Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com Menebar Cahaya Sunnah Mon, 22 Jul 2019 06:21:52 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/cropped-radio-rodja-512px-emblem-1-32x32.png Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com 32 32
Studio Radio Rodja dan RodjaTV
Jl. Pahlawan (belakang Polsek Cileungsi)
Kp. Tengah RT03 / RW03
Kecamatan Cileungsi
Bogor – 16820

Nomor Telepon Interaktif: 021 823 6543
SMS: 081 989 654
Email: info@rodja.co.id]]>
Radio Rodja 756 AM clean episodic Radio Rodja 756 AM info@rodja.co.id info@rodja.co.id (Radio Rodja 756 AM) Copyright © Radio Rodja 756 AM 2018 Menebar Cahaya Sunnah Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/radio-rodja-200px.jpg https://www.radiorodja.com 114584281 Anjuran Untuk Senantiasa Bersikap Lembut dan Dibencinya Sikap Tergesa-Gesa https://www.radiorodja.com/47402-anjuran-untuk-senantiasa-bersikap-lembut-dan-dibencinya-sikap-tergesa-gesa/ Mon, 22 Jul 2019 06:21:52 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47402 https://www.radiorodja.com/47402-anjuran-untuk-senantiasa-bersikap-lembut-dan-dibencinya-sikap-tergesa-gesa/#respond https://www.radiorodja.com/47402-anjuran-untuk-senantiasa-bersikap-lembut-dan-dibencinya-sikap-tergesa-gesa/feed/ 0 <p>Anjuran Untuk Senantiasa Bersikap Lembut dan Dibencinya Sikap Tergesa-Gesa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 4 Sya’ban 1440 H / 10 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47402-anjuran-untuk-senantiasa-bersikap-lembut-dan-dibencinya-sikap-tergesa-gesa/">Anjuran Untuk Senantiasa Bersikap Lembut dan Dibencinya Sikap Tergesa-Gesa</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Anjuran Untuk Senantiasa Bersikap Lembut dan Dibencinya Sikap Tergesa-Gesa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang beraka... Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 4 Sya’ban 1440 H / 10 April 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Hadits Tentang Bergaul: Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi
Kajian Anjuran untuk senantiasa bersikap lembut dan dibencinya sikap tergesa-gesa
Di sini beliau membawakan hadits Abu Darda, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ
“Siapa yang diberikan bagian dari kelembutan, sungguh ia telah diberikan bagian dari kebaikan. Dan siapa yang tercegah bagiannya dari sifat lemah lembut, maka ia telah tercegah bagiannya dari kebaikan.” Dalam sanadnya ada perawi yang majhul. Yaitu yang bernama Ya’la bin Mamlak. Akan tetapi hadits ini diriwayatkan dalam hadits-hadits yang lainnya yang semakna. Diantaranya hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits:
فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah lemah lembut itu dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya.” (HR. Abu Dawud)
Karena sifat lemah lembut itu disukai oleh tabiat manusia. Semua manusia menyukai sifat lemah-lembut. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasehati Firaun, Allah memerintahkan keduanya untuk menasehati Firaun dengan lembut. Allah berfirman:
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ﴿٤٣﴾ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ﴿٤٤﴾
“Pergilah kalian berdua kepada Firaun. Sesungguhnya Firaun itu melampaui batas. Dan ucapkan kepada keduanya dengan ucapan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia mau ingat atau takut.” (QS. Tha-Ha[20]: 44)
Kewajiban orang yang berakal adalah berpegang kepada sifat lembut dalam segala macam perkara dan tinggalkan sifat tergesa-gesa dalam segala macam perkara. Tergesa-gesa sebetulnya akibat dari pada kita kurang memikirkannya dengan pikiran yang jauh. Akibatnya kita tergesa-gesa yang seringkali tergesa-gesa itu menimbulkan penyesalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai sifat lembut pada segala macam perkara. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan” (HR. Muslim)
Siapa yang tercegah dari sifat lembut, ia tercegah dari kebaikan. Sebagaimana orang yang diberikan oleh Allah sifat lembut, ia akan diberikan kebaikan. Dan seseorang tidak mungkin mendapatkan apa yang dia inginkan kecuali berusaha dengan cara yang lembut dan tentunya juga meninggalkan sikap tergesa-gesa. Terkadang karena kita tergesa-gesa, akhirnya setelah itu menyesal dan itu seringkali terjadi. Makanya sebelum bersikap, kita pikirkan dulu baik-baik, kita musyawarahkan dengan orang-orang yang punya pengalaman. Baru kemudian kita lakukan setelah kita istikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47402
Khutbah Jumat 4 Bulan Haram https://www.radiorodja.com/47375-khutbah-jumat-4-bulan-haram/ Fri, 19 Jul 2019 03:19:42 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47375 https://www.radiorodja.com/47375-khutbah-jumat-4-bulan-haram/#respond https://www.radiorodja.com/47375-khutbah-jumat-4-bulan-haram/feed/ 0 <p>Khutbah Jumat 4 Bulan Haram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Dzul Qa’idah 1440 H / 12 Juli 2019 M. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat 4 Bulan Haram إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47375-khutbah-jumat-4-bulan-haram/">Khutbah Jumat 4 Bulan Haram</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Khutbah Jumat 4 Bulan Haram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Dzul Qa’idah 1440 H / 12 Juli 2019 M. khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Dzul Qa’idah 1440 H / 12 Juli 2019 M.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat 4 Bulan Haram
