Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com Menebar Cahaya Sunnah Tue, 21 May 2019 23:08:02 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.1 https://radiorodja-l8ivnifz64sq.stackpathdns.com/wp-content/uploads/cropped-radio-rodja-512px-emblem-1-32x32.png Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com 32 32
Studio Radio Rodja dan RodjaTV
Jl. Pahlawan (belakang Polsek Cileungsi)
Kp. Tengah RT03 / RW03
Kecamatan Cileungsi
Bogor – 16820

Nomor Telepon Interaktif: 021 823 6543
SMS: 081 989 654
Email: info@rodja.co.id]]>
Radio Rodja 756 AM clean episodic Radio Rodja 756 AM info@rodja.co.id info@rodja.co.id (Radio Rodja 756 AM) Copyright © Radio Rodja 756 AM 2018 Menebar Cahaya Sunnah Radio Rodja 756 AM https://www.radiorodja.com/wp-content/uploads/radio-rodja-200px.jpg https://www.radiorodja.com 114584281 Dua Sumber Munculnya Kerusakan dan Kedustaan Yang Tersebar https://www.radiorodja.com/47167-dua-sumber-munculnya-kerusakan-dan-kedustaan-yang-tersebar/ Tue, 21 May 2019 07:38:51 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47167 https://www.radiorodja.com/47167-dua-sumber-munculnya-kerusakan-dan-kedustaan-yang-tersebar/#respond https://www.radiorodja.com/47167-dua-sumber-munculnya-kerusakan-dan-kedustaan-yang-tersebar/feed/ 0 <p>Dua Sumber Munculnya Kerusakan dan Kedustaan Yang Tersebar merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 14 Rajab 1440 H / 21 Maret 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya Kajian Islam Ilmiah Tentang Dua […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47167-dua-sumber-munculnya-kerusakan-dan-kedustaan-yang-tersebar/">Dua Sumber Munculnya Kerusakan dan Kedustaan Yang Tersebar</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Dua Sumber Munculnya Kerusakan dan Kedustaan Yang Tersebar merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 14 Rajab 1440 H / 21 Maret 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya
Kajian Islam Ilmiah Tentang Dua Sumber Munculnya Kerusakan dan Kedustaan Yang Tersebar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ أُولَـٰئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُم مِّنَ الْكِتَابِ
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab;” (QS. Al-Ahzab[7]: 37)
Di sini terdapat penjelasan yang menyebutkan bahwa sumber munculnya kebatilan, kerusakan dan kedustaan yang kemudian tersebar dikalangan manusia, kembali kepada dua hal; pertama, adanya orang yang membuat kebatilan atau mengada-ngadakan kedustaan. Inilah yang mencetuskannya pertama kali dan yang membuatnya. Ditambah lagi dengan dialah yang mempopulerkannya dikalangan manusia, akhirnya banyak yang mengikutinya. Kedua, orang yang mendustakan kebenaran dan menerima atau terpengaruh dengan ajakan tadi. Akhirnya dengan itu dia menolak kebenaran yang dibawa oleh Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka golongan yang pertama dihukumi kufur. Tidak ada yang lebih dzalim dan lebih kufur dibandingkan mereka. Karena mereka yang mengada-adakan kedustaan, mencetuskan munculnya kebatilan. Sedangkan yang kedua adalah kufur karena menolak kebenaran.
Kalau kita renungkan, ayat ini menjelaskan dua golongan manusia yang ini selalu ada dikalangan orang-orang yang membawa kebatilan. Ada dua golongan ini, baik yang pertama maupun orang yang kedua. Karena golongan yang pertama adalah yang membuat dan menciptakannya. Sedangkan yang kedua adalah yang terpengaruh kemudian dengan itu dia menolak dan mendustakan kebenaran.
Kalau kemudian ditambahkan lagi keburukannya ini dengan dia mengajak manusia kepada kebatilannya, bahkan menghalangi manusia dari mengikuti kebenaran, maka berarti dia berhak untuk dilipatgandakan padanya adzab. Karena kekufurannya sendiri sudah merupakan keburukan, ditambah dengan perbuatannya yang mengajak manusia kepada keburukan tersebut serta mencegah manusia dari jalan yang benar.
