Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com Menebar Cahaya Sunnah Mon, 16 Sep 2019 06:56:43 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.3 https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/cropped-radio-rodja-512px-emblem-1-32x32.png Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com 32 32
Studio Radio Rodja dan RodjaTV
Jl. Pahlawan (belakang Polsek Cileungsi)
Kp. Tengah RT03 / RW03
Kecamatan Cileungsi
Bogor – 16820

Nomor Telepon Interaktif: 021 823 6543
SMS: 081 989 654
Email: info@rodja.co.id]]>
Radio Rodja 756 AM clean episodic Radio Rodja 756 AM info@rodja.co.id info@rodja.co.id (Radio Rodja 756 AM) Copyright © Radio Rodja 756 AM 2018 Menebar Cahaya Sunnah Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/radio-rodja-200px.jpg https://www.radiorodja.com 114584281 Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam https://www.radiorodja.com/47690-pengertian-malu-dalam-islam-dan-sifat-malu-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/ Mon, 16 Sep 2019 06:56:43 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47690 https://www.radiorodja.com/47690-pengertian-malu-dalam-islam-dan-sifat-malu-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/#respond https://www.radiorodja.com/47690-pengertian-malu-dalam-islam-dan-sifat-malu-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed/ 0 <p>Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Kajian ini disampaikan pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Sifat Malu Dalam Islam Kajian Tentang Pengertian Malu dalam Islam […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47690-pengertian-malu-dalam-islam-dan-sifat-malu-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/">Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Kajian ini disampaikan pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Sifat Malu Dalam Islam
Kajian Tentang Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Kitab Ahsanul Bayan
Pada kesempatan yang lalu, kita baca satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dihukumi oleh ulama dengan hadits hasan li ghairihi. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Nabi Allah, kita semua malu dan segala puji milik Allah.” Kemudian Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Bukan itu yang dimaksud, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu yang pertama kamu menjaga kepalamu dan apa yang ada di sekitar kepalamu, dan kau jaga perutmu dan apa yang masuk ke dalam perutmu, kau mengingat kematian serta kebinasaan, barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaknya dia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa yang sanggup melakukan hal itu maka dia telah malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)
Para pertemuan yang lalu kita telah membahas tentang makna dari menjaga kepala dan apa yang ada di sekitar kepala. Ini adalah malu yang pertama menurut Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, malu kepada Allah.
2. Menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya
“Menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya” atau bisa juga diartikan “kau jaga perut dan apa yang ada di sekitar perut.”
Syaikh Rahimahullah berkata, “jaga perutmu dari yang haram.” Beliau juga berkata bahwa orang yang memakan riba, maka dia belum malu kepada Allah. Orang yang menyogok dan disogok terlaknat dalam hal apapun. Sebab dari kehancuran adalah menyogok dan disogok. Orang yang memenuhi perutnya dengan memakan hasil sogokan, dia belum malu kepada Allah.
Orang yang menipu ketika melakukan jual beli, dia makan dan anak-anaknya juga diberi nafkah dengan hasil tipuan, dia belum malu kepada Allah.Dan perlu diingat bahwa Rasul yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Sallam bersabda:
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Setiap daging yang tumbuh karena barang yang haram maka lebih pantas untuk dibakar dengan api.” (HR. Thabrani)
Kata Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى
“Kau jaga perut dan yang ada di sekitar perut.” Masuk kedalamnya adalah kemaluan. Yakni menjaga perut dan menjaga kemaluan di dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Al-Bukhari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ
“Siapa yang menjamin kepadaku apa yang ada di antara kumis dan jenggotnya, dan diantara dua kakinya, maka aku jamin untuknya surga.” (HR. Bukhari)
Maka kalau seseorang sudah bisa menjaga perut dan apa yang ada di...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47690
Hadits Tentang Kisah Isra' Mi'raj https://www.radiorodja.com/47694-hadits-tentang-kisah-isra-miraj/ Mon, 16 Sep 2019 04:07:14 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47694 https://www.radiorodja.com/47694-hadits-tentang-kisah-isra-miraj/#respond https://www.radiorodja.com/47694-hadits-tentang-kisah-isra-miraj/feed/ 0 <p>Hadits Tentang Kisah Isra’ Mi’raj adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 11 Dzul Qa’idah 1440 H / 14 Juli 2019 M. Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini Kajian Hadits Tentang Hadits Tentang Kisah Isra’ Mi’raj […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47694-hadits-tentang-kisah-isra-miraj/">Hadits Tentang Kisah Isra’ Mi’raj</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Tentang Kisah Isra’ Mi’raj adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 11 Dzul Qa’idah 1440 H / 14 Juli 2019 M. Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 11 Dzul Qa’idah 1440 H / 14 Juli 2019 M.

Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini
Kajian Hadits Tentang Hadits Tentang Kisah Isra’ Mi’raj
Kita masuk hadits yang ke-60 dari Malik bin Sha’sha’ah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
بَيْنَا أَنَا عِنْدَ الْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ-وَذَكَرَ يعنِي رَجُلاً بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ
“Ketika aku berada di sisi Ka’bah antara tidur dan bangun. Beliau menyebutkan seorang laki-laki diantara dua laki-laki.” Artinya ada malaikat yang mendatangi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُلأن حِكْمَةً وَإِيمَانًا، فَشُقَّ مِنَ النَّحْرِ إِلَى مَرَاقِّ الْبَطْنِ، ثُمَّ غُسِلَ الْبَطْنُ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا.
“Lalu dibawakan kepadaku sebuah bejana dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman. Lalu dada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibelah dari nahr (النَّحْرِ) sampai bawah perut, kemudian perut dicuci dengan zam-zam, kemudian dipenuhi dengan hikmah dan keimanan.”
Ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak Isra’ Mi’raj. Kemudian sebelum Isra’ Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibelek (dibelah) terlebih dahulu dan dikeluarkan hatinya dan dicuci.
Apa hikmahnya?
Kata para ulama hikmahnya adalah bahwa Rasulullah hendak bertemu dengan Allah. Karena hendak bertemu dengan Allah dalam keadaan hati yang bersih dan suci.
Atas dasar itu -kata para ulama- jika kita hendak bermunajat dengan Allah, maka kita berusaha untuk membawa hati yang bersih.
Untuk yang ingin pergi haji -misalnya- tentu nanti di sana akan melakukan ibadah-ibadah yang agung di sana, akan banyak bermunajat kepada Allah di sana. Maka sebelum antum pergi haji, bersihkanlah dulu hatimu. Sebab ketika hati itu kurang bersih, menyebabkan ibadah kita jadi kurang.
Misalnya hati kita masih dikotori dengan ketidakikhlasan, masih mengharapkan pujian manusia, masih mengharapkan syahwat dunia, itu sangat berpengaruh kepada ibadah kita.
Orang yang masih mengharapkan dunia, misalnya saya pergi haji agar mendapatkan gelar “Pak Haji”, biar orang bisa melihat bahwa saya bisa haji dan yang lainnya, sehingga hilang ikhlasnya. Demikian pula ketika kita berhaji namun hati kita masih kotor dengan syahwat, dengan hawa nafsu, kadang akhirnya kita malah jatuh berbuat dosa di tanah haram. Sementara berbuat dosa di tanah haram bahkan di negeri haram, di bulan haram, di hari yang haram, itu dosanya dilipat-lipat kali ganda. Bahaya sekali.
وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ دُونَ الْبَغْلِ وَفَوْقَ الْحِمَارِ الْبُرَاقُ،
“Lalu dibawakan kepadaku binatang yang berwarna putih. Dia lebih kecil dari bighal (binatang hasil kawin silang antara kuda dengan keledai) dan lebih besar dari keledai, yaitu kendaraan Buraq.”
Disebutkan dalam satu riwayat yang lain:
يضع خطوة عند أقصى طرفه
“Dia meletakkan langkahnya itu sejauh mata memandang”
Itulah Buraq. Adapun bagaimana bentuknya hanya Allah Yang Maha Tahu. Yang jelas tidak boleh digambarkan bahwa Buraq itu kepalanya perempuan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47694
Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti https://www.radiorodja.com/47678-pengikut-hukumnya-mengikuti-sesuatu-yang-dia-ikuti/ Tue, 10 Sep 2019 06:59:50 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47678 https://www.radiorodja.com/47678-pengikut-hukumnya-mengikuti-sesuatu-yang-dia-ikuti/#respond https://www.radiorodja.com/47678-pengikut-hukumnya-mengikuti-sesuatu-yang-dia-ikuti/feed/ 0 <p>Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz DR. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. dalam pembahasan Kitab Qawaa’idul Fiqhiyyah (Mukadimah Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fikih Islam). Kajian ini disampaikan pada 1 Ramadhan 1440 H / 06 Mei 2019 M. Download kajian sebelumnya: Menggabungkan Beberapa Niat Dalam Satu Ibadah – Ushul Fiqih Kajian Islam Ilmiah Tentang […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47678-pengikut-hukumnya-mengikuti-sesuatu-yang-dia-ikuti/">Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz DR. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. dalam pembahasan Kitab Qawaa’idul Fiqhiyyah (Mukadimah Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fikih Islam). Ustadz DR. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. dalam pembahasan Kitab Qawaa’idul Fiqhiyyah (Mukadimah Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fikih Islam). Kajian ini disampaikan pada 1 Ramadhan 1440 H / 06 Mei 2019 M.