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Hadirin sidang Jum’at yang Allah muliakan,
Dalam kesempatan yang mulia ini, khatib mengingatkan dan terus mengingatkan, marilah kita terus meningkatkan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita jaga keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah, Allah akan memberikan kebahagiaan kepada hambaNya di dunia dan di akhirat kelak. Dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah, Allah akan selamatkan hambaNya dari api neraka dan Allah masukkan hambaNya ke surga.
Kita semua yakin dengan keyakinan yang sangat penuh -seyakin-yakinnya- bahwa diri kita tidak mungkin sanggup menahan panasnya api neraka.
Oleh karena itu, janganlah kita mati melainkan dalam keadaan Islam, janganlah kita meninggal melainkan dalam keadaan iman.
Dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah, Allah akan mudahkan jalan hidup seorang hamba di atas muka bumi ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar dari kesempitannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
Hadirin sidang Jum’at yang Allah muliakan,
Allah Maha Pencipta, Allah Maha bijaksana dan Allah Maha mampu melakukan segala sesuatu. Al-Khaliq, Al-Hakim, Al-Qadir. Ini diantara nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Dan Allah memilih dari hamba-hamba Allah dari apa yang Allah ciptakan dan memuliakannya dari sebagian yang lain sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Dibalik itu ada hikmah yang sangat besar sekali.
Di dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat 68 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّـهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٦٨﴾
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qasas[28]: 68)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk dan memilih dari makhluk-makhluk tersebut serta melebihkannya dari yang lainnya.
Seperti Allah menciptakan manusia dan Malaikat dan Allah pilih dari mereka para RasulNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam s...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47375
Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi https://www.radiorodja.com/47386-hadits-tentang-bergaul-larangan-kaum-muslimin-untuk-saling-menjauhi/ Thu, 18 Jul 2019 08:29:27 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47386 https://www.radiorodja.com/47386-hadits-tentang-bergaul-larangan-kaum-muslimin-untuk-saling-menjauhi/#respond https://www.radiorodja.com/47386-hadits-tentang-bergaul-larangan-kaum-muslimin-untuk-saling-menjauhi/feed/ 0 <p>Hadits Tentang Bergaul: Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 28 Rajab 1440 H / 04 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47386-hadits-tentang-bergaul-larangan-kaum-muslimin-untuk-saling-menjauhi/">Hadits Tentang Bergaul: Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Tentang Bergaul: Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan ... Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 28 Rajab 1440 H / 04 April 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu
Kajian Hadits Tentang Bergaul: Larangan Kaum Muslimin Untuk Saling Menjauhi
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لا تباغضوا ولا تنافسوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث
“Jangan kalian saling membenci, jangan saling bersaing (dalam masalah dunia), jangan saling dengki, jangan saling membelakangi, tapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya (karena dunia) lebih dari tiga hari.”
Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada kita sikap kita sesama muslim itu harus seperti apa. Kata beliau:
1. Jangan saling membenci
Artinya benci karena dunia. Adapun benci karena Allah, maka itu diperbolehkan. Sebagai disebutkan dalam hadits:
من أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله
“Diantara tali iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
Benci karena Allah itu artinya kita membenci ketika melihat saudara kita sesama muslim melakukan maksiat. Maka kita benci dia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi kita mencintai dari sisi lain, yaitu dari keimanan dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Jangan saling bersaing
Maksudnya bersaing dalam masalah dunia. Karena persaingan dunia itu seringkali membuat kita iri, dengki, lupa kepada akhirat dan yang lainnya. Kalau bersaing dalam kebaikan, boleh. Allah berfirman:
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ ﴿٢٦﴾
“Maka untuk itulah (kehidupan akhirat) hendaklah orang-orang yang bersaing itu bersaing.” (QS. Al-Mutaffifin[83]: 26)
Maka bersaing dalam akhirat, itu sangat terpuji. Sedangkan bersaing untuk meraih dunia, seringkali menimbulkan dengki.