Oleh karena itulah hal ini disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّـهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ ﴿٨٨﴾
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl[16]: 88)
Penjelasan yang disebutkan di dalam ayat ini mengabarkan kepada kita bahwa memang keburukan dilakukan secara umum oleh dua golongan manusia ini. Sehingga ketika ada yang pertama kali menciptakan kebatilan, maka ada orang-orang yang ikut mendukungnya. Lalu setelah dia mendustakan, mereka berusaha untuk menyebarkan kedustaan tersebut di kalangan manusia dan menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran.
Oleh karena itulah kenapa kebatilan banyak tersebar, karena kerja sama yang dilakukan oleh dua kelompok ini tidak henti-hentinya saling membisikkan satu sama yang lain kata-kata indah yang memperdaya dan menipu. Ketika mereka ini kufur  dan juga ditambah dengan menghalangi hamba-hamba Allah dari jalan yang ben...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47167
Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya https://www.radiorodja.com/47165-jangan-berteman-dengan-teman-yang-buruk-agamanya/ Tue, 21 May 2019 06:47:54 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47165 https://www.radiorodja.com/47165-jangan-berteman-dengan-teman-yang-buruk-agamanya/#respond https://www.radiorodja.com/47165-jangan-berteman-dengan-teman-yang-buruk-agamanya/feed/ 0 <p>Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 7 Rajab 1440 H / 14 Maret 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya Kajian Islam Ilmiah Tentang Jangan Berteman […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47165-jangan-berteman-dengan-teman-yang-buruk-agamanya/">Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 7 Rajab 1440 H / 14 Maret 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya
Kajian Islam Ilmiah Tentang Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya
Pada pertemuan yang terakhir kemarin, kita telah membahas dalil-dalil dan penjelasan dari Imam Ibnul Qayyim tentang buruknya orang-orang yang berpaling dari petunjuk wahyu, dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang mana ini menjerumuskan mereka ke dalam kebatilan.
Kemudian di penjelasan lanjut ini, Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan tentang segala bentuk kedekatan manusia, pengikut dan orang-orangan yang diikuti, kedekatan dan kecintaan mereka sewaktu di dunia akan berakibat lebih fatal dan lebih buruk di akhirat nanti.
Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا ﴿٢٩﴾
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan[25]: 26-29)
Ini adalah keadaan orang yang saling mengikuti tanpa petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, saling loyal dan saling mencintai, maka nasibnya seperti ini. Dia akan menyesali orang-orang yang dekat dengannya yang ternyata tidak membimbing dia untuk mengikuti jalannya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan menjadikannya berpaling dari petunjuk tersebut.
Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa siapa yang menjadi pengikut setia seorang manusia selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kemudian dia meninggalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena mengikuti orang yang diikutinya tersebut, maka sesungguhnya dia akan mengucapkan ucapan ini pada hari kiamat nanti dan pasti demikian.
Jadi di sini, orang yang berpaling dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia akan mengatakan, “Duhai alangkah baiknya seandainya dulu di dunia aku mau mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah, seandainya dulu aku tidak menjadikan si fulan ini sebagai orang yang aku kagumi dan selalu aku ikuti pendapatnya.”
Ini adalah perkataan yang akan diucapkan oleh setiap orang yang menjadikan selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panutan yang kemudian dia meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya karena mengikuti, membela dan mengambil pendapat dari tokoh yang dikaguminya.
Oleh karena itulah yang disebut sebagai khalil (kekasih) yang selalu diikuti, tokoh yang dikagumi yang selalu diikuti pendapatnya, di sini Allah menyebutkan namanya dengan “fulan”. Karena semua yang diikuti atau yang dijadikan sebagai panutan, maka dia adalah dijadikan sebagai wali-wali penolong selain Allah.
Inilah keadaan orang yang saling berkasih sayang,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47165
Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya https://www.radiorodja.com/47153-berdakwah-dalam-yang-haq-dan-bersabar-didalamnya/ Tue, 21 May 2019 06:35:02 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47153 https://www.radiorodja.com/47153-berdakwah-dalam-yang-haq-dan-bersabar-didalamnya/#respond https://www.radiorodja.com/47153-berdakwah-dalam-yang-haq-dan-bersabar-didalamnya/feed/ 0 <p>Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 30 Jumadal Akhirah 1440 H / 07 Maret 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya Kajian Islam Ilmiah Tentang […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47153-berdakwah-dalam-yang-haq-dan-bersabar-didalamnya/">Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 30 Jumadal Akhirah 1440 H / 07 Maret 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya
Kajian Islam Ilmiah Tentang Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa sempurnanya kebahagiaan dunia akhirat, setelah kita mempelajari dan memahami petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian berusaha mempraktekannya, ditambah dua hal lagi. Yaitu yang pertama berdakwah mengajak manusia ke jalan petunjuk ini, yang kedua adalah bersabar dan bersungguh-sungguh ketika menegakkan dakwah.
