Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com Menebar Cahaya Sunnah Sat, 28 Mar 2020 23:57:20 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.2 https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/cropped-radio-rodja-512px-emblem-1-32x32.pngRadio Rodja 756 AMhttps://www.radiorodja.com 32 32
Studio Radio Rodja dan RodjaTV
Jl. Pahlawan (belakang Polsek Cileungsi)
Kp. Tengah RT03 / RW03
Kecamatan Cileungsi
Bogor – 16820

Nomor Telepon Interaktif: 021 823 6543
SMS: 081 989 654
Email: info@rodja.co.id]]>
Radio Rodja 756 AM clean episodic Radio Rodja 756 AM info@rodja.co.id info@rodja.co.id (Radio Rodja 756 AM) Copyright © Radio Rodja 756 AM 2018 Menebar Cahaya Sunnah Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/radio-rodja-200px.jpghttps://www.radiorodja.com 114584281 Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannyahttps://www.radiorodja.com/48274-bacaan-sayyidul-istighfar-beserta-penjelasannya/ Fri, 27 Mar 2020 06:38:03 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48274 https://www.radiorodja.com/48274-bacaan-sayyidul-istighfar-beserta-penjelasannya/#respond https://www.radiorodja.com/48274-bacaan-sayyidul-istighfar-beserta-penjelasannya/feed/ 0 <p>Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannya merupakan  bagian dari kajian Islam ilmiah Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 21 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 18 Desember 2019 M. Kajian Tentang Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannya Dari Syaddad bin Aus -semoga Allah meridhainya- dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sayyidul Istighfar […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48274-bacaan-sayyidul-istighfar-beserta-penjelasannya/">Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannya</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannya merupakan  bagian dari kajian Islam ilmiah Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 21 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 18 Desember 2019 M. Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 21 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 18 Desember 2019 M.

