, hiduplah sesukamu, sesungguhnya kamu akan meninggal dunia. Cintailah orang yang kamu cintai, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah sesuai dengan kehendakmu, sesungguhnya kamu pasti akan diberikan balasan oleh Allah. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malamnya, dan keperkasaannya saat ia tidak membutuhkan manusia.” (Sebuah wasiat yang dikeluarkan Imam At-Thabrani dalam Mu’jam-nya dan dihasankan oleh Syekh Albani Rahimahullah.)

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, silakan kamu hidup sesukamu, kamu akan meninggal dunia.” Semua manusia, semua kita pasti akan meninggal dunia. Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Kematian itu sesuatu yang pasti. Dan setelah kematian itu yang harus kita pikirkan. Karena setelah kematian kita akan diberikan oleh Allah balasan setimpal sesuai apa yang kita amalkan di dunia.

Persiapkanlah diri kita menuju kematian. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam menyuruh kita banyak mengingat kematian. Beliau bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ

“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian.”

Sekaya apa pun kita, hidup seenak apa pun, tetap kita akan meninggal dunia. Kita akan dibungkus dengan kain kafan kemudian dimasukkan dalam liang lahad. Di sana tidak ada teman, tidak ada siapa-siapa yang akan membantu kecuali amalan kita.

HP yang selalu kita pegang akan meninggalkan kita. Teman-teman yang sangat kita cintai pun akan pergi dan melupakan kita. Istri dan anak-anak kita juga akan pergi dan meninggalkan kita. Kita akan sendiri di liang lahad, didatangi malaikat Munkar dan Nakir, dan ditanya, “Man Rabbuka?” Siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa agamamu? Siapkah kita, saudaraku, untuk hari itu? Karena siapa yang selamat di kuburnya, maka yang setelahnya lebih mudah lagi. Dan siapa yang tidak selamat di kuburnya, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka setelahnya lebih berat lagi.

“Silakan kamu hidup sesukamu, sesungguhnya kamu pasti akan meninggal dunia. Silahkan cintai siapa yang kamu sukai, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya.”

Perpisahan itu pasti, saudaraku, dengan orang-orang yang kita cintai. Mungkin kita yang dahulu pergi meninggalkan mereka atau mereka yang dahulu pergi meninggalkan kita. Yang jelas, mencintai seseorang janganlah berlebih-lebihan. Disebutkan dalam sebuah riwayat,

أَحْبِبْ حَبِيبَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَك يَوْمًا مَا

“Cintailah saudaramu yang kamu cintai sesuai dengan kadarnya. Bisa jadi akan menjadi musuhmu kelak suatu hari.”

وَأَبْغِضْ بَغِيضَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَك يَوْمًا مَا

“Bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja. Mungkin suatu ketika ia berubah dan menjadi orang yang kamu cintai.”

Kemudian kata Malaikat Jibril, “Berbuatlah sekehendakmu, semaumu. Kamu akan diberikan balasan oleh Allah.” Allah berfirman,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ‎﴿٧﴾‏ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ‎﴿٨﴾

“Siapa yang mengamalkan kebaikan sebesar biji sawi, ia akan melihat balasannya. Dan siapa yang mengamalkan keburukan sebesar biji sawi, ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah[99]: 7-8)

Saudaraku, di hari itu tidak ada yang tersembunyi lagi. Maka orang kafir merasa heran dan berkata,

…مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا…

“Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil maupun yang besar kecuali sudah tertulis dengan rapi dalam kitab itu?” (QS. Al-Kahfi[18]: 49)

Semua kita akan diberikan balasan terhadap ucapan kita, terhadap apa yang kita ketik di HP, yang kita ucapkan kepada teman, kepada istri, kepada anak, yang kita sampaikan kepada manusia. Semua akan diberikan balasan, yang kita lihat dan yang kita pandang, yang kita dengar oleh telinga, bahkan langkah kaki dan yang kita gerakkan dengan tangan. Semua akan ditanya oleh Allah dan diberikan balasannya.

Khutbah Jumat Kedua: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin

Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya, kemuliaan seorang mukmin terletak saat shalat malamnya,” di saat manusia sedang tidur lelap dengan nikmat dan syahwatnya. Namun, ia bangun untuk bermunajat kepada Rabbnya, meninggalkan semua kenikmatan dunia demi mendapatkan keridhaan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Sungguh, orang ini, saudaraku, termasuk orang yang Allah kagumi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Rabb kita, Allah, kagum kepada dua orang; (1) Orang yang ikut perang di jalan Allah. Ketika pasukannya kalah, ia tidak ingin lari. Karena jika lari, ia akan mendapatkan azab yang keras dari Allah. Maka ia terus maju sampai meninggal dunia dan mati syahid. (2) Orang yang bangun di waktu malam, ia tinggalkan syahwatnya, ia tinggalkan kenikmatan tidurnya demi mendapatkan keridhaan Rabbnya.”

Sungguh, Allah kagum kepada hamba seperti ini, saudaraku. Itulah kemuliaan seorang hamba, mampu meninggalkan syahwatnya dan hawa nafsunya, dan menjadi seorang hamba yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Mengakui kelemahannya, mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah yang butuh karuniaNya.

Kemudian, kata Malaikat Jibril, “Dan keperkasaannya, ketika ia tidak butuh kepada manusia.” Artinya, seorang mukmin tidak mengharapkan bantuan manusia. Yang ia harapkan adalah bantuan dari Allah semata. Tabu baginya untuk meminta-minta, karena ia tahu bahwa meminta-minta adalah kehinaan. Kehinaan yang hakiki bagi seorang insan, ketika ia menjadi orang yang tangannya di bawah, ia ingin agar tangannya selalu di atas, membantu orang-orang yang susah. Itulah, saudaraku, kemuliaan dan keperkasaan seorang mukmin.

Download mp3 Khutbah Jumat: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Kemuliaan dan Keperkasaan Seorang Mukmin” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.