Inilah puncak dari kebahagiaan manusia. Sebab yang akan menghindarkan mereka dari segala bentuk keburukan dan kerugian.
Maka tersimpullah kesempurnaan hidup manusia di atas 4 tahapan atau tingkatan kebaikan. Yaitu:

* memahami petunjuk yang dibawa oleh para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam,
* mengamalkannya,
* menyebarkan dan mendakwahkannya kepada manusia,
* kesabaran dan kesungguhan dalam menunaikan dan mempraktekkan semua itu.

Inilah kesempurnaan manusia. Makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam menempuh jalan ini dan memiliki 4 tingkatan ini secara sempurna.
Sudah kita bahas kemarin makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjelaskan jalannya Rasul dan orang-orang yang mengikutinya.
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٠٨﴾
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf[12]: 108)
Inilah jalan sunnah, jalan yang membawa kepada petunjuk Allah dan keridhaanNya. Pengikut sunnah adalah orang yang berdakwah di atas ilmu setelah mereka paham, setelah mereka praktekkan, lalu mengajak manusia untuk mengikutinya.
Inilah jalan sunnah. Dan dengan inilaah Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Sallam serta memuliakan pewaris para Nabi dan para Rasul.
Keterangan dari para ulama, di antaranya termasuk Imam Ibnul Qayyim sewaktu menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dalam Islam, mereka selalu mengartikan bahwa kedudukan yang paling pantas untuk meraihnya adalah orang-orang yang mempelajari petunjuk sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengamalkannya.
Contoh ketika Imam Ibnul Qayyim menafsirkan tentang wali Allah, siapakah wali Allah yang disebutkan di dalam hadits qudsi yang shahih? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ عادَى ليَ ولِيّاً، فقدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ
“Barangsiapa yang memusuhi kekasihku maka sungguh aku telah menghubungkan peperangan kepadanya.” (HR. Bukhari Muslim)
Ketika menafsirkan hadits qudsi yang agung ini, Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menyampaikan komentar beliau di kitab Miftah Daris Sa’adah, beliau berkata bahwa pewaris para Nabi adalah orang-orang yang mempelajari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mereka inilah pemimpinnya para wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Coba kita perhatikan,]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47153
Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya https://www.radiorodja.com/47151-mengembalikan-setiap-permasalahan-kepada-allah-dan-rasulnya/ Mon, 20 May 2019 00:50:16 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47151 https://www.radiorodja.com/47151-mengembalikan-setiap-permasalahan-kepada-allah-dan-rasulnya/#respond https://www.radiorodja.com/47151-mengembalikan-setiap-permasalahan-kepada-allah-dan-rasulnya/feed/ 0 <p>Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 16 Jumadal Akhirah 1440 H / 21 Februari 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri Kajian Islam […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47151-mengembalikan-setiap-permasalahan-kepada-allah-dan-rasulnya/">Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 16 Jumadal Akhirah 1440 H / 21 Februari 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri
Kajian Islam Ilmiah Tentang Mengembalikan Setiap Permasalahan kepada Allah dan RasulNya
Kita akan memasuki pembahasan yang masih kelanjutan dari pembahasan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat An-Nisa ayat 59 tentang keharusan mengembalikan setiap permasalahan, setiap perbedaan pendapat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di akhir ayat ini:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾
“Dan jika kalian berselisih pendapat tentang satu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada RasulNya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan akibatnya pun juga lebih baik.” (QS. An-Nisa[4]: 59)
Ayat ini menjelaskan tentang konsekuensi dari hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Konsekuensi dari memurnikan ittiba’ kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mengembalikan permasalahan yang kita perselisihan kepada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan petunjuk RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yaitu kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini.
Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab ini bahwa ini merupakan argumentasi yang sangat jelas dan pasti tentang wajibnya mengembalikan setiap permasalahan, perbedaan pendapat atau perselisihan pendapat diantara kita dalam semua hal yang diperselisihkan manusia dari urusan agama, semuanya harus dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Ingat, ini menyangkut konsekuensi iman, menyangkut konsekuensi hijrah kepada Allah dan RasulNya yang wajib. Bahkan ini merupakan bukti benarnya iman. Tidak kepada siapapun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, tidak kepada siapapun yang kita kagumi, siapapun yang kita jadikan sebagai orang yang membimbing kita selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.
Maka barangsiapa yang mengembalikan perselisihan pendapat tersebut kepada selain Allah dan RasulNya, berarti dia telah menentang perintah Allah dan barangsiapa yang ketika terjadi perbedaan pendapat lalu dia menyeru untuk mengembalikan hukum kepada selain Allah dan RasulNya, berarti dia telah menyeru dengan seruan jahiliyah.
Ini adalah seruan yang merupakan konsekuensi iman, menyelisihinya berarti menunjukkan orang ini adalah orang yang masih diliputi dengan keyakinan-keyakinan jahiliyah. Jelas-jelas dia menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan dalam ayat ini. Maka seorang hamba tidak dikatakan masuk ke dalam iman yang benar, iman yang sesuai dengan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sampai dia mengembalikan semua hal yang diperselisihkan oleh manusia, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan manusia, dia mengembalikan semua itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.
Ini berhubungan dengan masalah iman.]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47151
Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri https://www.radiorodja.com/47148-taatlah-kepada-allah-taatlah-kepada-rasul-dan-ulil-amri/ Sat, 18 May 2019 02:34:53 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47148 https://www.radiorodja.com/47148-taatlah-kepada-allah-taatlah-kepada-rasul-dan-ulil-amri/#respond https://www.radiorodja.com/47148-taatlah-kepada-allah-taatlah-kepada-rasul-dan-ulil-amri/feed/ 0 <p>Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 2 Jumadal Akhirah 1440 H / 07 Februari 2019 M. Download juga kajian sebelumnya: Berpegang Teguh dengan Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Kajian […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47148-taatlah-kepada-allah-taatlah-kepada-rasul-dan-ulil-amri/">Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 2 Jumadal Akhirah 1440 H / 07 Februari 2019 M.

Download juga kajian sebelumnya: Berpegang Teguh dengan Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Kajian Islam Ilmiah Tentang Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri
Kita sedang membahas makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)
Ini adalah salah satu tahapan hijrah yang sangat besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dipembahasan terakhir kemarin telah kita baca sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan bahwa akan ada orang-orang yang nanti ketika datang padanya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia seolah-olah membandingkannya dengan Al-Qur’an. Apa yang dia tidak dapatkan dari Al-Qur’an, maka hadits tersebut ditolak. Ini jelas pemahaman yang sangat keliru dan menyimpang.
Jadi, di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang teguh dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama itu shahih. Maka kita wajib berpegang teguh dengannya meskipun tidak terdapat perintah tersebut secara persis. Karena secara umum Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ
 “Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa[4]: 80)
Makanya orang-orang yang menolak hadits yang shahih dengan mengatakan tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, ini adalah kedustaan yang justru mendustakan Al-Qur’an itu sendiri.
Pembahasan lanjutan dari ayat yang kita bahas tadi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri.”
Ketika menyebutkan “taat kepada Rasul”, diulangi. Menunjukkan taat kepada Rasul itu tersendiri, wajib untuk dilakukan selama ada berita dari hadits yang sahih yang sampai kepada kita.
Adapun Ulil Amri, tidak diulangi “ketaatan kepadanya”, tapi digandengkan dengan perintah ketaatan sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketaatan kepada Ulil Amri harus termasuk di dalam ketaatan kepada Rasul. Yakni tidak boleh menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.
Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim di sini bahwa adapun pemimpin di sini, maka tidak wajib kita mentaati salah seorang di antara mereka, kecuali kalau termasuk di dalam ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sall...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47148
Perkara Yang Membatalkan Shalat dan Syarat-Syarat Wudhu https://www.radiorodja.com/47142-perkara-yang-membatalkan-shalat-dan-syarat-syarat-wudhu/ Sat, 18 May 2019 02:18:26 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47142 https://www.radiorodja.com/47142-perkara-yang-membatalkan-shalat-dan-syarat-syarat-wudhu/#respond https://www.radiorodja.com/47142-perkara-yang-membatalkan-shalat-dan-syarat-syarat-wudhu/feed/ 0 <p>Perkara Yang Membatalkan Shalat dan Syarat-Syarat Wudhu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 22 Sya’ban 1440 H / 28 April 2019 M. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A. Download kajian sebelumnya: […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47142-perkara-yang-membatalkan-shalat-dan-syarat-syarat-wudhu/">Perkara Yang Membatalkan Shalat dan Syarat-Syarat Wudhu</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Perkara Yang Membatalkan Shalat dan Syarat-Syarat Wudhu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 22 Sya’ban 1440 H / 28 April 2019 M.
Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download kajian sebelumnya: Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat
Kajian Ilmiah Tentang Perkara Yang Membatalkan Shalat dan Syarat-Syarat Wudhu
Kita telah sampai pada pelajaran ke-11, yaitu pembatal-pembatal shalat. Pembatal-pembatal shalat ada 8:

* berbicara dengan sengaja ketika ingat dan tahu bahwasanya itu tidak boleh. Adapun orang yang lupa atau yang tidak tahu maka tidak batal shalatnya karena hal tersebut,
* tertawa,
* makan,
* minum,
* terbukanya aurat,
* melenceng jauh dari arah kiblat,
* bergerak yang tidak perlu yang terus-menerus ketika shalat,
* batalnya kesucian atau batalnya wudhu.

Perkataan beliau  Rahimahullah, “Pembatal-pembatal shalat” yaitu perkara-perkara yang apabila hal tersebut ada, maka akan batal shalat seseorang. Dan pembatal-pembatal ini wajib untuk diketahui oleh setiap Muslim agar ia menghindari pembatal-pembatal tersebut dan tidak terjatuh atau melakukan salah satu dari pembatal-pembatal tersebut yang dapat membatalkan shalatnya. Beliau menyebutkan pembatal tersebut ada 8.
1. Berbicara dengan sengaja ketika ingat dan tahu hukumnya
Hal ini berdasarkan hadits Sahabat Zaid bin Arqam ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّـهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 238)
Beliau mengatakan:
كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلَى جَنْبِهِ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى نَزَلَتْ { وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ } فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ
“Dahulu kami berbicara ketika shalat. Seorang laki-laki berbicara dengan orang di sampingnya ketika dia sedang shalat, sampai turun firman Allah, ‘…berdirilah menghadap kepada Allah dalam keadaan tenang. (Al-Baqarah: 238). Maka kami pun memerintahkan untuk diam dan kami dilarang untuk berbicara ketika shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perkataan beliau, “Ketika ingat” artinya ketika tidak sedang lupa. Juga perkataan beliau, “dan tahu” artinya tidak jahil terhadap hukum berbicara ketika shalat. Maka apabila seseorang berbicara dalam keadaan lupa atau ia berbicara dan tidak tahu bahwasanya tidak boleh seorang berbicara ketika shalat, maka shalatnya tidak batal. Hal ini karena udzur lupa dan udzur tidak tahu.
2 – 3 – 4. Tertawa, makan dan minum
Pembatal kedua, ketiga dan keempat adalah tertawa, makan dan minum. Dan ini menurut kesepakatan para ulama. Jika seseorang tertawa ketika shalat atau makan atau minum, maka shalatnya batal.
5. Terbukanya Aurat
Yang kelima adalah terbukanya aurat. Dan telah kita jelaskan dalam syarat-syarat shalat tentang wajibnya menutup aurat. Apabila syarat tersebut tidak terpenuhi, maka batal shalat seseorang.
