Telegram Rodja Official

Syarh 'Umdatul Ahkaam

Kitab Puasa (Bagian ke-4): Hukum Puasa Qadha / Qadha Puasa Ramadhan – Kitab Umdatul Ahkam (Ustadz Abu Qatadah)

By  |  pukul 11:40 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 21 Juni 2014 pukul 4:05 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=7002

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Qatadah

Bahasan lanjutan dari Kitab Puasa dari kitab Umdatul Ahkam, di mana pada pekan sebelumnya telah sampai pada Bagian ke-3 tentang Hubungan Suami Istri saat Puasa dan Kafarahnya serta Hukum Puasa saat Safar / Bepergian, dan kini sampai pada Bagian ke-4 di mana kita akan sama-sama mempelajari tentang “Hukum Puasa Qadha / Qadha Puasa Ramadhan“. Ceramah agama ini adalah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qatadah di Rodja pada Sabtu pagi, 15 Sya’ban 1435 / 14 Juni 2014, pukul 09:00-11:30 WIB, beliau telah beberapa kali mengupas kitab ini yang terkait erat dengan puasa Ramadhan, di mana sebentar lagi bulan Ramadhan menghampiri kita. Mari kita bersiap menyambutnya dengan mendownload ceramah ini.

Ringkasan Ceramah Agama Islam – Kajian Kitab Umdatul Ahkam: Kitab Puasa (كتاب الصيام) – Bagian ke-4

Hadits ke-190 hingga ke-192: Hukum Puasa Qadha / Qadha Puasa Ramadhan

Ada beberapa kelompok yang dibolehkan untuk berbuka (tidak berpuasa) dan baginya untuk membayar qadha puasa, yaitu:
Pertama, sakit yang diharapkan kesembuhannya. Adapun sakit yang tidak ada harapan baginya untuk sembuh sehingga dia tidak punya kemampuan untuk puasa, maka baginya membayar fidyah.

Baca Juga:
Kitab Puasa (Bagian ke-3): Hubungan Suami Istri saat Puasa dan Kafarahnya serta Hukum Puasa saat Safar / Bepergian - Kitab Umdatul Ahkam (Ustadz Abu Qatadah)

Kedua, orang yang safar. Orang yang safar lalu berbuka ketika safar, maka baginya qadha.
Kemudian terjadi perbedaan pendapat, yaitu bagi ibu hamil dan menyusui, apakah mengqadha atau fidyah, akan tetapi dalam pembahasan yang telah lalu, bahwa saya (Ustadz Abu Qatadah, Ed) merajihkan / menguatkan pendapat orang yang sedang hamil ataupun menyusui lalu dia berbuka, maka baginya adalah qadha.

Qadha (قضاء) tentunya sesuatu kewajiban yang merupakan pengganti dari suatu ibadah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan pada waktunya, bisa dengan sebab adanya udzur. Berkaitan dengan qadha puasa Ramadhan, maka berdasarkan dalil firman Allah Ta’ala:

… فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ … (البقرة: ١٨٤)

“… Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. …” (QS Al-Baqarah [2]: 184)

Ayat ini menunjukkan adanya kewajiban qadha dalam ibadah puasa, yaitu bagi orang-orang yang diberikan udzur.

Hadits Keenam (Hadits ke-190 dalam Kitab Umdatul Ahkam)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كان يكون علي الصوم من رمضان ، فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان

“Aku memiliki hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu untuk meng-qadha-nya kecuali di bulan Sya’ban.”

Hadits Ketujuh (Hadits ke-191 dalam Kitab Umdatul Ahkam)

[48:01]
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Baca Juga:
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia punya hutang puasa, maka walinya (ahli waris) harus berpuasa (sebagai ganti puasa) untuknya.”

Hadits Kedelapan (Hadits ke-192 dalam Kitab Umdatul Ahkam)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، إن أمي ماتت وعليها صوم شهر . أفأقضيه عنها ؟ فقال : لو كان على أمك دين أكنت قاضيه عنها ؟ قال : نعم . قال : فدين الله أحق أن يقضى .

“Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan ia punya hutang puasa 1 bulan, apakah aku meng-qadha puasa baginya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan, “Bagaimana kalau ibumu punya utang, apakah engkau akan membayarnya?” (Yang dimaksud di sini adalah punya hutang kepada sesama manusia.) Orang tersebut menjawab, “Iya,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan (dibayar / dilunasi).””

Silakan download ceramah agama yang sangat pas kita dengarkan untuk persiapan bulan Ramadhan kita. Bahasan tentang puasa Ramadhan ini masih panjang, simak terus program kajian kitab Umdatul Ahkam di pertemuan ilmiah berikutnya. Hanya di Radio Rodja dan RodjaTV.

Download Ceramah Agama Seri Kajian Kitab Umdatul Ahkam – Ustadz Abu Qatadah: Kitab Puasa (Bagian ke-4): Hukum Puasa Qadha / Qadha Puasa Ramadhan

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits 981-986 - TPP: Larangan Berpuasa Hari Jumat, Kewajiban Taat kepada Pemimpin, Larangan Fanatik Golongan, dan Seterusnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Ayo kita share ceramah ini, di mana bulan Ramadhan insya Allah akan segera tiba. Dengan men-share ini ke Facebook, Twitter, dan Google+, insya Allah akan sangat membantu saudara Muslimin kita untuk mengilmui tentang puasa Ramadhan. Jazakumullahu khoiron.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

90 ÷ 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.