Kajian Tentang Bacaan Sayyidul Istighfar Beserta Penjelasannya
Dari Syaddad bin Aus -semoga Allah meridhainya- dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sayyidul Istighfar adalah kamu mengucapkan:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Dan aku diatas perjanjian Engkau dan diatas janji Engkau apa yang aku mampu. Aku berlindung kepada Engkau dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku kembali kepada Engkau dengan membawa nikmatMu kepadaku. Dan aku mengakui kepada Engkau akan dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni kecuali Engkau.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Siapa yang mengucapkan sayyidul istighfar ini diwaktu siang dengan keadaan ia yakin dengannya lalu ia meninggal di hari tersebut sebelum diwaktu sore, maka ia termasuk penduduk surga. Dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam dalam keadaan dia benar-benar yakin dengannya lalu ia meninggal sebelum masuk pagi, maka ia termasuk penduduk surga. (HR. Bukhari no. 6.306)
Keutamaan sayyidul istighfar
Ini adalah merupakan doa yang agung. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita sayyidul istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Karena ampunan Allah adalah merupakan segala-galanya dalam hidup kita. Dan untuk meraih surga pun harus dengan ampunan Allah. Karena hamba yang tidak diampuni Allah tidak akan pernah bisa masuk surga.
Maka saudaraku, kewajiban hamba Allah minta ampun kepada Allah, meminta maaf kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
أَيُّها النَّاس تُوبُوا إِلى اللَّهِ واسْتغْفرُوهُ فإِني أَتوبُ في اليَوْمِ مائة مَرَّة
“Wahai manusia, taubatlah kalian kepada Allah dan istighfarlah kepada Allah. Karena aku setiap harinya bertaubat dan beristighfar seratus kali.” (HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan dan memerintahkan kita untuk banyak taubat dan beristighfar. Allah berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾
“Dan hendaklah kalian istigfar kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh[71]: 10)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, taubatlah kalian dengan taubat yang nasuha” (QS. At-Tahrim[66]: 8)
Dan Allah melarang kita untuk berputus asa dari RahmatNya. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّـهِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾
“Katakan kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas itu, jangan kalian merasa putus asa dari rahmat Allah,]]>
Radio Rodja 756 AM 48274
Birrul Walidain dan Menyambung Silaturahimhttps://www.radiorodja.com/48235-birrul-walidain-dan-menyambung-silaturahim/ Thu, 12 Mar 2020 01:08:15 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48235 https://www.radiorodja.com/48235-birrul-walidain-dan-menyambung-silaturahim/#respond https://www.radiorodja.com/48235-birrul-walidain-dan-menyambung-silaturahim/feed/ 0 <p>Birrul Walidain dan Menyambung Silaturahim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 7 Rajab 1441 H / 02 Maret 2020 M. Pembahasan pada halaman 75 pada kitab […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48235-birrul-walidain-dan-menyambung-silaturahim/">Birrul Walidain dan Menyambung Silaturahim</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Birrul Walidain dan Menyambung Silaturahim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 7 Rajab 1441 H / 02 Maret 2020 M.
Pembahasan pada halaman 75 pada kitab At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Birrul Walidain dan Menyambung Silaturahim
Kita lanjutkan bab yang berkaitan tentang akhlak pengemban Al-Qur’an. Beliau mengatakan bahwa seorang pengemban Al-Qur’an tidak mencari nafkah dengan cara menjual Al-Qur’an. Yaitu dia tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai alat yang digunakan untuk mencari harta dengan cara ia menampakkan dirinya bahwasanya ia mempunyai pemahaman tentang Al-Qur’an.
Ia tidak senang untuk ditunaikan kebutuhan-kebutuhannya dengan Al-Qur’an. Maksudnya dia tidak suka untuk menunaikan hajatnya dengan Al-Qur’an. Seperti dimurahkan ketika ia membeli sesuatu atau bahkan digratiskan ataupun sejenisnya. Karena sesungguhnya kedudukan Al-Qur’an pada dirinya lebih mulia daripada hal yang demikian.
Ia tidak mendatangi anak-anak para raja dan tidak duduk bersama dengan orang-orang kaya agar mereka memberikan sebagian dari harta mereka. Yaitu tujuannya bukan sekedar mendatangi anak-anak raja, orang-orang kaya untuk mendapatkan sebagian dari harta mereka. Namun jika pengemban Al-Qur’an/seorang dai mendatangi orang-orang kaya tersebut untuk memberikan mereka pelajaran, memberikan mereka manfaat, maka ini disyariatkan.
Jika seluruh manusia mendapatkan bagian yang banyak dari harta dunia tanpa ilmu, tanpa pengetahuan yang benar, seorang yang mempunyai ilmu Al-Qur’an atau pengemban Al-Qur’an mencukupkan diri dengan harta yang sedikit namun didapatkan dari ilmu dan pengetahuan yang benar.  Maksud penulis kitab ini Rahimahullah, jika manusia mendapatkan harta yang banyak namun harta tersebut didapatkan bukan dari ilmu yang benar, ia ridha terhadap dirinya dengan penghasilan yang sedikit namun dia dapatkan dari sumber yang halal yang tidak ada syubhat didalamnya.
