Masjid Al-Barkah

Harta Haram Muamalat Kontemporer

Cara Bertaubat dari Harta Haram dan Muamalah dengan Pemilik Harta Haram – Harta Haram Muamalat Kontemporer (Ustadz DR Erwandi Tarmizi, M.A.)

By  |  pukul 7:50 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 18 Desember 2013 pukul 10:09 am

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=4695

Kajian oleh: Ustadz DR Erwandi Tarmizi, M.A.

Alhamdulillah, dapat kita lanjutkan kajian Harta Haram Muamalat Kontemporer pada Senin malam, 13 Shafar 1435 / 16 Desember 2013, ba’da Maghrib hingga dilanjut setelah shalat Isya’ di Masjid Al-Barkah, dan alhamdulillah pula kita dapat download rekaman kajian ini. Ustadz Erwandi Tarmizi setelah menjelaskan pada pertemuan yang lalu tentang Cara Bertaubat dari Harta Haram, dan kini masih melanjutkan tema tersebut dan Muamalah kepada Pemilik Harta Haram.

[sc:status-harta-haram-muamalat-kontemporer-ustadz-erwandi-tarmizi-2013]

Ringkasan Kajian Harta Haram Muamalat Kontemporer: Cara Bertaubat dari Harta Haram dan Muamalah dengan Pemilik Harta Haram

Pada pertemuan sebelumnya, pada bab bertaubat dari harta haram tentang bagaimana pertaubatan seseorang dari harta yang didapatkan dengan cara pihak kedua (lawan transaksi) tidak meridhai, dan Allah tidak rela (tidak ridha) dengan transaksi tersebut.

Sekarang, bila lawan transaksinya menyetujui, rela, atau ridha, tetapi akadnya adalah akad yang diharamkan, seperti akad riba, akad yang mengandung unsur gharar, sewa-menyewa dengan objek sewa-menyewa berupa sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka, yakni si peminjam, setuju untuk dan rela membayar riba, karena merasa “tidak ada masalah”, kebutuhan tertutupi dalam waktu sesingkat mungkin, sehingga rela memberikan kompensasi dalam bentuk pertambahan. Yang memberikan pinjaman yakni yang mendapat pertambahan ini tentu lebih rela lagi. Apakah kerelaan mereka berdua ini menjadi halal? Maka sering kita katakan, Tidak, karena Allah tidak meridhainya, tidak merelakan perbuatan mereka. Bila bertaubat, maka apa konsekuensinya?

Baca Juga:
Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas - Bagian ke-4 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Kalau yang membayar riba, yakni dia sebagai pihak yang dirugikan, seperti membeli dengan tidak tunai, dia hanya punya uang DP untuk dibayar ke penjual, dan meminjam uang orang lain dengan ada pertambahan bentuk bunga / penalty, maka pembeli ini didzalimi, dia yang dirugikan, dia yang membayar riba. Ketika dia bertaubat, apa yang dia lakukan?

Simak ulasannya dengan download rekaman kajian ini atau dengarkan langsung melalui player yang tersedia.

Download Kajian Fiqih Muamalah – Harta Haram Muamalat Kontemporer

Silakan bagikan tautan ini ke Facebook, Twitter, dan Google+. Jazakumullahu khoiron.

7 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.