Download kajian sebelumnya: Menggabungkan Beberapa Niat Dalam Satu Ibadah – Ushul Fiqih
Kajian Islam Ilmiah Tentang Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti
Kajian kita pada kesempatan kali ini akan membahas tentang kaidah yang sangat luas cakupannya. Kaidah tersebut adalah kaidah yang sangat ringkas namun masalah yang dicakupnya sangat banyak sekali.
التَّابِعُ تَابِعٌ
“Pengikut itu hukumnya mengikuti sesuatu yang dia ikuti”
Maksud dari kaidah ini adalah apabila ada sesuatu yang keberadaannya mengikuti sesuatu yang lain, maka hukumnya juga mengikuti sesuatu yang lain tersebut.
Dalil ke-1 dari kaidah ini diantaranya adalah sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
“Sembelihan janin itu mengikuti sembelihan induknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ketika kita menyembelih -misalnya- sapi dan ternyata ketika disembelih sapinya dalam keadaan ada anaknya di dalam perutnya. Ketika kita sembelih dan anaknya ketika keluar sudah mati, maka anak yang belum disembelih tersebut boleh kita makan walaupun sudah mati. Justru ketika sudah mati itulah hukumnya mengikuti sembelihan ibunya. Kalau induknya mati karena disembelih dengan cara yang syar’i, maka janin yang sudah mati tersebut boleh kita makan. Hal ini karena sembelihannya tersebut mengikuti sembelihan induknya.
Berbeda kalau misalnya ketika induknya sudah disembelih, kemudian ketika kita membuka perutnya ternyata janinnya masih hidup, maka itu membutuhkan sembelihan yang lain lagi. Karena di sini seakan-akan dia sudah berdiri sendiri dan tidak mengikuti ibunya. Kalau matinya mengikuti ibunya, maka hukumnya mengikuti ibunya. Ketika induknya disembelih dan mati, akhirnya janinnya mati, maka sembelihan ibunya itu sudah cukup sebagai sembelihan janinnya.
Ini menjadi dalil atau dasar akan benarnya kaidah yang sedang kita bahas.
Dalil ke-2 yang menunjukkan benarnya kaidah yang sedang kita bahas adalah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“Sesungguhnya imam tidaklah dijadikan sebagai imam kecuali untuk diikuti.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sehingga makmum harus mengikuti imamnya. Tidak boleh makmum menyendiri. Tidak boleh makmum mendahului. Makmum harus mengikuti imamnya. Misalnya imamnya lupa namun makmumnya tidak lupa, maka tetap ketika imam bersujud sahwi -walaupun makmum tidak lupa- makmum harus mengikuti imamnya dalam sujud sahwi. Sebaliknya juga demikian. Apabila imam tidak lupa dan makmum lupa, maka pada keadaan demikian makmum harus tetap mengikuti imam. Karena imannya tidak sujud sahwi, maka makmumnya juga tidak sujud sahwi. Karena kaidah kita adalah bahwa sesuatu yang mengikuti itu hukumnya mengikuti sesuatu yang dia ikuti.
Dalil ke-3 dari kaidah ini adalah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa barang siapa yang menjual pohon kurma ketika sedang berbunga dan sudah dikawinkan, maka buahnya milik penjual. Kecuali apabila pembeli mensyaratkan bahwa buah tersebut juga ikut dalam akad jual beli.