Jika manusia memakai pakaian yang lembut, pakaian yang mewah, ia mencukupkan diri dengan pakaian yang halal yang cukup menutup auratnya. Maksudnya jika manusia saling berbangga-bangga, saling berlebih-lebihan dalam memakai pakaian dengan berbagai jenis model, seorang pengemban Al-Qur’an rela atau ridha dengan pakaian yang sederhana yang menutup auratnya.
Jika ia diberi keluasan, maka ia pun menafkahkan harta yang banyak. Namun jika dia disempitkan rejekinya maka dia pun berinfak sesuai dengan kemampuannya. Karena ia mempraktekkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam FirmanNya:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّـهُ
“Hendaklah orang yang diberi keluasan mengeluarkan dari k...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48235
Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibahhttps://www.radiorodja.com/48232-arti-ghibah-dan-6-sebab-dibolehkan-ghibah/ Wed, 11 Mar 2020 02:03:48 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48232 https://www.radiorodja.com/48232-arti-ghibah-dan-6-sebab-dibolehkan-ghibah/#respond https://www.radiorodja.com/48232-arti-ghibah-dan-6-sebab-dibolehkan-ghibah/feed/ 0 <p>Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 6 Rajab 1441 H / 01 Maret 2020 M. Pembahasan pada halaman 68 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48232-arti-ghibah-dan-6-sebab-dibolehkan-ghibah/">Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibah</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 6 Rajab 1441 H / 01 Maret 2020 M.
Pembahasan pada halaman 68 pada kitab At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibah
Imam Al-Ajurri Rahimahullah melanjutkan perkataan beliau dalam kitab Akhlaq Hamalatil Qur’an. Beliau melanjutkan diantara adab-adab yang harus dimiliki oleh pengemban Al-Qur’an yaitu ia selalu mewaspadai dirinya jangan sampai terkalahkan oleh hawa nafsunya yang menyebabkan Tuhannya murka kepadanya. Maksudnya adalah ia selalu berjihad melawan hawa nafsunya. Karena nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan, maka ia selalu merasa takut dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala murka kepadanya.
Ia tidak mengghibahi/menggunjing seorang pun. Arti ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu yang ia tidak sukai sebagaimana dijelaskan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ia tidak menganggap enteng dan menghina seorang pun. Karena seorang Muslim adalah saudara untuk Muslim lainnya. Ia tidak merendahkannya dan tidak menghina saudara-saudaranya sesama kaum Muslimin.
Ia tidak mencaci seorang pun dan tidak senang dengan musibah yang menimpa orang lain. الشماتة dalam musibah artinya seorang menjadi bahagia dan senang ketika musibah menimpa seorang dari kaum Muslimin. Maka sikap seorang Muslim yaitu tidak senang dengan musibah tersebut. Sebaliknya ia harus merasa sedih dan mendoakan saudaranya jika ia tertimpa musibah. Ia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah meringankan dan mengangkat musibah tersebut.
Ia tidak melampaui batas kepada seorangpun. Ia tidak mendzalimi orang lain dan tidak melampaui batas dalam hak mereka.
Seorang pengembang Al-Qur’an tidak bersikap hasad. Hasad artinya mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain. Oleh karena itu seorang yang hasad dinamakan musuh nikmat Allah kepada hamba-hambaNya.
Para ulama mengatakan bahwasannya hasad itu ada tiga tingkatan. Tingkatan yang pertama tidak senangnya seseorang jika orang lain mendapatkan nikmat. Tingkatan yang kedua ia berharap agar nikmat tersebut hilang dari orang lain dan ini lebih bahaya daripada yang pertama. Yang ketiga yang paling berbahaya, yaitu seorang berusaha dan merancang strategi agar nikmat itu hilang dari saudaranya. Semua tingkatan hasad ini dibenci dan tidak boleh seorang Muslim terjangkiti penyakit hasad ini.
Dan tidak boleh seorang pengemban Al-Qur’an berburuk sangka kepada seorang pun kecuali orang yang berhak untuk diburuksangka kepadanya. Karena pada dasarnya seorang Muslim ia harus selalu berbaik sangka kepada saudaranya sesama kaum Muslimin.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48232
