Kaidah Fiqih - Mandzuumah Ushuulil Fiqhi wa Qawaa'idihi
Kaidah Fiqih: Makna Lafadz “Kaana”, Penggunaan dan Fungsinya – Bait 96 (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.)
Kajian kaidah fiqih oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.
Berikut ini merupakan lanjutan dari pelajaran Kaidah Fiqih yang disampaikan oleh Ustadz Kurnaedi pada Kamis pagi, 2 Dzulqa’dah 1435 / 28 Agustus 2014 di Radio Rodja dan RodjaTV. Pada pertemuan sebelumnya, Ustadz Kurnaedi telah menjelaskan tentang Kaidah Fiqih: Seluruh Apa yang Terpisah dari Anggota Tubuh Makhluk, maka Hukum Kesucian dan Kehalalannya Sama Seperti Bangkainya (Bait ke-95), dan pada kajian kali ini beliau akan menjelaskan tentang Kaidah Fiqih “Makna Lafadz “Kaana”, Penggunaan dan Fungsinya (Bait ke-96)“. Semoga bermanfaat.
[sc:status-kaidah-fiqih-ustadz-kurnaedi-2013]Ringkasan Kajian Kaidah Fiqih
Kaidah Fiqih Bait ke-96:Makna Lafadz “Kaana”, Penggunaan dan Fungsinya (وكان تأتي للدوامِ غالبا وليس ذا بلازمٍ مُصاحِباً)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
وكان تأتي للدوامِ غالبا وليس ذا بلازمٍ مُصاحِباً
“Secara umum kata “kaana” ini biasanya untuk menunjukan makna dawwam, tetapi hal ini tidak harus selalu maknanya seperti itu”
Kaidah ini menjelaskan bahwa lafadz “kaana” secara umum itu menunjukan makna dawwam, namum pada kondisi tertentu tidak demikian.
Bagaimana penjelasan rinci tentang penerapan kaidah ini? Download rekaman ceramah agama ini dan simak penjelasan Ustadz Kurnaedi tentang kaidah ini, yang beliau ambil dari Mandzumah Ushulil Fiqhi wa Qawaidihi karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.
Download Kajian Kaidah Fiqih, Kitab Mandzumah Ushul Al-Fiqh wa Qawa’idihi: “Makna Lafadz “Kaana”, Penggunaan dan Fungsinya”
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.