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan hukum khusus pada jual beli pohon kurma ketika sedang berbunga. Kalau pohon kurma tersebut sedang berbunga dan sudah dikawinkan,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47678
Sifat Malu Dalam Islam https://www.radiorodja.com/47680-sifat-malu-dalam-islam/ Tue, 10 Sep 2019 06:50:48 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47680 https://www.radiorodja.com/47680-sifat-malu-dalam-islam/#respond https://www.radiorodja.com/47680-sifat-malu-dalam-islam/feed/ 0 <p>Sifat Malu Dalam Islam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Kajian ini disampaikan pada 10 Sya’ban 1440 H / 16 April 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Kisah Para Sahabat Nabi dalam Meraih Surga Kajian Tentang Sifat Malu Dalam Islam – Kitab Ahsanul Bayan […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47680-sifat-malu-dalam-islam/">Sifat Malu Dalam Islam</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Sifat Malu Dalam Islam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Kajian ini disampaikan pada 10 Sya’ban 1440 H / 16 April 2019 M. Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman. Kajian ini disampaikan pada 10 Sya’ban 1440 H / 16 April 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Kisah Para Sahabat Nabi dalam Meraih Surga
Kajian Tentang Sifat Malu Dalam Islam – Kitab Ahsanul Bayan
1. Sifat malu ini adalah bagian dari keimanan
Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata bahwa suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati seseorang dari kalangan Anshar. Dia sedang menasehati saudaranya tentang masalah malu. kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.
“Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu bagian dari keimanan” (Muttafaqun ‘alaih)
Maksudnya adalah jangan diingkari rasa malu yang ada padanya. Karena Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa rasa malu yang ada pada dia adalah bagian daripada keimanan. Jadi, rasa malu ini adalah bagian daripada iman.
2. Rasa Malu merupakan cabang dari cabang-cabang keimanan
Yang ke-2 dari keutamaan rasa malu adalah bahwa rasa malu adalah cabang dari keimanan. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
“Iman itu memiliki tujuh puluh tiga cabang lebih atau enam puluh tiga cabang lebih. Yang paling afdzal dari cabang keimanan adalah perkataan Laa Ilaha Illallaah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian di dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Tirmidzi, dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad dan yang lainnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الحَيَاءُ وَالعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الإِيمَانِ ، وَالبَذَاءُ وَالبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ
“Rasa malu dan sedikit bicara adalah dua cabang daripada keimanan. Sedangkan berkata keji, banyak bicara merupakan cabang dari pada kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya)
3. Rasa Malu Kawannya Iman
Kalau ada iman, maka akan ada rasa malu. Kalau iman itu hilang dari seseorang maka hilang rasa malunya. Jadi iman dan rasa malu itu berkawan. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad kemudian juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya:
اَلْحَيَاءُ وَالْإِيْمَانُ قُرَنَاءُ جَمِيْعًا، فإذا رُفِعَ أحدهما رُفِعَ الآخر
“Rasa malu dan keimanan itu saling berkawan. Apabila salah satunya diangkat maka akan diangkat yang lainnya.” (HR. Bukhari dan yang lainnya)
4. Rasa malu itu bagian dari agama Islam
Rasa malu itu bagian dari agama Islam bahkan rasa malu merupakan agama Islam secara keseluruhannya. Berkata seseorang, “Kami pernah di samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian disebutlah tentang sifat malu di sisi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berkata:
يَـا رَسُوْلَ اللهِ َاْلحَيَاءُ مِنَ الدِّيـْنِ؟
“Wahai Rasulullah, rasa malu itu sebagian daripada agama.”
Maka Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
بَـلْ هُوَ الدِّيـْنُ كُـلُّهُ
“Justru rasa malu itu semua agama”,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47680
Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah? https://www.radiorodja.com/47668-apakah-kebaikan-sebelum-masuk-islam-tetap-dicatat-oleh-allah/ Mon, 09 Sep 2019 03:44:37 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47668 https://www.radiorodja.com/47668-apakah-kebaikan-sebelum-masuk-islam-tetap-dicatat-oleh-allah/#respond https://www.radiorodja.com/47668-apakah-kebaikan-sebelum-masuk-islam-tetap-dicatat-oleh-allah/feed/ 0 <p>Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 19 Syawwal 1440 H / 23 Juni 2019 M. Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini Download mp3 kajian sebelumnya: Pahala […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47668-apakah-kebaikan-sebelum-masuk-islam-tetap-dicatat-oleh-allah/">Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah?</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 19 Syawwal 1440 H / 23 Juni 2019 M.

Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini
Download mp3 kajian sebelumnya: Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat
Kajian Hadits Tentang Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah?
