Masjid Al-Barkah

Hal yang Penting Diketahui setiap Pengusaha Muslim

Akad-akad Investasi: Syirkah / Berserikat – Bagian ke-3 (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

By  |  pukul 8:10 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 17 April 2014 pukul 6:34 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=5588

Kajian fiqih kontemporer oleh: Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.

Simak ceramah agama Islam dalam seri Hal-hal yang Penting Diketahui oleh Pengusaha Muslim bersama Ustadz Erwandi Tarmizi. Dan rekaman yang dapat Anda unduh kali ini adalah siaran yang tayang di Radio Rodja dan RodjaTV pada Senin ba’da Maghrib, 7 Jumadats Tsani 1435 / 7 April 2014 dari Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja. Bahasan ini adalah yang diangkat dari kitab مالا يسع التاجر جهله, dan pada pertemuan kali ini membahas tentang “Akad-akad Investasi: Syirkah / Berserikat (Bagian ke-3)“.

[sc:status-hal-yang-penting-diketahui-setiap-pengusaha-muslim-ustadz-erwandi-tarmizi-2014]

Ringkasan Kajian Fiqih Kontemporer dari Kitab “Hal yang Penting Diketahui setiap Pengusaha Muslim”: Akad-akad Investasi (العقود للاستثمار)

Syirkah / Berserikat (شركة) – Bagian ke-3

Syirkah / syarikah dalam referensi para ulama kita, dibagi menjadi 3 bentuk bagian. Berserikat / bekerja sama mengumpulkan modal untuk mendapatkan keuntungan. Modal ini bisa jadi berbentuk uang, bisa jadi berbentuk kerja.

Bila digabung antara uang dan pekerjaan, dinamakan dengan syirkah ‘inan (شركة العنان).

Syirkah al-a’mal (شركة الأعمال) / syirkah abdan (شركة الأبدان) adalah syirkah menggabungkan modal untuk mendapatkan keuntungan bila modalnya hanya kerja saja (tidak ada uang yang disetorkan). Inilah yang dikatakan syirkah al-abdan / syirkah al-a’mal. Misalnya, Si A bisa bekerja mekanik, Si B bisa menambal ban, Si C bisa memperbaiki bodi peot / bekas tabrakan dan mengecat, lalu mereka bertiga bersyirkah untuk mengerjakan sebuah pekerjaan perbaikan mobil, maka mereka bersyirkah dari awal menetapkan berapa keuntungan yang harus dibagi berdasarkan prosentase, kemudian kerugian dibagi berdasarkan bila ada resiko kerja yang dibagi berdasarkan prosentase model tadi. Inilah yang dinamakan syarikah al-a’mal. Bila salah satu personel (dalam contoh tersebut) tidak masuk tanpa uzur, maka otomatis tidak mendapatkan sesuatu di hari itu; bila ada uzur, maka dia tetap mendapat bagiannya. Inilah yang dinamakan syarikah a’mal. Sebagian para ulama tidak membolehkan syarikah a’mal, yaitu dari Madzhab Syafi’iyyah. Jumhur ulama membolehkan membuat akad syirkah a’mal ini.

Baca Juga:
Bab Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah dan Bab Keutamaan Bermurah Hati dalam Perkara Jual Beli dan Lainnya - Bab 239-240 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. DR 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)

Syarikah yang ketiga, yaitu syirkah wujuh (شركة الوجوه), merupakan bentuk penggabungan modal dan kerja juga, tapi modal yang mereka bawa bukan milik mereka, mereka dapatkan dengan wujuh atau ketokohan / keamanahan mereka dan orang-orang mempercayainya untuk membeli barang dengan akad tidak tunai; bukan akad wakalah. Misalnya, A mendapatkan pakaian dewasa dari seorang produsen yang dibeli dengan tidak tunai dan B mendapatkan pakaian anak-anak / pakaian bayi dibeli dengan cara tidak tunai (dibeli, bukan akad wakalah), berarti modal yang mereka bawa adalah harta yang tidak tunai, dengan ini mereka bersyirkah / bekerja sama menjual barang-barang tersebut. Si A yang tadi membeli pakaian dewasa dengan tidak tunai, dia boleh menjualkan baju yang dia miliki dan boleh menjualkan baju si B yang dibeli dengan tidak tunai berupa pakaian anak-anak dan bayi; dan sebaliknya. Akad syirkah wujuh penggabungan akad wakalah, maka persyaratan syirkah wujuh adalah seluruh persyaratan wakalah, karena dia mewakilkan miliknya untuk dijualkan temannya, dan begitu juga temannya mewakilkan kepada dia untuk menjualkan barang milik temannya.

Syirkah al-mufawadhoh (شركة المفاوضة) adalah gabungan dari 3 syirkah di atas: syirkah ‘inan, syirkah ‘amal / abdan, dan syirkah wujuh. Dua orang atau lebih bersepakat, modal ada (uang diserahkan), kerja juga bersama, bisa beli barang dengan tidak tunai, kemudian masing-masing boleh bertindak seolah harta miliknya, kemudian dia menyerahkan kepada temannya untuk bertindak atas nama dia seluruhnya, ini yang dinamakan dengan syirkah al-mufawadhah dan ini dibolehkan.

Baca Juga:
Biaya Pengembalian Barang

Mari simak penjelasan yang sangat detil tentang fiqih kontemporer ini bersama Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dari kitab Hal yang Penting Diketahui setiap Pengusaha Muslim. Download sekarang juga rekaman kajian fiqihnya.

Download Kajian Fiqih Kontemporer: Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi – Akad-akad Investasi: Syirkah / Berserikat (Bagian ke-3)

Silakan share ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron.

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.