Renovasi Masjid

Fiqih Do'a dan Dzikir

Adab-Adab Dzikir

By  |  | https://rodja.id/5ng

Adab-Adab Dzikir adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 14 Dzulhijjah 1446 H / 10 Juni 2025 M.

Kajian Tentang Adab-Adab Dzikir

Allah Subhanahu wa Ta‘ala  berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 205:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Rabbmu (Berdzikirlah) pada dirimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang; dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A‘raf: 205)

Telah kita sebutkan bahwa ayat ini mengandung beberapa adab dalam berdzikir. Yaitu:

Yang pertama, dzikir itu pada diri kita.

Yang kedua, dzikir itu dipenuhi dengan ketundukan dan kekhusyukan, serta mengakui akan kekurangan kita, supaya kita benar-benar merasakan kenikmatan ibadah dan pasrah terhadap keagungan rububiyah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Yang ketiga, berdzikir dalam keadaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, artinya merasa takut jika diberikan sanksi oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala akibat kekurangan dalam amalan. Ketika berdzikir, hati merasa takut dan khawatir apabila amal tersebut ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala bukan karena berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, melainkan karena merasa belum melaksanakan ibadah itu dengan sebaik-baiknya. Dia merasa khawatir apabila amalnya ditolak dan tidak diterima. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ‎﴿٦٠﴾‏ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ‎﴿٦١﴾‏

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Allah. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan mereka orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkannya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 60–61)

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, disebutkan bahwa beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang makna ayat ini: Siapa mereka? Siapa orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, tetapi hati mereka merasa takut? “Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud ayat ini (Al Mu’minun: 60) mereka itu orang-orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamar?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, namun mereka takut amalan itu tidak diterima oleh Allah.'” (HR. Ahmad dalam Musnad)

Yang keempat, tidak mengeraskan dzikir, kecuali pada dzikir-dzikir yang memang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala untuk dikeraskan, seperti azan, takbiran, dan talbiyah, yang memang disyariatkan untuk diucapkan dengan suara keras. Adapun dzikir yang tidak ada perintah untuk dikeraskan, maka kembali kepada ayat ini (QS. Al-A‘raf: 205) pada asalnya dzikir itu tidak dikeraskan. Karena itu, terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama tentang dzikir setelah shalat, apakah dzikir itu dikeraskan atau disirkan? Imam Ahmad berpendapat bahwa dzikir setelah shalat dikeraskan, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas. “Aku dahulu mengetahui selesainya shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ucapan takbir.” Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Ahmad, bahwa tidak mengapa dzikir setelah shalat itu dikeraskan. Sementara Imam Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa dzikir setelah shalat tidak dikeraskan. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala QS. Al-A‘raf: 205.

Imam Asy-Syafi‘i mengatakan, “Adapun hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengeraskan dzikir setelah shalat, maka itu termasuk dalam bab pengajaran (هَذَا مِنْ بَابِ التَّعْلِيمِ).” Artinya, beliau mengeraskan dzikir untuk mengajarkan dzikir setelah shalat, dan bukan dilakukan secara terus-menerus. Jadi asalnya dzikir itu tidak dikeraskan karena lebih dekat untuk bisa memikirkannya dibandingkan dengan dzikir yang keras.

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan bersama para sahabat. Ketika naik ke tempat tinggi, mereka bertakbir dengan suara keras, “Allahu akbar!” Dan ketika turun, mereka bertakbir “Subhanallah!” juga dengan suara keras. Maka Rasulullah bersabda:

ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

“Kasihanilah diri kalian! Sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru Dzat yang tuli atau jauh. Kalian sedang menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ” “Dan dengan suara yang tidak dikeraskan.” (QS. Al-A‘raf [7]: 205) Demikianlah, dzikir itu disunahkan dengan tidak keras, bukan dengan suara yang keras dan berteriak.”