Yang dimaksud dengan masa jahiliyah yaitu sebelum masuk Islam. Karena jahiliyah apabila dimutlakkan maksudnya adalah sebelum Islam. Adapun setelah masuk Islam maka tidak disebut lagi jahiliyyah. Yang disebut masa jahiliyah itu kalau dia belum masuk Islam.
Makanya sebagian teman-teman yang hijrah berkata “dulu saya ketika masih masa jahiliyah” Kita katakan, “Antum mualaf? Kalau Antum muslim tidak bisa disebut sebagai masa jahiliyah.” Tapi kalau dikatakan, dulu waktu masih jahil, ini tidak masalah.
Orang yang beramal amal kebaikan di masa jahiliyah kemudian masuk Islam, bagaimana? Apakah amalan kebaikannya itu ditulis Allah atau tidak?
Hadits ke-55:
عن حَكِيم بن حِزَامٍ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ:يَا رَسُولَ اللهِ! أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ: مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ،  هَلْ لِي فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟  قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ”.
وفي رواية: عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ حَكِيمًا أَعْتَقَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِائة رَقَبَةٍ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَة بَعِيرٍ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ، وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ.
Dari Hakim bin Hizam bahwasanya ia berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang perkara-perkara kebaikan yang dahulu di masa jahiliyah sebelum saya masuk Islam aku melakukannya: berupa menyambung tali silaturahim, memerdekakan budak, bersedekah, Apakah aku mendapatkan pahala hai Rasulullah?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau masuk Islam diatas kebaikan kebaikan yang telah kamu lakukan dahulu”
Dan dalam riwayat dari Urwah: Bahwa Hakim bin Hizam memerdekakan di masa jahiliyah 100 budak dan membantu orang diatas 100 unta. Ketika ia masuk Islam perbuatan itu tetap dilakukan.
Hadits ini menjadi perselisihan para ulama, apakah orang ketika di masa jahiliyah (sebelum Islam), mengamalkan amalan-amalan kebaikan berupa berbuat baik kepada orang lain, kemudian setelah itu dia masuk Islam, apakah amalan tersebut dicatat oleh Allah, diterima atau tidak?
Menjadi 2 pendapat ulama. Sebagian ulama mengatakan tidak diterima. Bagaimana akan diterima -kata mereka-? Bukankah amalan orang kafir itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Sebagian mengatakan bahwa kalau ia masuk Islam maka amalan-amalan kebaikan yang dahulu disaat masih jahiliyah itu ia lakukan, berupa sedekah, amal kebaikan, maka tetap dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai karunia yang Allah berikan kepada dia. Dan ini pendapat yang kuat. Dan ini yang dibela oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah. Dasarnya adalah hadits ini. Karena Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah tentang amalan-amalan kebaikan yang ia lakukan dahulu waktu masih masa jahiliyah. Kemudian apa kata Rasulullah? Rasulullah mengatakan:
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47668
Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya https://www.radiorodja.com/47666-hadits-arbain-ke-9-kerjakan-perintah-semampunya-dan-jangan-banyak-bertanya/ Mon, 09 Sep 2019 01:32:26 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47666 https://www.radiorodja.com/47666-hadits-arbain-ke-9-kerjakan-perintah-semampunya-dan-jangan-banyak-bertanya/#respond https://www.radiorodja.com/47666-hadits-arbain-ke-9-kerjakan-perintah-semampunya-dan-jangan-banyak-bertanya/feed/ 0 <p>Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 12 Dzul Hijjah 1440 H / 13 Agustus 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47666-hadits-arbain-ke-9-kerjakan-perintah-semampunya-dan-jangan-banyak-bertanya/">Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi K... Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 12 Dzul Hijjah 1440 H / 13 Agustus 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat
Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya
Kita akan mempelajari bersama hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan hadits ke 9 dari rangkaian Al-Arba’in An-Nawawiyah. Dalam hadits ini Abu Hurairah mengatakan:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
“Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: apa-apa yang aku larang hendaknya kalian menjauhinya dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian hendaknya kalian melakukannya semampu kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka kepada Nabi-Nabi mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sirah Singkat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu
Hadits ini adalah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Dan ini adalah hadits pertama Abu Hurairah dalam Arba’in An-Nawawiyah. Beliau adalah Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan salah satu sahabat mulia, sahabat penuntut ilmu. Dan saking giatnya beliau akhirnya beliau menjadi sahabat dengan riwayat hadits paling banyak.
Makanya kita sering mendengar di berbagai kajian tentang hadits, “dari Abu Hurairah, dari Abu Hurairah, dari Abu Hurairah”. Sering sekali nama beliau disebut karena memang beliau adalah sahabat dengan riwayat hadits paling banyak. Riwayat hadits beliau mencapai lebih dari 5.000 hadits.
Uniknya, beliau mengumpulkan semua hadits itu hanya dalam 4 tahun saja. Karena beliau baru masuk Islam pada tahun 7 Hijriyah. Yakni 4 tahun sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun karena kegigihan beliau akhirnya beliau bisa mengejar ketertinggalan bahkan bisa mengalahkan para sahabat senior dari sisi pengumpulan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan riwayat hadits dari beliau.
Sungguh pada kisah beliau ini ada pelajaran penting bagi kita bahwasanya kalau ada di antara kita yang agak terlambat dalam mencintai ilmu agama, baru tertarik belajar ilmu agama saat usia kita sudah tidak belia lagi, maka jangan pesimis, jangan putus asa, anda bisa menjadi seperti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Dia terlambat tapi akhirnya bisa mengejar bahkan mengalahkan orang-orang yang sebelumnya. Itu kalau kita bersungguh-sungguh dan menggunakan metode yang benar dalam menuntut ilmu. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meninggal pada tahun ke-59 Hijriah. Ini adalah sedikit tentang sirah beliau.
Pembahasan Hadits Arbain Ke 9
Hadits ini firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Apa-apa yang Allah bawa kepada kalian maka ambilah dan apa-apa yang beliau larang maka jauhilah...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47666
Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat https://www.radiorodja.com/47629-pahala-kebaikan-ditulis-10-sampai-700-kali-lipat/ Fri, 06 Sep 2019 14:12:39 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47629 https://www.radiorodja.com/47629-pahala-kebaikan-ditulis-10-sampai-700-kali-lipat/#respond https://www.radiorodja.com/47629-pahala-kebaikan-ditulis-10-sampai-700-kali-lipat/feed/ 0 <p>Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 15 Sya’ban 1440 H / 21 April 2019 M. Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini Download mp3 kajian sebelumnya: Seorang Mukmin […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47629-pahala-kebaikan-ditulis-10-sampai-700-kali-lipat/">Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 15 Sya’ban 1440 H / 21 April 2019 M.

Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini
Download mp3 kajian sebelumnya: Seorang Mukmin Takut Amalnya Batal Dalam Keadaan Ia Tidak Menyadarinya
Kajian Hadits Tentang Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat
Hadits ke-52:
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
وفي رواية: وَإِنْ تَرَ كَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً
وفي حديث أَبِي سَعِيْدٍ مُعَلَّقا: والسَّيئَةُ بِمِثْلِهَا، إلَّا أن يتَجَاوَزَ اللهُ عَنْها
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anha -semoga Allah meridhainya- ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian memperbagus keislamannya, maka setiap kebaikan yang ia amalkan ditulis untuknya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang ia amalkan ditulis sama dengannya.
Dan dalam satu riwayat: Jika ia meninggalkan keburukan tersebut karena takut kepadaKu, maka tuliskan untuk dia satu kebaikan.
Dan dalam hadits Abu Sa’id secara mu’allaq: Dan perbuatan buruk itu diberikan balasan yang sama kecuali apabila Allah memaafkan.
Hadits ini mirip dengan hadits sebelumnya, yaitu di hadits 51 yang telah kita jelaskan. Dimana dalam hadits ke-51 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang bagaimana Allah memberikan pahala amal kebaikan dan amal keburukan. Untuk amal kebaikan, orang yang mengamalkan kebaikan maka ditulis 10 sampai 700 kali lipat, bahkan bisa lebih dari itu.
Adapun kalau dia sudah berniat berbuat baik kemudian tidak jadi mengamalkannya, maka ini ada dua keadaan. Keadaan yang pertama dia meninggalkan karena ada udzur, keadaan yang kedua yaitu dia meninggalkannya karena tidak ada udzur syar’i. Misalnya kalau ada orang yang berniat ingin puasa senin atau kamis kemudian ia tinggalkan. Ada orang yang meninggalkannya karena ada udzur syar’i berupa sakit dan yang lainnya. Makanya ada udzur syar’i ini ada dua keadaan. Keadaan yang pertama yaitu orang yang memiliki kebiasaan. Berarti orang yang memiliki kebiasaan puasa senin kamis, dia sudah terbiasa puasa senin kamis itu. Qadarullah ketika dia berniat ingin puasa senin tapi ternyata pagi harinya dia sakit sehingga ia tidak bisa mengamalkannya. Maka ini sebagaimana sudah kita sebutkan bahwa orang ini diberikan oleh Allah pahala sempurna seperti dia melakukannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau safar maka ditulis untuknya pahala itu seperti ketika ia mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari)
Lihat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa kalau hamba ini sakit atau safar, maka Allah tuliskan dari shalatnya -shalat lima waktu, karena ia punya kebiasaan- sama seperti tidak safar dan tidak sakit. Artinya pahalanya sama.
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47629
Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram https://www.radiorodja.com/47659-khutbah-jumat-bulan-muharram-tentang-puasa-muharram/ Thu, 05 Sep 2019 00:51:29 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47659 https://www.radiorodja.com/47659-khutbah-jumat-bulan-muharram-tentang-puasa-muharram/#respond https://www.radiorodja.com/47659-khutbah-jumat-bulan-muharram-tentang-puasa-muharram/feed/ 0 <p>Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Muharram 1438 H. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47659-khutbah-jumat-bulan-muharram-tentang-puasa-muharram/">Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Muharram 1438 H. khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Muharram 1438 H.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan demi kenikmatan, segala puji bagi Allah yang telah banyak menurunkan kepada kita banyak karunia demi karunia. Diantara karunia yang Allah berikan kepada kita yaitu kita masuk di awal tahun hijriah di bulan Muharram ini.
Dan Subhanallah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan awal tahun hijriah itu bulan haram, dan menjadikan akhir tahun hijriah pun bulan haram. Diawali tahun hijriah dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Keduanya adalah bulan haram, seakan memberikan kepada kita sebuah isyarat agar memulai tahun dengan kebaikan dan mengakhiri tahun dengan kebaikan. Karena bulan-bulan haram merupakan bulan-bulan kebaikan, Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya jumlah bulan ketika Allah menciptakan langit dan bumi adalah dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
Kita memulai tahun ini dengan bulan Muharram, dimana bulan Muharram adalah bulan yang Allah istimewakan. Diantara keistimewaan bulan Muharram, Allah menamainya sebagai bulan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ
“Bulan Allah Muharram” (HR. Muslim)
Allah menyebutkan bahwa Muharram itu bulan Allah. Itu menunjukkan betapa agungnya bulan ini. Bulan Muharram yang Allah haramkan atas kita semua. Sebagaimana kita sering mendengar penjelasan dari para asatidzah bahwa di bulan-bulan haram, amalan-amalan keburukan dilipatgandakan menjadi besar. Karena Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Jangan kalian mendzalimi diri-diri kalian sendiri di bulan-bulan haram tersebut.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
Artinya berbuat dzalim di bulan itu akan Allah lipat gandakan, Allah besarkan dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian pula amalan shalih pun dibesarkan pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diantara amalan yang bisa kita amalkan di bulan Muharram, saudaraku. Yaitu yang disebut dengan puasa ‘Asyura. Dimana puasa ‘Asyura kata Rasullullah:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَة
“Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Subhanallah.. betapa agungnya puasa ini. Bahkan di awal-awal Islam,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47659
Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat https://www.radiorodja.com/47645-hadits-arbain-ke-8-mengajak-kepada-kalimat-syahadat/ Wed, 04 Sep 2019 02:03:27 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47645 https://www.radiorodja.com/47645-hadits-arbain-ke-8-mengajak-kepada-kalimat-syahadat/#respond https://www.radiorodja.com/47645-hadits-arbain-ke-8-mengajak-kepada-kalimat-syahadat/feed/ 0 <p>Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 6 Dzul Qa’idah 1440 H / 09 Juli 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 7 – […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47645-hadits-arbain-ke-8-mengajak-kepada-kalimat-syahadat/">Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahima... Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 6 Dzul Qa’idah 1440 H / 09 Juli 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat
Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 8 – Mengajak Kepada Kalimat Syahadat
Kajian kali ini membahas hadits arbain ke 8, yaitu hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
“Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, kemudian menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan kalau mereka sudah lakukan itu berarti mereka telah menjaga harta dan jiwa mereka berarti mereka telah menjaga dari saya darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka adalah urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah sebuah hadits yang agung riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma yang biografi singkatnya sudah kita jelaskan dalam hadits sebelumnya. Dalam hadits ini beliau meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada yang Tuhan berhak disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah. Kemudian mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat.”