Hadits Arbain Ke 11 - Tinggalkanlah Perkara Yang Membuatmu Raguhttps://www.radiorodja.com/48228-hadits-arbain-ke-11-tinggalkanlah-perkara-yang-membuatmu-ragu/ Fri, 06 Mar 2020 03:57:22 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48228 https://www.radiorodja.com/48228-hadits-arbain-ke-11-tinggalkanlah-perkara-yang-membuatmu-ragu/#respond https://www.radiorodja.com/48228-hadits-arbain-ke-11-tinggalkanlah-perkara-yang-membuatmu-ragu/feed/ 0 <p>Hadits Arbain Ke 11 – Tinggalkanlah Perkara Yang Membuatmu Ragu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 13 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 10 Desember 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 10 – […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48228-hadits-arbain-ke-11-tinggalkanlah-perkara-yang-membuatmu-ragu/">Hadits Arbain Ke 11 – Tinggalkanlah Perkara Yang Membuatmu Ragu</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Arbain Ke 11 – Tinggalkanlah Perkara Yang Membuatmu Ragu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Naw... Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 13 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 10 Desember 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 10 – Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baik
Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 11 – Tinggalkanlah Perkara Yang Membuatmu Ragu
InsyaAllah pada kesempatan sore hari ini kita akan melanjutkan kebaikan yang sudah kita mulai bersama, yaitu mendalami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui hadits-hadits pokok dalam agama Islam yang dihimpun oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam karya beliau Al-Arba’in An-Nawawiyah. Dan hari ini kita memasuki pembahasan hadits yang ke-11. Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:
عَنْ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.
“Diriwayatkan dari Al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhuma cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau. Beliau mengatakan: Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam nasehat ini, ‘Tinggalkanlah perkara yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu.'” (HR. An-Nasa’i dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)
Hadits ini adalah riwayat An-Nasa’i dan Tirmidzi dan dihukumi sebagai hadits hasan shahih. Dan diriwayatkan dari Al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Dikatakan “Radhiyallahu ‘Anhuma” karena beliau adalah seorang sahabat dan ayahanda beliau juga adalah salah satu sahabat utama. Karena beliau adalah Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhuma.
Kita mengetahui ‘Ali bin Abi Thalib adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus sebagai menantu beliau. Sedangkan Al-Hasan bin ‘Ali adalah putra dari ‘Ali bin Abi Thalib dari pernikahan beliau dengan Fatimah Radhiyallahu ‘Anha putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka Al-Hasan adalah cucu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan beliau adalah cucu yang pertama dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka tidak heran kalau beliau disebut sebagai kesayangan sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari, beliau mengatakan:
هُما رَيْحانتايَ مِن الدُّنيا
“Keduanya (yaitu Al-Hasan dan Al-Husain) adalah diantara raihan saya.” (HR. Bukhari)
Para ulama berbeda pendapat tentang arti “raihan” di sini. Karena pada dasarnya raihanah itu adalah bunga yang memiliki bau yang sangat harum. Maka perumpamaan Al-Hasan bin ‘Ali dan Al-Husain bin ‘Ali adalah seperti bunga yang harum yang biasa dicium, memiliki bau semerbak seperti raihanah di akhirat tapi adanya di dunia. Di antara para ulama ada yang menafsirkan hal ini sebagai “kesayangan”. Karena raihan juga bisa berarti sesuatu yang kita tenang disampingnya, sesuatu yang kita bisa merasakan ketenangan bersamanya. Maka ini bisa berarti kesayangan. Dan tidak heran kalau Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu menjadi kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena beliau adalah cucu pertama.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48228
Hadits Arbain Ke 10 - Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baikhttps://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/ Fri, 06 Mar 2020 03:13:33 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48221 https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/#respond https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/feed/ 0 <p>Hadits Arbain Ke 10 – Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baik merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 24 Muharram 1441 H / 24 September 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/">Hadits Arbain Ke 10 – Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baik</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Hadits Arbain Ke 10 – Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baik merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam ... Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 24 Muharram 1441 H / 24 September 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya
Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 10 – Allah Maha Baik dan Hanya Menerima Yang Baik
