Masjid Al-Barkah

Hadits-Hadits Perbaikan Hati

Berjuang Memperbaiki Diri Sendiri

By  |  pukul 5:33 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 25 Juni 2024 pukul 5:57 pm

Tautan: https://rodja.id/5ef

Berjuang Memperbaiki Diri Sendiri adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 17 Dzulhijjah 1445 H / 24 Juni 2024 M.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Berjuang Memperbaiki Diri Sendiri

Dari sahabat Fadhalah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah di Haji Wada, beliau mengatakan,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ

“Maukah aku beritahukan siapa orang yang beriman? Orang beriman adalah orang yang manusia aman atas harta dan jiwa mereka. Muslim sejati adalah orang yang manusia lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Mujahid sesungguhnya adalah yang berjihad melawan hawa nafsunya untuk ketaatan kepada Allah. Orang yang berhijrah sesungguhnya adalah orang yang berhijrah meninggalkan dosa dan maksiat.” (HR. Ahmad).

Sesungguhnya di antara perkara penting di dalam kehidupan seorang muslim yaitu bersungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsunya, memperbaiki dirinya, dan memaksanya untuk selalu berada di jalan istiqamah, kemudian meminta kepada Allah pertolongan untuk hal tersebut.

Ayat yang berkaitan tentang perkara ini yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ‎﴿١٨﴾‏ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ‎﴿١٩﴾‏ لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ ‎﴿٢٠﴾

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persembahkan untuk hari esok (hari akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah maka Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Tidak sama antara penduduk neraka dan penduduk surga. Penduduk surga, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr[59]: 18)

Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah, ayat ini adalah ayat pokok dalam masalah introspeksi jiwa dan bahwasanya wajib bagi setiap orang untuk selalu memeriksa dan mengintrospeksi dirinya. Apabila ia melihat kekurangan, hendaklah ia segera memperbaikinya dan meninggalkan dosa tersebut dengan taubat yang sungguh-sungguh, kemudian menjauhi perkara-perkara yang bisa membuatnya terjatuh kembali kepada dosa tersebut. Apabila ia melihat dirinya lalai dari salah satu dari perintah-perintah Allah, hendaklah ia berusaha bersungguh-sungguh meminta pertolongan kepada Allah agar ia bisa memperbaiki kekurangan tersebut.

Kemudian ia membandingkan antara nikmat-nikmat Allah, kebaikan-kebaikan Allah kepadanya dengan perbuatan dosa dan kelalaian yang ia lakukan, karena hal itu akan menyebabkan ia malu kepada Allah. Kerugian yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang lalai dari perkara ini, yaitu muhasabah (memeriksa diri), karena ini akan menyerupai kaum yang mereka lupa kepada Allah, lalai dari mengingat kepada Allah, lalai dari melaksanakan hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla, dan mereka sibuk untuk memuaskan hawa nafsu dan syahwat mereka. Sehingga mereka gagal, mereka tidak mendapatkan kebaikan apapun, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka lupa kepada kebaikan diri mereka sendiri. Mereka dilalaikan dari perkara yang bermanfaat sehingga urusan mereka tercerai-berai, mereka menjadi orang yang merugi di dunia dan di akhirat, dan kerugian mereka tidak mungkin lagi bisa diperbaiki. Mereka itulah orang-orang yang fasik, yang keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tenggelam dalam perbuatan maksiat.

Apakah sama orang yang selalu berusaha menjaga ketakwaan kepada Allah, melihat apa yang telah ia persembahkan untuk hari akhirat, kemudian ia mendapatkan kenikmatan surga yang sangat nikmat, kehidupan yang bahagia bersama orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, yang telah Allah beri nikmat kepada mereka dari para nabi, para siddiqin (orang-orang yang jujur), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, apakah sama orang-orang tersebut dengan orang yang lalai dari dzikir kepada Allah, lupa hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia sengsara di dunia dan di akhirat, ia berhak mendapatkan azab? Yang pertama adalah orang yang takwa kepada Allah, melaksanakan perintah Allah, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Adapun selainnya, orang yang lalai dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai dari memberikan hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Dan manusia dengan jiwanya itu terbagi menjadi dua: Pertama, manusia yang bersungguh-sungguh berjihad melawan hawa nafsunya, mencela dirinya untuk selalu bangkit melakukan perkara-perkara yang mulia, adab-adab yang tinggi, dan akhlak yang sempurna. Jenis yang kedua yaitu orang-orang yang melalaikan dirinya sehingga tenggelam dalam kekajian, perbuatan dosa dan maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dua kelompok manusia ini dalam firman Allah Azza wa Jalla,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ‎﴿٩﴾‏ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ‎﴿١٠﴾

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams[91]: 9-10)

Makna “mensucikan jiwa” yaitu dengan membersihkannya dari kekufuran, kemaksiatan, perbuatan dosa, dan bersungguh-sungguh untuk menjauhi segala perkara tersebut. Kemudian ia berusaha memperbaiki jiwanya dengan ketaatan-ketaatan dan amal-amal shalih. Adapun “mengotori jiwa” yaitu dengan menghinakannya, meninggalkan perbuatan baik, terjatuh dalam perbuatan dosa, mentaati semua yang dipanggil oleh hawa nafsu dari perkara-perkara yang membuat Allah murka dan menjadikan hukuman dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla meletakkan pada setiap manusia dua jiwa: jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan dan jiwa yang tenang. Kedua jiwa ini saling memusuhi. Jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan memusuhi jiwa yang tenang (mutmainnah), dan jiwa mutmainnah juga sebaliknya memusuhi jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan. Dan segala perkara yang berat oleh jiwa mutmainnah, maka ringan bagi jiwa yang mengajak mengajak kepada keburukan. Dan perkara-perkara yang diinginkan dan disukai oleh jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan, perkara tersebut dibenci oleh jiwa yang tenang. Sebaliknya, perkara-perkara yang disukai oleh jiwa yang tenang dibenci oleh jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan.

Contohnya, apabila jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan merasa nikmat dan lezat ketika melakukan kemaksiatan, maka jiwa yang tenang merasa kesakitan. Sebaliknya, bagi jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan, perkara yang paling berat untuk dilakukan adalah ketaatan-ketaatan, melakukan perkara-perkara yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha. Sebaliknya, bagi jiwa mutmainnah (jiwa yang tenang), yang paling berat untuk dia kerjakan adalah perbuatan dosa dan maksiat.

Di dalam diri manusia ada nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Sebagaimana Allah ceritakan tentang perkataan istri dari pembesar Mesir yang membeli Nabi Yusuf,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membersihkan diriku, sesungguhnya jiwa itu selalu mengajak kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf[12]: 53)

Jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan mengajak pemilik jiwa tersebut untuk melakukan dosa, mengajak untuk melakukan perkara-perkara yang membinasakan dirinya dan menuntunnya kepada semua perbuatan keji dan hina. Inilah tabiat dan sifat jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan, kecuali yang diberi taufik oleh Allah sehingga dia selamat dari godaan jiwa tersebut. Makanya dalam ayat tadi disebutkan, “kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” Maka dia selamat dari godaan dan keburukan jiwanya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Berjuang Memperbaiki Diri Sendiri

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.