3. Jangan saling dengki
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dengki. Kecuali kalau dengki kita kepada seseorang karena kebaikan. Contoh, kata Rasulullah tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang; (1) kepada orang yang diberikan oleh Allah harta lalu ia habiskan hartanya itu di jalan Allah. Dia berkata, “Kalau aku punya harta seperti dia, aku ingin berinfak seperti dia. Maka seperti ini bagus. (2) Kepada orang yang diberikan oleh Allah ilmu. Lalu dia habiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu, demikian pula mengamalkan ilmu. Lalu orang yang dengki ini berkata, “Andai aku diberikan ilmu seperti dia, aku ingin berkah beramal seperti dia.”
4. Jangan saling membelakangi
Artinya tidak mau bertegur sapa, kalau bertemu masing-masing saling menghindar karena persaingan dunia, karena berebut lapak, karena marah untuk diri sendiri, karena ego dan yang lainnya. Adapun kita tidak bertegur sapa karena Allah, diizinkan. Sebagaimana Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata ketika mensyarah hadits tersebut kata beliau bahwa dalam besar hadits tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang memusuhi sunnah, orang-orang yang pemikirannya sesat, boleh untuk kita hajr (kita tidak tegur dia). Hal seperti ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47386
Anjuran dan Manfaat Musyawarah https://www.radiorodja.com/47384-anjuran-dan-manfaat-musyawarah/ Thu, 18 Jul 2019 03:39:54 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47384 https://www.radiorodja.com/47384-anjuran-dan-manfaat-musyawarah/#respond https://www.radiorodja.com/47384-anjuran-dan-manfaat-musyawarah/feed/ 0 <p>Anjuran dan Manfaat Musyawarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 20 Rajab 1440 H / 27 Maret 2019 M. Download mp3 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47384-anjuran-dan-manfaat-musyawarah/">Anjuran dan Manfaat Musyawarah</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Anjuran dan Manfaat Musyawarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai ... Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 20 Rajab 1440 H / 27 Maret 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu
Kajian Tentang Anjuran dan Manfaat Musyawarah
Penyebutan tentang musyawarah dalam waktu-waktu yang sangat dibutuhkan sekali. Karena musyawarah adalah perkara yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Dan urusan mereka itu musyawarah diantara mereka.” (QS. Asy-Syura[42]: 38)
Allah juga memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk bermusyawarah dengan para Sahabatnya dalam menyelesaikan berbagai macam urusan. Karena musyawarah itu tiada lain adalah mendatangkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentunya tujuan daripada musyawarah untuk sampai kepada kebenaran. Solusi yang paling tepat yang tentunya sesuai dengan Allah dan RasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ
“Orang yang diajak musyawarah adalah orang yang diberikan amanah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
Maksudnya kalau kita diajak bicara oleh seseorang karena ia bermusyawarah tentang suatu permasalahan dalam hidupnya, dia meminta kepada kita pendapat kita, karena ia memandang -misalnya- kita lebih pengalaman dan yang lainnya, maka hakikatnya itu adalah amanah untuk menjaga rahasia dia. Tidak boleh kita seenaknya untuk menyebarkan kepada orang lain.
Kata Ibnu Hibban bahwa seharusnya orang yang memegang rahasia berusaha untuk menyembunyikannya dan merasa sempit dadanya untuk menyebarkan rahasia tersebut. Tidak boleh ia sebarkan kecuali setelah bermusyawarah juga dengan orang-orang yang berakal dan orang-orang yang punya agama. Apakah kira-kira menyebarkannya maslahat atau tidak?
Dan janganlah seseorang juga mengajak musyawarah kecuali orang yang mempunyai tiga perangai tadi. Yaitu:

* Orang yang memang punya agama/kuat dalam berpegang kepada agama, dia bertakwa kepada Allah, dia shalih, dia mempunyai rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
* Kuat akalnya
Sudah kita pernah bahas siapa yang dimaksud dengan orang yang berakal. Yaitu orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya untuk mendapatkan segala macam perkara-perkara kebaikan. Dan ia gunakan akal pikiran untuk memikirkan sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan dunia maupun akhiratnya.
