Masjid Al-Barkah

Tafsir Al-Quran

Jalan Yang Lurus – Tafsir Surah Ali Imran 51

By  |  pukul 3:10 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 26 Juni 2024 pukul 3:20 pm

Tautan: https://rodja.id/5eh

Jalan Yang Lurus – Tafsir Surah Ali Imran 51 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 18 Dzulhijjah 1445 H / 25 Juni 2024 M.

Download kajian sebelumnya: Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihis Salam – Tafsir Surah Ali Imran 49

Jalan Yang Lurus – Tafsir Surah Ali Imran 51

Kita masih melanjutkan faedah dari firman Allah,

 إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ ‎﴿٥١﴾‏

“Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Allah saja, inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 51)

Jalan yang lurus adalah hakikatnya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Kita mengambil faedah dari ayat ini, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah, umumnya rububiah Allah umum untuk seluruh manusia karena Allah pencipta manusia seluruhnya, pencipta langit dan bumi, pencipta alam semesta. Maka Allah adalah Rabb segala sesuatu, Allah Rabb kita. Maka kalau antum ditanya “Man rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?), maka kita katakan “Rabbiyallah” (Rabbku Allah).

Yang aneh, saya melihat di YouTube ada orang yang mengatakan “Man rabbuka?” dijawab “Rabi Ghufron.” Laa ilaaha illallah, demi Allah ini kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Siapa yang meyakini bahwa rabbnya selain Allah, maka dia kafir murtad dari agama Islam. Yang menciptakan kita Allah, yang menciptakan langit dan bumi Allah, yang menciptakan si Ghufron itu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kewajiban kita adalah hanya menyembah Allah saja, beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Faedah yang selanjutnya, Nabi Isa itu makhluk bukan Tuhan, karena Nabi Isa berkata “Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian.” Nabi Isa tidak pernah sekalipun mengaku-ngaku dirinya Tuhan. Nabi Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam adalah makhluk yang Allah ciptakan, namun Allah mengutamakan Nabi Isa dengan risalah dan kenabian.

Faedah selanjutnya adalah ayat ini membantah klaim orang Nasrani bahwa Allah itu tiga dari yang tiga, atau yang disebut dengan Trinitas, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tegas mengkafirkan orang yang mengatakan demikian. Allah berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ…

“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan, ‘Allah itu salah satu dari yang tiga.'” (QS. Al-Ma’idah[5]: 73)

Maka orang yang punya keyakinan bahwa Nabi Isa itu Tuhan, kita kaum muslimin semua sepakat dia bukan muslim. Namun, kaum muslimin semuanya beriman kepada Nabi Isa, sebagai hamba Allah dan rasul-Nya. Kaum muslimin wajib mencintai Nabi Isa (Yesus). Orang yang membenci Nabi Isa maka ia kafir murtad dari agama Islam. Orang yang mendustakan Nabi Isa maka dia bukan muslim. Jadi, orang yang mendustakan satu nabi berarti dia sudah mendustakan semua nabi. Namun, kita kaum muslimin meyakini Nabi Isa itu adalah hamba Allah yang Allah ciptakan dan rasul-Nya.

Faedah selanjutnya adalah wajibnya beribadah kepada Allah saja karena Allah berfirman, “Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka beribadahlah kepada-Nya.” Ibadah artinya tunduk dan patuh disertai dengan cinta. Kalau ada orang yang tunduk dan patuh tapi tidak cinta, tidak disebut ibadah. Cinta tapi tidak disertai dengan ketundukan dan kepatuhan, tidak disebut ibadah. Disebut ibadah itu kalau dia tunduk dan patuh disertai dengan cinta yang sangat luar biasa.

Sebagian ulama seperti Ibn Taimiyyah mendefinisikan ibadah adalah nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridhai, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang tampak maupun yang tersembunyi. Dari mana kita tahu sesuatu dicintai dan diridhai oleh Allah? Jawabnya adalah dari wahyu, tidak mungkin dari akal. Akal tidak bisa mengetahui sesuatu ini dicintai atau diridhai oleh Allah. Sedangkan yang mendapatkan wahyu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berarti kita tidak boleh mengklaim bahwa sesuatu itu dicintai dan diridhai oleh Allah kecuali kalau ada dalil.

Adapun kemudian menurut pandangan kita ini baik, ini bagus, ini dicintai oleh Allah tapi ternyata hanya berdasarkan pendapat saja, tidak berdasarkan dalil, kita katakan: “Ajiib, kamu tidak mendapatkan wahyu dari Allah. Yang kamu pandang baik belum tentu di sisi Allah baik.” Allah mengatakan,

…وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu ternyata itu baik buat kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu ternyata itu tidak baik buat kamu. Allah yang tahu, kamu tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Di sini Allah tegas mengatakan bahwa kewajiban kita untuk menilai baik atau tidak baiknya itu jangan berdasarkan hawa nafsu atau selera. Akan tetapi kita nilai semua dengan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Ada enggak dalilnya?

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Jalan Yang Lurus – Tafsir Surah Ali Imran 51

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Jalan Yang Lurus – Tafsir Surah Ali Imran 51” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.