Hadits ini menunjukkan bahwasanya di antara bagian syariat Islam yang agung adalah syariat jihad, mengajak manusia kepada Islam, kepada pengakuan bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah. Ini adalah bagian dari jihad, bagian dari Islam dalam rangka menyelamatkan orang-orang dari kemusyrikan. Dan ini adalah dakwahnya para Rasul semuanya, tidak hanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi seluruh Nabi dari Nabi Adam ‘Alaihis Salam sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka semuanya mendakwahkan tauhid ini.
Dalam hadits shahih yang lain Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya para Nabi ini adalah anak-anak dari satu ayah yang beda ibu. Satu ayah artinya adalah bahwa intisari ajaran agamanya sama. Namun mereka berbeda dalam beberapa syariat yang mereka ajarkan. Ini adalah ajaran para Nabi semuanya dan ini adalah intisari ajaran agama Islam. Dan kalau mereka tidak mau untuk memenuhi panggilan ini maka mereka bisa diperangi dengan syarat-syarat tertentu.
Tapi kalau mereka sudah memenuhi panggilan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau para ulama setelah beliau yang mengajak mereka kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah, maka mereka sudah dianggap masuk Islam.
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47645
Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi https://www.radiorodja.com/47643-khutbah-jumat-tentang-kematian-seorang-mukmin-ditangisi-langit-dan-bumi/ Mon, 02 Sep 2019 11:51:42 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47643 https://www.radiorodja.com/47643-khutbah-jumat-tentang-kematian-seorang-mukmin-ditangisi-langit-dan-bumi/#respond https://www.radiorodja.com/47643-khutbah-jumat-tentang-kematian-seorang-mukmin-ditangisi-langit-dan-bumi/feed/ 0 <p>Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 29 Dzul Hijjah 1440 H / 30 Agustus 2019 M. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi إنَّ […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47643-khutbah-jumat-tentang-kematian-seorang-mukmin-ditangisi-langit-dan-bumi/">Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 29 Dzul Hijjah 1440 H / 30 Agustus 2019 M.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Kematian Seorang Mukmin Ditangisi Langit dan Bumi
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memulikan orang yang beriman dengan semulia-mulianya. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang memberikan manfaat untuk dunia dan akhiratnya. Bahkan saudaraku, orang-orang yang beriman itu apabila ia meninggal dunia ditangisi oleh bumi dan langit sebagai kemuliaan mereka disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ
“Tidaklah langit dan bumi menangisi mereka (Fir’aun dan bala tentaranya)”
Ada seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Abbas, apakah langit dan bumi bisa menangisi seseorang?” Kata Ibnu Abbas, “Iya”
Seorang mukmin apabila ia meninggal dunia maka Allah telah menyediakan untuk setiap mukmin dan setiap manusia pintu di langit yang dari pintu itu turun-turun rezekinya dan dari pintu itu naik ke amalan shalihnya. Ketika si mukmin itu meninggal dunia, maka langit pun menangis karena telah tertutup satu pintu kebaikan. Demikian pula bumi itu kehilangan tempat dimana si mukmin itu senantiasa beribadah kepada Allah di situ. Sehingga bumi pun menangisi seorang mukmin yang meninggal dunia.
Adapun orang-orang kafir, Fir’aun dan bala tentaranya -kata Ibnu Abbas- mereka tidak memiliki kebaikan apapun di dunia. Sehingga kematian mereka tidak ditangisi oleh langit, tidak pula oleh bumi.
Ummatal Islam,
Karena keimanan memberikan manfaat untuk dunia demikian pula memberikan manfaat untuk langit. Keimanan itu hakikatnya adalah memperbaiki apa yang ada pada manusia berupa ketakwaan, berupa amal, berupa ucapan, demikian pula amalan-amalan shalih. Sementara amalan-amalan shalih itu akan naik kepada Allah. Demikian pula ucapan-ucapan yang baik pun akan naik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada Allah lah ucapan-ucapan yang baik itu akan naik dan Allah pun mengangkat amalan shalih.” (QS. Fatir[35]: 10)
Orang-orang yang beriman senantiasa berusaha untuk beramal kebaikan dalam hidupnya. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan orang-orang yang beriman itu bagaikan lebah. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47643