* Mng mencintai kita.
Orang yang membenci kita, orang yang tidak sayang kepada kita, kalau kita ajak dia bicara atau musyawarah dengan dia barangkali dia akan menyesatkan kita.

Jika orang yang kita ajak musyawarah tersebut bukan orang yang shalih, bukan orang yang punya agama, ia bisa menghianati kita. Dan jika ia bukan orang yang berakal dan berilmu, barangkali ia akan memberikan pendapat yang salah. Dan apabila ia tidak mencintai, barangkali ia tidak akan memberikan nasihat selayaknya. Hal ini penting sekali. Orang yang kita hendaknya ajak bicara atau ajak musyawarah harus terpenuhi padanya tiga sifat.
Bertanyalah kepada orang yang berilmu tentang yang kamu tidak tahu. Karena bertanya kepada ahli ilmu adalah obat kebodohan. Tentu kita bertanya kepada orang yang kita tahu dia mempunyai ilmu yang memadai.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47384
Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu https://www.radiorodja.com/47382-maafkan-kesalahan-saudaramu-agar-allah-maafkan-dosa-dosamu/ Thu, 18 Jul 2019 03:17:47 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47382 https://www.radiorodja.com/47382-maafkan-kesalahan-saudaramu-agar-allah-maafkan-dosa-dosamu/#respond https://www.radiorodja.com/47382-maafkan-kesalahan-saudaramu-agar-allah-maafkan-dosa-dosamu/feed/ 0 <p>Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 15 Ramadhan 1440 H / 20 Mei 2019 M. […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47382-maafkan-kesalahan-saudaramu-agar-allah-maafkan-dosa-dosamu/">Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya... Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 15 Ramadhan 1440 H / 20 Mei 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba
Kajian Tentang Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu
Disunnahkan atau disukai menerima permohonan maaf dari orang yang meminta maaf. Kemudian beliau membawakan hadits Jaudan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ اعْتَذَرَ إِلَى أَخِيهِ بِمَعْذِرَةٍ ، فَلَمْ يَقْبَلْهَا كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ خَطِيئَةِ صَاحِبِ مَكْسٍ
“Siapa yang meminta maaf kepada saudaranya namun ia tidak memaafkan dan tidak menerima permohonan maafnya, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengambil pajak.”
Akan tetapi hadits ini dhaif karena ada dua penyakit; (1) Ibnu Juraij di sini mudallis, (2) Jaudan bukan Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi dia adalah seorang Tabi’in, sehingga sanadnya mursal.
Kata beliau bahwa kewajiban orang yang berakal adalah apabila saudaranya meminta maaf kepadanya akibat kesalahan yang telah lalu, hendaklah ia menerima permintaan maafnya tersebut dan menjadikannya seperti tidak berdosa. Artinya kalau saudara kita, teman kita, pasangan hidup kita, meminta maaf kepada kita terhadap kesalahan yang telah ia lakukan dahulu, maka kita berusaha untuk memaafkan ia kemudian kita lupakan dosa-dosa dia. Kita lupakan kesalahan dia kepada kita. Jangan sampai setelah kita maafkan, lali kita ungkit-ungkit lagi kesalahan itu.
Seperti yang terjadi, terkadang seorang istri yang mendapati suaminya berbuat salah, kemudian suaminya tersebut minta maaf, si istri pun memaafkan. Tapi kemudian si istri masih saja mengungkit-ungkit kesalahan suami tersebut di masa waktu lampau. Maka ini tidak benar. Ini artinya dia belum memaafkannya.
Orang yang meminta maaf kepada saudaranya, lalu orang atau saudaranya tersebut tidak mau memaafkan, saya khawatir -saudaranya yang tidak memaafkan- nanti tidak bisa minum dari telaga haudh. Beliau di sini mengisyaratkan kepada sebuah hadits:
من اعتذر إليه فلم يقبل لم يرد علي الحوض
“Siapa yang minta maaf kepadanya tapi ia tidak menerima maafnya, ia tidak akan minum dari telaga haudh.”
Namun Al-Haitami berkata di dalam sanadnya ada seorang perawi yang dzaif yang bernama Ali bin Utbah Ar-Rifai.
Ibnu Hibban berkata bahwa siapa yang melakukan kesalahan kepada saudaranya, kewajiban dia meminta maaf kepada saudaranya tersebut. Dan saudaranya tersebut berusaha untuk memaafkannya. Karena orang yang memaafkan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keutamaan yang besar. Yaitu Allah pun nanti pada hari kiamat akan memaafkan dia. Dan memaafkan akan menambah kemuliaan dirinya.