6. Melenceng jauh dari arah kiblat
Yang keenam adalah melenceng jauh dari arah kiblat. Karena menghadap kiblat adalah salah satu dari syarat s...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47142
Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam https://www.radiorodja.com/47154-khutbah-jumat-ramadhan-allah-tidak-menghendaki-kesulitan-bagi-umat-islam/ Sat, 18 May 2019 01:27:12 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47154 https://www.radiorodja.com/47154-khutbah-jumat-ramadhan-allah-tidak-menghendaki-kesulitan-bagi-umat-islam/#respond https://www.radiorodja.com/47154-khutbah-jumat-ramadhan-allah-tidak-menghendaki-kesulitan-bagi-umat-islam/feed/ 0 <p>Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at,  12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019 M. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam إنَّ الـحَمْدَ […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47154-khutbah-jumat-ramadhan-allah-tidak-menghendaki-kesulitan-bagi-umat-islam/">Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at,  12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019 M.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Ramadhan: Allah Tidak Menghendaki Kesulitan Bagi Umat Islam
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita puasa Ramadhan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita banyak kemudahan demi kemudahan. Ketika Allah menyebutkan tentang puasa Ramadhan, Allah menyebutkan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Puasa Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia dan sebagai penjelas dari hidayah. Demikian pula sebagai pemisah antara yang hak dan yang batil.”
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Siapa yang melihat bulan Ramadhan (hilal), hendaklah ia berpuasa.”
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan siapa yang sakit atau ia sedang safar (bepergian jauh) namun ia tidak berpuasa, maka hendaklah ia ganti dengan hari-hari yang lain.”
Kemudian Allah mengatakan:
يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan Allah tidak menginginkan untuk kalian kesusahan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)
Subhanallah.. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menginginkan kesulitan bagi kita umat Islam. Dan Allah tidak pernah menjadikan agama ini sesuatu yang menyulitkan. Allah berfirman:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan tidaklah Allah jadikan untuk kalian dalam agama ini sesuatu yang menyusahkan.” (QS. Al-Hajj[22]: 78)
Maka dari itulah, saudaraku..
Islam adalah agama yang memberikan kemudahan kepada pemeluknya, tidak memberikan kesusahan dan kesulitan. Namun bukan artinya kemudahan di sini disesuaikan dengan selera manusia. Akan tetapi kemudahan di sini tentu sesuai yang Allah syariatkan kepada hamba-hambaNya.
Lihatlah di bulan Ramadhan ini, betapa Allah berikan kemudahan kepada kita berpuasa di bulan Ramadhan. Allah wajibkan hanya dari semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari. Bandingkan dengan puasa orang-orang sebelum kita. Puasa orang-orang sebelum kita itu 24 jam, dari maghrib sampai maghrib kembali, sementara untuk umat Islam Allah berikan kemudahan kepada kita hanya dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Bukankah ini sebuah kemudahan? Alhamdulillah untuk kita umat Islam. Sementara dimalam hari kita dibebaskan untuk makan dan minum,]]> Radio Rodja 756 AM clean 47154 Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat https://www.radiorodja.com/47134-bacaan-doa-iftitah-dan-sunnah-sunnah-shalat/ Wed, 15 May 2019 10:33:42 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47134 https://www.radiorodja.com/47134-bacaan-doa-iftitah-dan-sunnah-sunnah-shalat/#respond https://www.radiorodja.com/47134-bacaan-doa-iftitah-dan-sunnah-sunnah-shalat/feed/ 0 <p>Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A. Download kajian sebelumnya: Sunnah-Sunnah […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47134-bacaan-doa-iftitah-dan-sunnah-sunnah-shalat/">Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M.
Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download kajian sebelumnya: Sunnah-Sunnah Shalat
Kajian Ilmiah Tentang Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat
Kita lanjutkan kajian kita tentang sunah-sunah shalat. Berkata Syaikh bin Baz Rahimahullah sunah-sunah shalat diantaranya adalah:
1. Al-Istiftah
Dinamakan dengan istiftah karena dengan do’a ini shalat itu di mulai. Do’a ini dibaca di awal setelah takbiratul ihram. Setelah takbiratul ihram kita membaca do’a iftitah. Dan banyak do’a-do’a iftitah yang diterangkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka dengan do’a iftitah yang terdapat riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang manapun yang kita baca, berarti kita telah melaksanakan sunnah tersebut. Dan apabila kita kadang-kadang membaca do’a ini, terkadang membaca do’a yang itu, maka itu lebih baik.
Diantara do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika istiftah adalah:
Pertama,
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan es” (HR. Bukhari Muslim)
Kedua,
Juga do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terkadang dibaca oleh Nabi kita ‘Alaihish shalatu was Salam adalah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan namaMu dengan memujiMu. NamaMu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR. Abu Daud,  Tirmidzi, Ibnu Majah)
Do’a-do’a iftitah ini ada yang mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ (Maha Suci Engkau, segala puji bagiMu). Juga ada yang mengandung do’a dan permintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti do’a اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ (Ya Allah jauhkanlah antara Aku dan antara kesalahan-kesalahanku). Juga ada do’a-do’a yang menggabungkan diantara keduanya, pengagungan dan pujian kepada Allah.