Hari ini kita akan mempelajari hadits yang ke-10. Dan sebelumnya kita telah mempelajari hadits yang ke-9. Yaitu hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu tentang bagaimana seorang muslim menghadapi atau menyikapi separuh Islam yang berupa hukum-hukum. Dimana kita diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah semampu kita dan meninggalkan semua laranganNya. Kemudian kita juga dilarang untuk melakukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu atau yang berpotensi untuk mengurangi semangat kita untuk beramal, dalam menjalankan perintah atau menghindari larangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
InsyaAllah pada kesempatan hari ini masih bersama hadits Abu Hurairah yang lain. Yaitu sebuah hadits riwayat Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً
Dari Imam Muslim Radhiyallahu ‘Anhu beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah. Yakni sahabat yang meriwayatkan hadits yang ke-9 juga. Dan beliau meninggal pada tahun 59 Hijriyah dan merupakan sahabat penuntut ilmu dan sahabat dengan riwayat hadits yang paling banyak. Dimana jumlah riwayat beliau melebihi 5000 hadits. Beliau meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana dia telah  emerintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai para Rasul makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih”. Sementara kepada orang-orang yang beriman Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, makanan tambahannya juga haram. Maka bagaimana orang tersebut bisa dikabulkan doanya.” (HR. Muslim)
Ini adalah sebuah hadits yang agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik. Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala dan yang lain menjelask...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48221
Akhlak Pengemban Al-Qur'an Bertakwa Kepada Allah sampai Menjaga Lisanhttps://www.radiorodja.com/48215-akhlak-pengemban-al-quran-bertakwa-kepada-allah-sampai-menjaga-lisan/ Thu, 05 Mar 2020 01:59:37 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48215 https://www.radiorodja.com/48215-akhlak-pengemban-al-quran-bertakwa-kepada-allah-sampai-menjaga-lisan/#comments https://www.radiorodja.com/48215-akhlak-pengemban-al-quran-bertakwa-kepada-allah-sampai-menjaga-lisan/feed/ 2 <p>Akhlak Yang Semestinya Dimiliki Oleh Pengemban Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 30 Jumadal Akhirah 1441 H / 24 Februari 2020 M. Pembahasan pada halaman […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48215-akhlak-pengemban-al-quran-bertakwa-kepada-allah-sampai-menjaga-lisan/">Akhlak Pengemban Al-Qur’an Bertakwa Kepada Allah sampai Menjaga Lisan</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Akhlak Yang Semestinya Dimiliki Oleh Pengemban Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 30 Jumadal Akhirah 1441 H / 24 Februari 2020 M.
Pembahasan pada halaman 62 pada kitab At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Akhlak Pengemban Al-Qur’an Bertakwa Kepada Allah sampai Menjaga Lisan
Kita lanjutkan kajian kita dalam pembahasan kitab akhlaq hamalatil Qur’an yang ditulis oleh Imam Al-Ajurri Rahimahullah dan kita telah sampai pada perkataan beliau, “Akhlak yang semestinya dimiliki oleh pengemban Al-Qur’an yang pertama yaitu menggunakan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla baik dalam kondisi sendiri maupun ditengah banyak orang.”
Syaikh Hafidzahullah mengatakan bahwa maksud dari perkataan penulis kitab ini Rahimahullah yaitu seorang pengemban Al-Qur’an menggunakan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baik ketika dia sendiri maupun ketika dilihat oleh orang lain, baik ketika dia berada di rumahnya atau ketika dia sedang bepergian dan bahkan di semua waktu dan kondisi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat dia di manapun dia berada. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabat Muadz Radhiyallahu ‘Anhu:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada.”
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Allah bersama kalian di manapun kalian berada.”
Maksudnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama kalian dengan ilmu dan penglihatanNya. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dariNya baik itu di langit dan di di bumi.
Dan arti takwa kepada Allah yaitu seorang hamba menjadikan sesuatu antara dirinya dan yang dia takuti yang menghalangi dia dari apa yang dia takuti dengan cara mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.
Berkata Thalq bin Habib Rahimahullah ketika menjelaskan hakikat takwa, takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah diatas cahaya dari Allah dan mengharap pahala dari Allah. Dan meninggalkan maksiat kepada Allah diatas cahaya dari Allah karena takut adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berkata Al-Hafidz Adz-Dzahabi Rahimahullah setelah menyebutkan perkataan Thalq bin Habib Rahimahullah bahwa beliau telah memberikan ringkas dan jelas karena tidak ada ketakwaan kecuali dengan amalan dan tidak ada amalan yang diterima kecuali dengan ilmu dan petunjuk. Dan juga amalan tersebut tidak akan bermanfaat kecuali dengan ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan untuk dikatakan,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48215