Ketika kita memaafkan saudara kita yang salah kepada kita, sama sekali tidak mengurangi harkat kita. Hal itu justru kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa orang yang memaafkan itu tidak menambah dia kecuali keperkasaan dan kemuliaan. Demikian pula orang yang memaafkan saudaranya yang salah kepadanya, Allah pun akan memaafkan.
Hal ini sebagaimana disebutkan disebutkan dalam kisah bahwasannya ada saudaranya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang senantiasa Abu Bakar memberikan...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47382
Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba https://www.radiorodja.com/47380-larangan-keras-menerima-perkataan-orang-yang-mengadu-domba/ Thu, 18 Jul 2019 02:57:02 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47380 https://www.radiorodja.com/47380-larangan-keras-menerima-perkataan-orang-yang-mengadu-domba/#respond https://www.radiorodja.com/47380-larangan-keras-menerima-perkataan-orang-yang-mengadu-domba/feed/ 0 <p>Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 1 Ramadhan 1440 H / 06 Mei 2019 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47380-larangan-keras-menerima-perkataan-orang-yang-mengadu-domba/">Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya... Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 1 Ramadhan 1440 H / 06 Mei 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Sifat Orang Yang Mulia dan Orang Yang Hina
Kajian Tentang Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba
Di sini beliau akan membawakan hadits dari Hudzaifah -semoga Allah meridhainya-, bahwa adalah seorang laki-laki mengadu-domba. Maka Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang mengadu-domba.”
Mengadu domba ini misalnya seseorang mendatangi si A untuk menjelek-jelekkan si B, lalu datang ke si B untuk menyampakain ucapan si A kepada si B. Sehingga akhirnya terjadilah permusuhan antara si A dan si B.
Berkata Abu Hatim bahwa kewajiban para manusia semuanya adalah menjauhi pemikiran tentang sebab yang akan menjerumuskan kepada permusuhan diantara manusia. Dan berusaha untuk memecah-belah kalimat mereka.
Maka tidak boleh seorang pun berpikir bagaimana caranya supaya manusia atau lawan atau siapapun yang selama mereka merupakan kaum muslimin -di mana mereka adalah manusia-manusia yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala-, bahkan kepada seluruh manusia pun tidak diperbolehkan. Baik dia seorang muslim ataupun diluar Islam. Tidak diperbolehkan untuk mengadu-domba di antara mereka.
Maka dari itulah, mengadu-domba adalah merupakan sifat tercela, sifat orang-orang yang ingin berbuat kerusakan di muka bumi, sifat orang-orang yang dia suka sekali melihat apabila saudaranya bermusuhan. Karena dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengancam dengan ancaman yang berat (tidak masuk surga).
Orang yang berakal tidak akan tenggelam berpikir dalam perkara tersebut. Karena terkadang semuanya dari pikiran. Ketika kita memikirkan tentang kejelekan Si Fulan, terkadang ada pikiran-pikiran yang buruk untuk melakukan hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan jangan menerima orang yang datang kepada kita dan menceritakan tentang keburukan orang lain yang tujuannya tentu untuk mengadu-domba antara kita dengan dia. Karena kita tahu bagaimana perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang mengadu-domba dan demikian pula akibat buruknya setelah itu. Kewajiban kita adalah untuk menolak kalau ada orang yang datang kepada kita dan mengatakan Si Fulan begini, begini, begini, begini, tidak usah kita dengarkan. Sehingga kita menutup pintu adu-domba dan diadu-domba tentunya.
Al-Kuraizy berkata bahwa siapa yang suka mengadu-domba, tidak aman dari bisanya terhadap teman-temannya. Artinya kalau kita tahu ada orang yang pekerjaannya suka mengadu-domba, tugas kita menjauhinya. Karena orang ini seperti kala jengking ataupun ular yang memiliki bisa. Kalau ternyata dia bisa mengadu-domba orang lain, dia bisa mengadu-domba teman-temannya sendiri.
Maka kalau kita tahu orang ini suka mengadu-domba, kita tinggalkan dia, tidak perlu kita jadikan dia sebagai teman kita.
Seperti banjir yang tiba-tiba datang di waktu malam, tidak tahu dari mana ia datangnya. Artinya kalau kita punya teman seperti itu, terkadang kita tidak tahu, tahu-tahu kita sudah terpengaruh oleh ucapan-ucapannya tersebut. Akhirnya kita memusuhi sebagian saudara-saudara kita...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47380
Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat https://www.radiorodja.com/47366-hadits-arbain-ke-7-agama-adalah-nasihat/ Mon, 15 Jul 2019 07:32:01 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47366 https://www.radiorodja.com/47366-hadits-arbain-ke-7-agama-adalah-nasihat/#respond https://www.radiorodja.com/47366-hadits-arbain-ke-7-agama-adalah-nasihat/feed/ 0 <p>Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 3 Sya’ban 1440 H / 09 April 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 6 – Hadits Tentang […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47366-hadits-arbain-ke-7-agama-adalah-nasihat/">Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’a... Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 3 Sya’ban 1440 H / 09 April 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 6 – Hadits Tentang Syubhat
Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 7 – Agama Adalah Nasihat
Kajian kali ini membahas hadits arbain ke 7. Yakni hadits Tamim Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu:
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ – ثَلاَثاً- قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ (رواه مسلم)
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat -beliau mengulangnya tiga kali-.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapa nasihat itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Nasihat untuk Allah, kitab Allah, bagi Rasul Allah, para imam umat Islam dan orang awam dari kalangan mereka.” (HR. Muslim)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala, dari Tamim Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu. Tamim Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu adalah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau pada awalnya adalah seorang nasrani. Kemudian masuk Islam pada tahun 9 Hijriyah. Kemudian istiqomah diatas agama ini sampai beliau dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada tahun 40 Hijriyah. Beliau terkenal dengan kisah Jassasah. yaitu sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Tamim Ad-Daari bersama 30 orang dari Bani Lakhm yang lain suatu saat pergi mengarungi lautan. Kapal mereka dibolak-balikkan oleh ombak yang sangat besar sehingga mereka terdampar di sebuah pulau. Dan di pulau ini mereka bertemu dengan sebuah binatang yang sangat besar dan banyak rambutnya yang disebut sebagai Jassasah. Jassasah ini bisa berbicara dan mengarahkan mereka untuk mendatangi sebuah rumah di pulau tersebut dan disana ada Dajjal yang ditahan di sana sampai nanti waktunya dia keluar.
Karenanya, Tamim Ad-Daari disebut sebagai satu-satunya Sahabat yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meriwayatkan dari beliau. Pada umumnya, para Sahabat meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi Tamim Ad-Daari, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang meriwayatkan dari beliau. Karena beliau dan kawan-kawan beliau yang melihat dan beliau menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan berita ini kepada yang lain. Beliau mengatakan bahwasanya Tamim Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu telah menyampaikan kabar yang cocok dengan wahyu yang pernah sampai kepada Nabi. Yaitu berita tentang keberadaan Dajjal dan bahwasanya dia akan turun di akhir zaman kelak.
Pengertian Agama Adalah Nasihat
Dalam hadits ini beliau menyampaikan bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasehat.”
Saat kita mendengar kata “nasehat”, hendaknya kita jangan terkungkung dengan kata nasehat dalam...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47366
Memikirkan Penciptaan Allah - Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 164 https://www.radiorodja.com/47350-memikirkan-penciptaan-lagit-dan-bumi-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-164/ Thu, 11 Jul 2019 03:08:21 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47350 https://www.radiorodja.com/47350-memikirkan-penciptaan-lagit-dan-bumi-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-164/#respond https://www.radiorodja.com/47350-memikirkan-penciptaan-lagit-dan-bumi-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-164/feed/ 0 <p>Memikirkan Penciptaan Langit dan Bumi – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 164 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 24 Sya’ban 1440 H / 30 April 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47350-memikirkan-penciptaan-lagit-dan-bumi-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-164/">Memikirkan Penciptaan Langit dan Bumi- Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 164</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Memikirkan Penciptaan Langit dan Bumi – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 164 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 24 Sya’ban 1440 H / 30 April 2019 M.
Download juga kajian sebelumnya: Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164
Kajian Tentang Memikirkan Penciptaan Langit dan Bumi – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 164
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّـهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, maka dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan akan kebesaran dan sekaligus memerintahkan agar akal kita digunakan sehingga kita menjadi orang-orang yang berpikir. Ketika kita melihat alam semesta, maka kita disitu berusaha mengambil faidah. Jangan sampai kalau kita melihat alam yang indah, jalan-jalan ke gunung, hanya sebatas menikmatinya saja. Kita hanya sebatas melihat keindahannya tapi tidak berusaha untuk memikirkan dan mengambil faidah dari itu semuanya.