Inilah adab yang keempat, yaitu tidak mengeraskan suara dalam berdzikir, kecuali jika ada dalil yang memerintahkan untuk mengeraskannya. Maka pada waktu itu, boleh untuk dikeraskan. Membaca Al-Qur’an, apakah boleh dikeraskan? Boleh, dengan syarat tidak mengganggu orang lain. Mengapa demikian? Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar Abu Musa al-Asy‘ari shalat tahajud, dan suara beliau sangat indah. Rasulullah pun hanya mendengarkan. Keesokan paginya, Rasulullah bersabda kepada Abu Musa:

لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Sungguh, engkau telah diberi suara yang merdu seperti seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, karena saking indahnya suara Abu Musa al-Asy‘ari, maka boleh membaca Al-Qur’an dengan suara keras selama tidak mengganggu orang lain. Namun, jika dikhawatirkan mengganggu, maka tidak boleh dikeraskan. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke masjid dan mendapati para sahabat sedang shalat. Masing-masing mengeraskan suaranya dalam bacaan. Maka Rasulullah bersabda:

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al-Qur’annya kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud)

Adab kelima, bahwa dzikir harus diucapkan dengan lisan. Dzikir bukan hanya sebatas di dalam hati, sementara lisan tidak bergerak. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ “Dan dengan suara yang tidak dikeraskan.” (QS. Al-A‘raf [7]: 205)

Karna makna ayat ini artinya mengucapkan dzikir itu tapi tidak dengan suara keras. Apalagi dalam shalat, jika ada seseorang yang membaca Al-Fatiḥah hanya di dalam hati, tanpa mengucapkannya dengan lisan, maka shalatnya tidak sah. Mengapa? Karena dzikir itu tempatnya di lisan dan harus diucapkan. Tidak cukup hanya di dalam hati. Dzikir dan doa adalah bentuk ibadah lisan, yang tentunya diikuti dengan hati.

Pendapat yang menyatakan bahwa dzikir harus diucapkan dengan lisan adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Pendapat ini dibela oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah raḥimahullah dan juga para ulama lainnya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits qudsi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku di hadapan khalayak, maka Aku akan mengingatnya di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud mengingat Allah di hadapan khalayak artinya adalah mengingatkan manusia tentang Allah, bukan berdzikir dengan suara yang keras.

Adab keenam, yang terkandung dalam ayat ini (QS. Al-A‘raf [7]: 205) yaitu  hendaknya berdzikir di waktu pagi dan petang. Artinya, dzikir sangat ditekankan pada dua waktu ini, yaitu bukrah (pagi) dan ‘ashi (petang). Ayat ini menunjukkan keutamaan dua waktu tersebut. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah shalat Subuh, berdzikir sampai matahari agak tinggi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat Subuh hingga terbitnya matahari, lebih aku sukai daripada apa pun yang disinari oleh matahari. Dan aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat Asar hingga terbenam matahari, lebih aku sukai daripada ini dan itu (dunia dan seisinya).”

Berarti, dua waktu ini adalah waktu yang sangat utama untuk banyak berdzikir, yaitu:

  • Setelah Subuh sampai matahari terbit, dan
  • Setelah Asar sampai matahari terbenam.

Kedua waktu ini merupakan waktu yang tenang, dan dianjurkan untuk memperbanyak ibadah serta bersungguh-sungguh dalam dzikir. Adapun waktu antara Subuh dan Asar, umumnya digunakan untuk mencari nafkah dan bekerja. Dan telah ada dalil yang menunjukkan bahwa amalan hamba diangkat pada awal siang dan akhir siang. Karena itu, kita diperintahkan banyak berdzikir di waktu pagi, agar memulai hari dengan dzikir, dan diperintahkan berdzikir di waktu petang, agar mengakhiri hari dengan dzikir. Demikianlah kehidupan seorang mukmin, tidak pernah lepas dari dzikir. Maka tak heran, orang beriman hatinya tenang, karena ia senantiasa berdzikir kepada Allah.

Adab ketujuh, yaitu larangan dari bersikap lalai dalam berdzikir. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A‘raf [7]: 205)

Di sini, Allah mewanti-wanti agar kita tidak menjadi orang yang lalai, yaitu yang berpaling dari dzikir. Janganlah kita menjadi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk senantiasa mengingat Allah, terus-menerus. Jika kita senantiasa mengingat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, maka Allah Subḥanahu wa Ta‘ala pun akan selalu mengingat kita. Allah Subḥanahu wa Ta‘ala berfirman:

فَٱذْكُرُونِيٓ أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Sebaliknya, jika kita tidak mengingat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, maka Allah Subḥanahu wa Ta‘ala akan menjadikan setan sebagai teman kita.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Celaan atas Kelalaian Mengingat Allah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian Makna “Adab-Adab Dzikir” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses