Rodja Peduli

Riyadhus Shalihin

Sikap Seseorang Tatkala Diuji Oleh Allah

By  |  pukul 9:05 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 05 April 2021 pukul 9:20 am

Tautan: https://rodja.id/30p

Sikap Seseorang Tatkala Diuji Oleh Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Senin, 16 Sya’ban 1442 H / 30 Maret 2021 M.

Kajian sebelumnya: Bertanya Kepada Keluarga Orang Yang Sedang Sakit

Ceramah Agama Islam Tentang Sikap Seseorang Tatkala Diuji Oleh Allah

Pada kajian kali ini akan dibahas tentang adab-adab berkaitan dengan menjenguk orang sakit, demikian pula bagaimana sikap seseorang tatkala dia diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan suatu penyakit, bagaimana ketika seseorang menghadapi kematian, dan orang yang berada di sekelilingnya.

Bab 149

Pada bab ini Imam An-Nawawi menjelaskan kepada kita bahwa seseorang tatkala menderita sakit, dia boleh mengatakan “Aduh terasa sakit,” atau “Sakit yang sangat,” atau “Alangkah sakitnya kepalaku,” dan yang semisal dengan itu, selama dia merasakan hal tersebut dan dia tidak murka kepada ujian yang Allah berikan kepadanya.

عن ابنِ مسعودٍ رضيَ اللَّه عنه قال : دَخَلتُ عَلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهُو يُوعكُ ، فَمسِسْتُه ، فقلْتُ : إِنَّكَ لَتُوعَكُ وعْكاً شَديداً ، فقال : « أَجَلْ إِنِّي أُوَعَكُ كما يُوعكُ رَجُلانِ مِنْكُمْ » متفق عليه .

Baca Juga:
Kiat-Kiat Mengusir Kegelisahan - Al Wasaail Mufiidah Lil Hayaatis Sa'iidah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Dari ‘Abdullah bin Ma’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Pernah aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu beliau dalam keadaan panas disebabkan oleh demam yang menimpa beliau. Kemudian aku memegang tubuh beliau, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Sesungguhnya engkau dalam keadaan demam yang keras.’ Maka kata beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Benar, sesungguhnya aku kalau terkena demam sebagaimana dua orang dari kalian yang terkena demam.'” (Muttafaq ‘alaih)

Ini menunjukkan kemuliaan beliau ‘Alaihish Shalatu was Salam. Allah ketika menguji Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sakit dua kali lipat sakit yang manusia biasa, ini ada untuk mengangkat derajat beliau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits ini memberikan pelajaran-pelajaran kepada kita bahwa seorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu ujian berupa sakit yang menimpa dirinya, jika seorang menghadapinya dengan penuh kesabaran, dia mengharapkan ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar.

Semakin keras sakit seseorang dan dia menerima dan penuh kesabaran bahwa itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ganjaran dan pahalanya semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana seorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penyakit yang menimpa dirinya juga sebagai penghapus dosa. Dan itu di antara cara Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengangkat derajat hambaNya yang beriman.

Baca Juga:
Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah

Allah menguji dengan penyakit yang menimpa dirinya, jika dia sabar, dia beriman bahwasanya itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dua hal positif yang insyaAllah diperoleh oleh orang tersebut. Yaitu:

  1. Mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Dihapus akan dosa-dosanya.

Apabila seorang hamba diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu ujian, hendaknya dia mengingat akan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, dan alangkah banyaknya nikmat itu. Jika seseorang diuji oleh Allah dengan satu ujian kemudian dia mengingat nikmat Allah yang begitu banyak, maka tentu dia akan menerima cobaan itu dengan tenang, dia akan tetap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia melihat nikmat-nikmat lain yang Allah berikan kepadanya.

Jika nikmat-nikmat itu dibandingkan dengan ujian atau penyakit yang menimpa dirinya, maka nikmat-nikmat itu tentu lebih banyak daripada ujian-ujian tersebut.

Perlu dipahami dari hadits ini bahwa para Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam, para wali-wali Allah (orang-orang yang dicintai Allah karena iman dan amal shalih), mereka diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ujian yang lebih besar daripada hamba-hamba yang lain. Tujuan atau hikmahnya adalah untuk mengangkat derajat mereka di sisi Allah dan untuk menghapus dosa-dosa mereka.

Hadits ini juga menjelaskan kepada kita bahwa ketika seorang hamba diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia adalah orang yang berilmu, beriman dan beramal shalih, maka dia akan terus bersabar. Karena dia berilmu, dia mengetahui apa hikmah dibalik ujian yang Allah berikan kepadanya.

Baca Juga:
Tabligh Akbar: Nikmat Aman di Indonesia dan Kiat-Kiat Menjaganya (Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin 'Amir Ar-Ruhaili)

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya seorang yang menjenguk orang sakit untuk menyentuh atau memegang bagian dari tubuh orang yang sakit itu untuk mengetahui keadaannya.

Hadits ini juga menunjukkan besarnya pahala sesuai besarnya ujian.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi)

Maka dari itu apabila kita kita melihat dan mendengarkan hadits-hadits seperti ini, maka seorang hamba akan mengetahui kelemahan dirinya, dia memerlukan kesabaran, dia harus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dengan ujian-ujian seperti ini Allah memberi peringatan kepada seorang hamba untuk meningkatkan imannya, untuk mensyukuri nikmat Allah, untuk bersabar terhadap ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Itulah di antara sifat-sifat orang yang beriman, dengan penuh keyakinan ketika diuji, dia yakin bahwasanya ujian tersebut memiliki hikmah. Hikmah tersebut yaitu untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agar dosanya diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka ketika seorang menghadapi ujian, jangan banyak mengeluh pada manusia. Sekarang kita jumpai sebagian orang diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu ujian karena perbuatan dirinya sendiri, mereka banyak mengadu kepada manusia. Ini perilaku yang yang kurang baik. Mengadu dan memohonlah kepada Allah Ta’ala, kemudian kita introspeksi diri kita, mungkin sekali musibah yang menimpa diri kita karena perbuatan dosa yang kita lakukan, karena kesombongan yang ada pada diri kita, karena keangkuhan yang ada dalam diri kita, karena kelalaian kita kepada Allah, kelalaian kita kepada beribadah kepada Allah Ta’ala dan seterusnya.

Baca Juga:
Al-Muktafi Billah

Simak faedah-faedah lain yang terdapat dalam hadits yang agung ini. Mari download dan simak mp3 kajian kajiannya.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Sikap Seseorang Tatkala Diuji Oleh Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.