Akhlak Pengemban Al-Quran Beserta Doa Penyejuk Hati dan Pikiranhttps://www.radiorodja.com/48212-akhlak-pengemban-al-quran-beserta-doa-penyejuk-hati-dan-pikiran/ Thu, 05 Mar 2020 01:28:02 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48212 https://www.radiorodja.com/48212-akhlak-pengemban-al-quran-beserta-doa-penyejuk-hati-dan-pikiran/#comments https://www.radiorodja.com/48212-akhlak-pengemban-al-quran-beserta-doa-penyejuk-hati-dan-pikiran/feed/ 3 <p>Akhlak Pengemban Al-Quran Beserta Doa Penyejuk Hati dan Pikiran adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada / 23 Februari 2020 M. Pembahasan pada halaman 59 pada kitab […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48212-akhlak-pengemban-al-quran-beserta-doa-penyejuk-hati-dan-pikiran/">Akhlak Pengemban Al-Quran Beserta Doa Penyejuk Hati dan Pikiran</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Akhlak Pengemban Al-Quran Beserta Doa Penyejuk Hati dan Pikiran adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada / 23 Februari 2020 M.
Pembahasan pada halaman 59 pada kitab At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Akhlak Pengemban Al-Quran Beserta Doa Penyejuk Hati dan Pikiran
Kita lanjutkan kajian kita dalam pembahasan kitab Akhlaq Hamalatil Qur’an yang dikarang oleh Imam Al-Ajurri Rahimahullah. Dan kita telah sampai kepada perkataan beliau, bab tentang akhlak pengemban Al-Qur’an.
Setelah beliau menyebutkan beberapa pendahuluan tentang keutamaan pengemban Al-Qur’an, keutamaan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya serta keutamaan duduk di rumah-rumah Allah untuk mempelajari Al-Qur’an, beliau memulai untuk menyebutkan tujuan ditulisnya kitab ini, yaitu penjelasan tentang akhlak pengembanga Al-Qur’an.
Berkata penulis kitab ini Rahimahullah bahwa seyogyanya bagi orang yang diajarkan oleh Allah Ta’ala Al-Qur’an dan Allah muliakan dia dari selainnya untuk menghafalkan kitabNya dan ia ingin menjadi Ahlul Qur’an yang sesungguhnya, menjadi keluarga Allah dan orang-orang yang dekat denganNya dan ingin menjadi orang yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karunia yang besar yang telah kita sebutkan keutamaan-keutamaannya dan dia ingin termasuk orang yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:
يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ
“Yang mereka membaca dengan sebenar-benarnya.”
Disebutkan bahwasannya tafsir ayat ini mereka benar-benar mengamalkan isi Al-Qur’an. Dan jika seorang ingin termasuk orang yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران
“Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia pandai membacanya maka dia bersama Malaikat-Malaikat yang mulia dan orang yang membacanya dan ia kesulitan ketika membacanya maka baginya dua pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Syaikh Hafidzahullah mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwasanya orang yang memperhatikan Al-Qur’an, antusias dan bersungguh-sungguh untuk mempelajari Al-Qur’an, rajin membacanya baik itu dia pandai membacanya atau dia kesulitan dan terbata-bata ketika membaca Al-Qur’an, maka keduanya berada di atas kebaikan yang sangat besar. Adapun orang yang pandai membaca Al-Qur’an, maka dia bersama dengan Malaikat-Malaikat yang mulia, Malaikat-Malaikat pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48212
Kajian Singkat 4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Coronahttps://www.radiorodja.com/48217-kajian-singkat-4-sikap-muslim-dalam-menghadapi-virus-corona/ Tue, 03 Mar 2020 03:28:12 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48217 https://www.radiorodja.com/48217-kajian-singkat-4-sikap-muslim-dalam-menghadapi-virus-corona/#comments https://www.radiorodja.com/48217-kajian-singkat-4-sikap-muslim-dalam-menghadapi-virus-corona/feed/ 1 <p>4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona adalah bagian tanya jawab dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah ketika membahas kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Jawaban ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 8 Jumadal Akhirah 1441 H / 02 Februari 2020 […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48217-kajian-singkat-4-sikap-muslim-dalam-menghadapi-virus-corona/">Kajian Singkat 4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> 4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona adalah bagian tanya jawab dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah ketika membahas kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). 4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona adalah bagian tanya jawab dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah ketika membahas kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Jawaban ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 8 Jumadal Akhirah 1441 H / 02 Februari 2020 M.
Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang 4 Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona



Pertanyaan: Ada saudara Abdullah di Pekalongan, kemudian Ummu Aisyah di Jakarta dan lainnya yang meminta secara khusus nasehat dari Syaikh terkait dengan fenomena virus Corona yang saat ini timbul dari negeri Cina dan dikhawatirkan akan menyebar dan sampai ke negeri-negeri lainnya termasuk negeri Indonesia. Sebagai Muslim, bagaimanakah sikap yang terbaik dalam menghadapi adanya ancaman virus Corona? Mohon nasehatnya agar senantiasa kmai bertawakal atas apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Mohon nasihat dan jawaban dari Syaikh, Jazakumullahu Khairan.



Jawaban beliau Hafidzahullah bahwa seorang yang beriman hendaklah senantiasa bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, beriman dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau telah menulis untuk masalah ini (yaitu virus Corona), ada beberapa nasehat yang beliau sampaikan, yaitu diantaranya:



Pertama, semua berasal dari Allah



Wajib bagi setiap Muslim dalam setiap keadaannya selalu meminta perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bertawakal kepadaNya, meyakini bahwasanya seluruh urusan/perkara ada ditangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:



مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ



“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa manusia kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun[64]: 11)



Karena semua perkara/semua urusan di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah aturan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang Allah inginkan pasti terjadi dan apa yang Allah tidak inginkan maka tidak akan terjadi dan tidak ada yang dapat melindungi kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.



قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّـهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً



“Katakanlah, siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala jika Allah menginginkan keburukan kepada kalian atau Allah menginginkan rahmat bagi kalian.” (Al-Ahzab[33]: 17)



إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّـهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ



“Jika Allah menginginkan untukku keburukan, apakah mereka bisa mengangkat keburukan tersebut? Atau Allah menginginkan rahmat (kasih sayang) untukku apakah mereka bisa menjadi penghalang untuk rahmat tersebut?” (QS. Az-Zumar[39]: 38)



Juga firman Allah:



مَّا يَفْتَحِ اللَّـهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْس...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48217
Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikathttps://www.radiorodja.com/48202-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-dinaungi-sayap-malaikat/ Fri, 28 Feb 2020 04:21:44 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48202 https://www.radiorodja.com/48202-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-dinaungi-sayap-malaikat/#respond https://www.radiorodja.com/48202-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-dinaungi-sayap-malaikat/feed/ 0 <p>Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 23 Jumadal Akhirah 1441 H / 17 Februari 2020 M. Pembahasan pada halaman […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48202-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-dinaungi-sayap-malaikat/">Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab التبيان في شرح أخلاق حملة القرآن (At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 23 Jumadal Akhirah 1441 H / 17 Februari 2020 M.
Pembahasan pada halaman 53 pada kitab At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat
Imam Al-Ajurri Rahimahullah menyebutkan dalam kitab beliau bab tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur’an. Maksud beliau adalah pahala yang akan didapatkan atau kebaikan dan keutamaan yang akan didapatkan oleh orang yang duduk di masjid atau di rumah-rumah Allah ‘Azza wa Jalla.
Karena kata “فضل” di sini mufrad namun diidhafahkan maka berarti umum, artinya keutamaan-keutamaan.
Perkataan beliau, “Untuk mempelajari Al-Qur’an” maksudnya adalah untuk mempelajari Al-Qur’an. Dan yang dimaksud di sini ada dua hal; yang pertama yaitu berkumpulnya beberapa orang kepada satu orang yang mutqin dalam membaca Al-Qur’an dan mengajarkan mereka satu persatu cara membaca yang benar. Dan yang kedua yaitu mereka semua duduk menghadiri majelis satu seorang yang memahami tentang Al-Qur’an kemudian alim tersebut menjelaskan kepada mereka makna-makna dan menerangkan kepada mereka petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan semua yang kita sebutkan tadi termasuk mempelajari Al-Qur’an baik itu untuk mempelajari cara membaca yang benar atau untuk mengetahui isi dan petunjuk-petunjuk dari Al-Qur’an. Maka yang dimaksud dalam bab ini mencakup dua hal yang kita sebutkan tadi.
Imam Al-Ajurri Rahimahullah menyebutkan sanadnya sampai ke sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:
مَا تَجَلَسَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Tidaklah suatu kaum duduk di rumah dari rumah-rumah Allah mereka membaca kitabullah, mereka mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka malaikat dan mereka akan diliputi rahmat dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebutkan mereka di hadapan para makhlukNya yang ada di sisiNya. Dan barangsiapa yang terlambat amalannya maka tidak akan dicepatkan oleh nasabnya.”
Maksud sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Tidaklah suatu kaum duduk-duduk” di sini beliau menyebutkan dua orang atau lebih yang ikut serta dalam satu kegiatan. Dan di sini mengandung makna motivasi dan anjuran bagi orang-orang untuk saling tolong-menolong, saling bantu-membantu,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48202
Khutbah Jumat Renungan Hidup - Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan?https://www.radiorodja.com/48205-khutbah-jumat-renungan-hidup-apa-yang-seharusnya-kita-pikirkan/ Tue, 25 Feb 2020 07:36:06 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=48205 https://www.radiorodja.com/48205-khutbah-jumat-renungan-hidup-apa-yang-seharusnya-kita-pikirkan/#respond https://www.radiorodja.com/48205-khutbah-jumat-renungan-hidup-apa-yang-seharusnya-kita-pikirkan/feed/ 0 <p>Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Jumadal Akhirah 1441 H / 21 Februari 2020 H. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? إنَّ […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/48205-khutbah-jumat-renungan-hidup-apa-yang-seharusnya-kita-pikirkan/">Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan?</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Jumadal Akhirah 1441 H / 21 Februari 2020 H.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan?
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Karena itulah tujuan hidup kita di dunia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
Maka kewajiban setiap hamba untuk benar-benar memperhatikan tentang ibadah. Karena itu adalah merupakan tujuan hidupnya. Manusia tidak diciptakan untuk hidup di dunia selamanya, manusia tidak diciptakan untuk senantiasa mencari dunia dan dunia walaupun itu sesuatu yang ia butuhkan dalam hidupnya. Karena sesungguhnya ibadah adalah kebutuhan yang lebih besar daripada makanan dan minuman.
Maka kewajiban seorang hamba untuk senantiasa merealisasikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menuntut ilmu, dengan cara berusaha mengamalkan ilmu,  dengan cara berusaha untuk mengikuti jejak kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena tidak ada manfaat hidup kalau ternyata tidak diwarnai dengan ibadah kepada Allah.
Manusia berbeda dengan binatang ternak. Binatang ternak hanya mengikuti hawa nafsu saja, mereka tidak diberikan oleh Allah akal, mereka tidak diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala alat untuk berpikir. Mereka hanya hidup di dunia saja. Adapun di hari akhirat mereka dikumpulkan kemudian menjadi tanah. Saat itulah orang-orang kafir berkata:
يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
“Andaikan aku pun menjadi tanah seperti mereka.” (QS. An-Naba'[78]: 40)
Maka dari itu saudaraku.. Manusia diberikan oleh Allah balasan di akhirat kelak.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴿٨﴾
“Siapa yang mengamalkan kebaikan sekecil apapun dia akan melihat balasannya dan siapa yang mengamalkan keburukan sekecil apapun dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah[99]: 7-8)
Maka setiap kita, saudaraku.. Berpikir tentang hakikat hidupnya di dunia bahwasanya ia akan kembali kepada Allah. Bahwasannya ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka saudaraku sekalian.. Kita hidup di dunia hendaklah waspada. Jangan sampai kemudian kita tenggelam di dalam dunia. Karena sesungguhnya ketika kapal itu telah dipenuhi oleh air di lautan, ia akan karam dan tenggelam.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 48205