Ketiga,
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika membaca iftitah dalam shalat lail, yaitu do’a:
اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِ...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47134
Sunnah-Sunnah Shalat https://www.radiorodja.com/47132-sunnah-sunnah-shalat/ Wed, 15 May 2019 00:07:41 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47132 https://www.radiorodja.com/47132-sunnah-sunnah-shalat/#respond https://www.radiorodja.com/47132-sunnah-sunnah-shalat/feed/ 0 <p>Sunnah-Sunnah Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A. Download kajian sebelumnya: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47132-sunnah-sunnah-shalat/">Sunnah-Sunnah Shalat</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Sunnah-Sunnah Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M.
Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download kajian sebelumnya: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir
Kajian Ilmiah Tentang Sunnah-Sunnah Shalat
Menit ke-18:39
Pelajaran ke-10, sunah-sunah shalat. Sunah-sunah shalat diantaranya adalah;

* membaca do’a istiftah atau do’a iftitah,
* meletakkan telapak tangan sebelah kanan di atas telapak tangan sebelah kiri di atas dada ketika berdiri sebelum ruku’ dan setelahnya,
* mengangkat kedua tangan dengan merapatkan jari-jari sampai sejajar dengan bahu dan dua telinga ketika bertakbir, ketika ruku’, ketika bangkit dari ruku’ dan ketika bangkit dari tasyahud,
* membaca lebih dari satu kali tasbih ruku’ dan sujud,
* membaca rabbanaa wa lakal hamdu ketika bangkit dari ruku’ dan membaca lebih dari 1 kali ucapan robbighfirli ketika duduk diantara dua sujud,
* meluruskan antara kepala dan punggung ketika ruku’,
* menjauhkan dua tangan dari 2 pinggang juga menjauhkan perut dari 2 paha dan 2 paha dari 2 lutut ketika sujud,
* mengangkat dua lengan dari tangan ketika sujud,
* duduk iftirash ketika duduk diantara dua sujud juga ketika tasyahud awal, duduk tawaruk ketika tasyahud akhir,
* ketika shalat empat rakaat dan 3 rakaat yaitu duduk di atas paha yang sebelah atas dan menjadikan kaki yang kiri di bawah kaki yang kanan dan menegakkan kaki yang kanan (duduk tawaruk),
* menunjuk dengan jari telunjuk ketika tasyahud awal dan tasyahud yang kedua ketika mulai duduk untuk tasyahud dan menggerak-gerakkannya ketika berdo’a,
* berselawat dan mendo’akan keberkahan untuk Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana shalawat dan keberkahan untuk Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim ditasyahud yang pertama,
* berdo’a ketika tasyahud akhir,
* membesarkan suara atau menjaharkan suara ketika shalat fajar, shalat jumat, shalat ‘Idul Fitri dan Idul Adha, ketika shalat istisqa’, dua rakaat pertama dari shalat maghrib dan shalat ‘isya,
* mensirrkan atau mengecilkan suara bacaan ketika shalat dzuhur dan shalat ashar juga rakaat ketiga dari shalat maghrib dan 2 rakaat terakhir dari shalat ‘isya,
* membaca surat selain surat Al-Fatihah dari Al-Qur’an, juga memperhatikan sunnah-sunnah yang lain selain apa yang telah kita sebutkan yang di antaranya adalah do’a selain rabbanaa wa lakal hamdu ketika bangkit dari ruku’ baik untuk imam untuk makmum dan untuk orang yang shalat sendirian karena hal tersebut disunnahkan,
* meletakkan 2 tangan di lutut ketika ruku’ dengan membentangkan jari-jari ketika ruku’

Ketika penulis kitab ini Rahimahullah Syaikh bin Baz menyelesaikan pembicaraan tentang rukun-rukun, wajib-wajib yang berkaitan dengan shalat, beliau menyebutkan pelajaran ini untuk menjelaskan sunnah-sunnah yang berkaitan dengan shalat. Yang mana sunnah-sunnah ini bukan termasuk rukun dan bukan termasuk wajib.