Allah mengatakan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.” Dan sudah kita jelaskan kemarin bagaimana Allah menciptakan langit tujuh lapis. Dan bahwasanya lapis pertama saja, Allah sebutkan tebalnya seribu tahun perjalanan. Dan jarak antara bumi sampai ke ‘Arsy adalah lima puluh ribu tahun perjalanan. Ini menunjukkan betapa besarnya makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bumi demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan tujuh lapis. Dimana lapisan-lapisannya tentunya hanya Allah yang Maha Tahu. Allah jadikan di bumi ini gunung yang berfungsi sebagai paku supaya bumi tidak goncang. Maka dengan adanya gunung-gunung yang Allah letakkan, bumi menjadi diam dan kokoh.
Di bumi ini juga Allah jadikan lautannya lebih banyak daripada daratannya. Hanya Allah yang memiliki hikmah-hikmah yang besar. Di dalam bumi ini ada dapur magma yang sangat panas sekali. Tentu di antara hikmah kenapa laut lebih banyak adalah untuk mendinginkan bumi ini. Demikian pula Allah jadikan laut bergelombang dan asin. Bayangkan kalau tidak bergelombang dan tidak asin, tentu baunya akan busuk. Dan subhanallah.. Allah ciptakan di dalam lautan sesuatu yang luar biasa. Semua makhluk-makhluk yang ada di bumi, di lautan ada.
Pergantian malam dan siang
Kenapa Allah tidak jadikan malam terus? Dan kenapa Allah tidak jadikan siang? Sebab kalau siang terus, bumi akan menjadi panas. Sebaliknya, kalau malam terus maka akan beku dan tidak ada kehidupan. Maka Allah putarkan siang malam agar seimbang semuanya. Allah menjaga keseimbangan yang ada di langit dan di bumi ini.
Pergantian malam dan siang artinya dari gelap gulita menjadi terang-benderang, panas menjadi dingin, demikian pula apa yang ada padanya berupa siang dan malam. Allah jadikan malam untuk tempat beristirahat. Orang yang terbalik,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47350
Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164 https://www.radiorodja.com/47348-bahayanya-meninggal-dalam-keadaan-kafir-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-161-164/ Thu, 11 Jul 2019 02:46:16 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47348 https://www.radiorodja.com/47348-bahayanya-meninggal-dalam-keadaan-kafir-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-161-164/#respond https://www.radiorodja.com/47348-bahayanya-meninggal-dalam-keadaan-kafir-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-161-164/feed/ 0 <p>Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 26 Rajab 1440 H / 02 April 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47348-bahayanya-meninggal-dalam-keadaan-kafir-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-161-164/">Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 26 Rajab 1440 H / 02 April 2019 M.
Download juga kajian sebelumnya: Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161
Kajian Tentang Bahayanya Meninggal dalam Keadaan Kafir – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 161-164
Allah Ta’ala berfirman:
﴿١٦٠﴾ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَـٰئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّـهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ﴿١٦١﴾ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ ﴿١٦٢﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Mereka kekal di dalamnya dan tidak akan diringankan dari mereka adzab dan mereka pun tidak akan ditangguhkan,”
Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang wafat di atas kekafiran mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apa itu laknat?
Laknat berarti terusir dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula dilaknat oleh para malaikat dan dilaknat oleh seluruh manusia. Termasuk orang kafir sendiri saling melaknat. Karena Allah menyebutkan dalam ayat ini, “dan seluruh manusia pun melaknat.” Masuk padanya orang-orang kafir sendiri.
Allah menyebutkan di dalam surat Al-A’raf bahwa orang-orang kafir setiap kali masuk ke dalam api neraka, maka mereka saling melaknat satu sama lainnya. Allah berfirman:
لَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا
“Setiap kali satu kelompok masuk neraka maka melaknatlah yang sejenis dengan mereka.” (QS. Al-A’raf[2]: 162)
Lalu Allah menyatakan bahwa mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah bahwa neraka itu kekal, tidak akan binasa.
Dari ayat ini -kata Syaikh Utsaimin rahimahullah- kita ambil beberapa faidah:
Orang kafir berhak mendapatkan laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia
Yang dimaksud dengan orang kafir di sini adalah kafir besar. Dan yang dimaksud dengan orang yang kafir di sini yaitu yang wafat di atas kekafiran. Maka faidah selanjutnya adalah:
Laknat tersebut bagi mereka yang mati diatas kekafiran
Adapun kalau dia masuk Islam dan wafat di atas keislaman, maka mereka tidak akan mendapatkan laknat tersebut.
