Telegram Rodja Official

Tematik

Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan: Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik (Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A.)

By  |  pukul 6:00 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 14 Februari 2020 pukul 6:14 pm

Tautan: http://rodja.id/va

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A.

Berikut ini merupakan kajian agama Islam tematik bersama Ustadz Firanda Andirja, yang disampaikan pada Selasa malam, 20 Rajab 1435 / 20 Mei 2014 di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Cileungsi, Bogor. Kajian ini diadakan selama 3 hari berturut-turut dengan pembahasan menarik seputar “Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan“, dan pada kajian kali ini beliau akan menjelaskan tentang beberapa ajaran Imam Syafi’i yang banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang mengaku mengikuti beliau, yaitu “Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik“.

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan

Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik

Banyak para imam umat ini yang kita banggakan, tetapi di antara mereka ada empat imam yang tersohor, yaiut para pendiri empat madzhab. Mereka itu adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullahu jami’an.

Meskipun ada madzhab-madzhab fiqih yang lain, namun keempat madzhab inilah yang diterima secara luas dalam dunia Islam hingga saat ini. Bahkan sebagian negeri dikenal dengan madzhab tertentu. Madzhab Syafi’i misalnya, banyak tersebar di negara-negara Asia Tenggara. Madzhab Maliki banyak tersebar di negeri-negeri Afrika. Madzhab Hanafi banyak tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afganistan, dan juga di Cina. Adapun madzhab Hanbali banyak tersebar di negeri-negeri Arab, khususnya Arab Saudi.

Baca Juga:
Menyelesaikan Persengketaan Antara Akad 'Ariyah Atau Ijarah

Di antara keempat madzhab imam tersebut yang sangat cemerlang adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Beiaulah pendiri dan pemrakarsa madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi pertiwi nusantara ini.

Biografi Singkat Imam Syafi’i

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin As-Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthallib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Muthallib adalah saudara Hasyim, ayahnya Abdul Muthallib kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi’ bin As-Saaib penisbatan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Nenek moyang beliau adalah suku Quraisy di Mekah, namun beliau lahir di Ghaza (Palestina) pada tahun 150 Hijriyyah. Ayah beliau telah meninggal ketika beliau masih sangat muda, maka dari itu beliau diasuh oleh ibunya. Beliau menghafal Al-Quran pada saat berusia 7 tahun, dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada saat beliau berumur 10 tahun. Ini menunjukkan betapa cerdasnya Al-Imam Asy-Syafi’i. beliaupu pun belajar dari para ulama mekah, di antaranya Muslim bin Khalid az-Zanji Al-Makky, dan juga berguru bertahun-tahun kepada Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah. Beliau juga dikenal dengan ahli dalam menulis sya’ir-sya’ir, tegar di atas sunah, dan getol dalam memerangi bid’ah. Bahkan beliau dijuluki dengan ناصر الحديث atau “Penolong hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Demikianlah biografi Imam Syafi’i secara singkat.

Baca Juga:
Ilmu dan Takdir Allah

Ajaran Imam Syafi’i dalam Perkara Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik

Hal yang menyedihkan pada saat kita melihat sebagian orang yang mengaku madzhab Syafi’i, mengaku sebagai pengikut setia Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah, namun amalan-amalan mereka justru bertentangan dengan ajaran-ajaran Imam Syafi’i. Bahkan semakin pahit dan menyedihkan jika ternyata mereka justru menentang dan mengolok-olok sebagian ajaran beliau. Mungkin saja mereka melakukan hal itu karena kurang mengenal ajaran-ajaran Imam Syafi’i yang sesunguhnya. Salah satu ajaran beliau yang banyak ditinggalkan adalah memelihara jenggot dan haramnya musik.

Hal yang sangat aneh juga adalah, semangat sebagian ustadz dan kyai yang mengaku bermadzhab Syafi’iyyah memangkas habis jenggot mereka. Bahkan, sebagian mereka mencela orang yang memanjangakan dan memelihara jenggot dengan sebutan teroris. Padahal Imam Syafi’i mengharamkan untuk mencukur habis jenggot. Hadits yang menunjukan wajibnya memelihara jenggot pun sangatlah banyak, di antaranya adalah:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong tipislah kumis kalian, dan biarkan jenggot kalian!” (HR Al-Bukhari dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Hal yang menyedihkan saat kita menyaksikan sebagian dai yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’i, ternyata menggunakan musik dalam beribadah. Jadilah shalawat disertai senandung musik. Irama gambus islami, atau kasidahan islami. Lebih memilukan lagi ada di antara mereka yang berdakwah dengan menggunakan alat musik. Padahal ni merupakan bentuk tasyabbuh (meniru-niru) kaum Nashrani dalam tata cara peribadatan mereka di gereja-gereja mereka. Jika bertasyabbuh dalam perkara adat dan tradisi mereka merupakan perkara yang dibenci, bagaimana jika bertasyabbuh dalam perkara ibadah mereka?

Baca Juga:
Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas mengharamkan musik dalam sabdanya:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Sungguh akan ada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, kain sutra (bagi laki-laki), khamr, dan alat-alat musik.” (HR Al-Bukhari)

Bagaimana penjelasan selengkapnya mengenai hal ini? Silakan download kajian ini dan simak penjelasan dari Ustadz Firanda Andirja, M.A. mengenai hal ini. Semoga bermanfaat.

Download Ceramah Agama: Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja – Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan: Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik

Mari kita share link download kajian Islam yang bermanfaat ini, ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga bermanfaat untuk kita dan saudara-saudara kita yang lain. Jazakumullahu khairan.

11 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 ÷ = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.