Ini mengingatkan kepada kita untuk pentingnya memperhatikan sunnah-sunnah ini dan seseorang dituntut untuk bersemangat untuk melakukannya dan tidak mengatakan bahwasanya ini sekedar sunnah dengan menganggap remeh hal tersebut. Akan tetapi dituntut bagi seorang Muslim untuk memperhatikan hal ini dan jangan sampai dia termasuk orang yang meninggalkan sunnah ini karena dia tid...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47132
Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir https://www.radiorodja.com/47130-ceramah-singkat-tentang-sholat-penjelasan-bacaan-tahiyat-awal-dan-akhir/ Tue, 14 May 2019 23:42:35 +0000 https://www.radiorodja.com/?p=47130 https://www.radiorodja.com/47130-ceramah-singkat-tentang-sholat-penjelasan-bacaan-tahiyat-awal-dan-akhir/#respond https://www.radiorodja.com/47130-ceramah-singkat-tentang-sholat-penjelasan-bacaan-tahiyat-awal-dan-akhir/feed/ 0 <p>Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 15 Sya’ban 1440 H / 21 April 2019 M. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A. […]</p> <p>Tulisan <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com/47130-ceramah-singkat-tentang-sholat-penjelasan-bacaan-tahiyat-awal-dan-akhir/">Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir</a> ditampilkan di <a rel="nofollow" href="https://www.radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a>.</p> Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 15 Sya’ban 1440 H / 21 April 2019 M.
Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download kajian sebelumnya: Doa Tahiyat Akhir
Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir
Untuk menyempurnakan pelajaran kita tentang tahiyat, kita berhenti sebentar untuk mendengarkan faidah yang sangat penting yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab beliau Ash-Shalah yang berkaitan dengan tasyahud, shalawat ibrahimiyah dan ucapan-ucapan isti’adzah yang kita ucapkan di akhir tahiyat kita.
Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa tahiyat adalah penghormatan seorang hamba kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak dengan semua penghormatan-penghormatan dari selainNya.
Karena tahiyat ini mengandung makna kehidupan, kekekalan, dan tidak ada yang berhak terhadap tahiyat ini kecuali Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati dan tidak akan hilang kerajaanNya.
Juga perkataan atau bacaan seseorang ketika bertahiyat ini tidak berhak seorang pun kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh shalat dilakukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata الطَّيِّبَاتُ, adalah sifat dari sesuatu yang disifati akan tetapi dihapus atau tidak kelihatan. Maksudnya adalah thoyyibat (yang baik-baik) dari ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, sifat-sifat dan nama-nama yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah adalah Maha Baik, ucapanNya semua baik, sifat-sifatNya adalah sifat yang paling baik, nama-namaNya adalah nama-nama yang paling baik.
Bahkan di antara nama-nama Allah adalah At-Thoyyib. Tidak muncul dari Allah kecuali kebaikan dan tidak naik kepada Allah kecuali yang baik dan tidak mendekat kepada Allah kecuali yang baik, juga tidak akan naik kepada Allah kecuali kata-kata yang baik. Segala perbuatan Allah adalah baik dan amal kebaikan akan naik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka semua kebaikan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, disandarkan kepada Allah, datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Juga dalam hadits yang mengajarkan kepada kita ketika meruqyah orang yang sakit yang dilakukan oleh Abu Dawud dan selainnya:
أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ
“Engkau adalah Rabb orang-orang yang baik.”
Juga tidak akan dekat kepada Allah kecuali hamba-hambaNya yang baik. Sebagaimana dikatakan kepada penduduk surga:
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ ﴿٧٣﴾
“Kesejahteraan atas kalian, kalian telah mendapatkan kebaikan dan masuklah ke dalam surga, kalian akan kekal selama-lamanya di surga tersebut.” (QS. Az-Zumar[39]: 73)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan dalam syariat dan takdirNya, bahwasanya yang baik-baik untuk orang yang baik-baik juga. Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha terbaik. Kalimat-kalimat yang baik, perbuatan-perbuatan yang baik, sifat-sifat yang baik, nama-nama yang baik, milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang berhak untuk hal tersebut selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan segala sesuatu tidak akan menjadi baik kecuali karena Allah Subhanahu wa...]]>
Radio Rodja 756 AM clean 47130