Penetapan akan adanya malaikat
Penetapan akan adanya malaikat dan bahwasanya mereka melaknat orang-orang kafir juga.
Saling melaknat nanti dihari kiamat
Orang kafir saling melaknat nanti dihari kiamat. Allah mengatakan disitu, “dan dilaknat oleh seluruh manusia.” Berarti itu menunjukkan bahwa orang kafir akan saling melaknat dalam api neraka.
Kekal dalam laknat Allah
Orang yang mati dalam keadaan kafir, mereka kekal dalam laknat Allah. Mereka tidak mungkin mendapatkan rahmat Allah sedikitpun juga ketika nanti di akhirat. Adapun di dunia orang-orang kafir masih diberikan oleh Allah sebagian dari rahmatNya. Yaitu rahmat berupa materi, diberikan oleh Allah berupa kenikmatan-kenikmatan dunia. Adapun di akhirat sudah tidak ada kenikmatan lagi untuk mereka.
Adzab tidak akan diringankan untuk mereka
Adzab tidak akan diringankan untuk mereka walaupun cuma sebentar. Mereka akan terus-menerus di adzab. Na’udzubillah.. Makanya mereka berkata kepada malaikat Malik:
]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47348
Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar - Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161 https://www.radiorodja.com/47341-menyembunyikan-ilmu-termasuk-dosa-besar-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-159-161/ Thu, 11 Jul 2019 02:30:50 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47341 https://www.radiorodja.com/47341-menyembunyikan-ilmu-termasuk-dosa-besar-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-159-161/#respond https://www.radiorodja.com/47341-menyembunyikan-ilmu-termasuk-dosa-besar-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-159-161/feed/ 0 <p>Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 12 Rajab 1440 H / 19 Maret 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Tafsir Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47341-menyembunyikan-ilmu-termasuk-dosa-besar-tafsir-surat-al-baqarah-ayat-159-161/">Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 12 Rajab 1440 H / 19 Maret 2019 M.
Download juga kajian sebelumnya: Tafsir Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 155-156
Kajian Tentang Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 159-161
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَـٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّـهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ ﴿١٥٩﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Kami telah turunkan dari keterangan dan hidayah setelah Kami jelaskan ia kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua yang bisa melaknat.”
Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman kepada setiap orang yang menyembunyikan ilmu setelah menjadi jelas kepada kepada dia ilmu tersebut. Maka ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan ilmu tanpa ada alasan yang syar’i, termasuk dosa yang besar. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
“Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan berikan penutup mulut pada hari kiamat dari api neraka.” (HR. Abu Dawud)
Kecuali -kata para ulama- apabila kita menyampaikan ilmu justru timbul mudharat yang lebih besar. Maka pada waktu itu tidak apa-apa kita tidak sampaikan. Hal ini sebagaimana Abu Hurairah berkata:
حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ
“Aku menghafal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dua bejana. Adapun satu bejana sudah saya sampaikan kepada manusia. Untuk bejana yang kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka bisa jadi leharku akan dipenggal.” (HR. Bukhari)
Apa yang dimaksud hadits yang Abu Hurairah tidak sampaikan?
Yaitu hadits-hadits tentang fitnah Bani Umayyah yang waktu itu Abu Hurairah bertemu massa Yazid Bin muawiyah di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan akan adanya anak-anak yang menjadi khalifah. Maka Abu Hurairah tidak mau menyampaikan itu karena khawatir malah timbul fitnah. Maka ini menunjukkan bahwa kalau dikhawatirkan ketika kita sampaikan ilmu itu malah timbul fitnah, lebih baik jangan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika bersabda kepada Muadz bin Jabal, “Tahukah kamu apa hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah?” Kata Rasulullah, “Hak hamba atas Allah, Allah tidak akan mengazab siapapun yang tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga.” Apa kata Muadz?
يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟
“Boleh tidak ya Rasulullah saya sampaikan hadits ini?”
Kata Rasulullah:
لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا
 “Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya)
Karena Nabi khawatir hadits ini disalahpahami, maka Nabi mengatakan kepada Muadz untuk tidak menyampaikannya. Berarti diperbolehkan tidak menyampaikan ilmu kalau memang ketika kita sampaikan malah menimbulkan mudharat yang lebih besar. Maka -kata para ulama- tidak setiap ilmu bisa kita sampaikan kepada setiap o...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47341