Telegram Rodja Official

Khutbah Jumat

Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  | 

Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.). Khutbah Jumat ini disampaikan di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Mari kita simak dan download khutbah Jumat ini, semoga bermanfaat.


Ringkasan Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Sesungguhnya diantara nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita semua yaitu dengan adanya ilmu. Dimana dengan adanya ilmu itu kita diberikan bimbingan menuju kebaikan. Dengan adanya ilmu, kita diberikan bimbingan kepada sikap yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti sesuatu dengan ilmu. Dan melarang sesuatu dengan tanpa ilmu. Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Sebagian ulama mengatakan, “jangan sekali-kali kamu mengucapkan sesuatu yang kamu tidak ada ilmu padanya“. Karena sesungguhnya berkata dalam agama dengan tanpa ilmu adalah merupakan kedustaan atas nama Allah subhanahu wa ta’ala.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَالٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ ۚ

Baca Juga:
Ceramah Singkat Tentang Ilmu: Islam Agama Ilmu

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah.” (QS. An-Nahl [16]: 116)

Maka orang yang berbicara dalam agama dengan tanpa dalil, sungguh dia telah berkata atas Allah dengan tanpa ilmu. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menulis sebuah kitab yang diberi judul “I’lamul Muwaqqi’in – Pemberitahuan kepada orang-orang yang memberikan tanda tangan”.

Apa yang dimaksud dengan memberikan tanda tangan? Kata beliau, “orang-orang yang berkata dalam masalah ilmu dan berfatwa sesungguhnya ia telah memberikan tanda tangan seakan-akan ia menandatangani bahwa inilah maksud Allah dan RasulNya“.

Maka betapa besarnya dosa orang yang berkata dalam agama dengan tanpa ilmu tapi sebatas pendapat akal semata. Ketika menyebutkan jenis-jenis dosa, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّـهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّـهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٣٣﴾

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“. (QS. Al-A’raf [7]: 33)

Baca Juga:
Buah Ilmu (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Pada ayat di atas memulai menyebutkan “fahisyah” (فاحشة) lalu naik kapada dosa, lalu naik kepada perbuatan dzalim dengan tanpa hak di muka bumi, lalu naik kepada kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar yang Allah dimaksiati dengannya. Akan tetapi Allah tidak menutup ayat tersebut dengan syirik, akan tetapi Allah menutup dengan ucapannya dengan  وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّـهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ – dan kamu berkata atas Allah, dengan apa yang kamu tidak punya ilmu padanya

Karena orang yang berbicara dalam agama ini dengan tanpa ilmu, itulah sebab utama munculnya berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam agama. Munculnya kesyirikan, munculnya kedzaliman, munculnya dosa dan permusuhan akibat berkata tanpa ilmu. Oleh karena itu, ulama menyebut bahwa berkata tanpa ilmu adalah tiang dari kesesatan. Oleh karena itu, lebih baik seseorang diam ketika dia tidak mengetahui ilmu dalam suatu permasalahan agama dari pada dia berbicara. Berapa banyak orang yang dianggap sebagai ustadz baik itu di televisi ataupun yang lainnya, berani berkata bukan dengan keilmuan, akan tetapi sebatas dengan akal dan pendapat. Betapa mereka dakan menanggung dosa-dosa orang yang telah mereka sesatkan. Berapa banyak manusia yang telah dia sesatkan, itulah yang akan dia tanggung dosa-dosanya pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Baca Juga:
Tanda-Tanda Hari Kiamat dan Pentingnya Tauhid sebagai Benteng Keimanan - Khutbah Jumat (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Betapa pentingnya kita merasa takut kepada Allah sebelum kita berbicara tentang agama. Betapa pentingnya kita mempunyai sifat orang yang hati-hati dalam bicara masalah agama. Bukan sebatas dengan perasaan, pendapat, bukan pula dengan akal-akal. Karena agama kita tidak diletakkan pada akal dan pendapat manusia. Imam Al-Barbahari berkata, “agama kita ini tidak diletakkan pada akal-akal manusia“.

Agama kita berasal dari wahyu yang diwahyukan kepada RasulNya. Kewajiban kita mengikuti wahyu, dalil dari Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah agama karena agama ini milik Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [3]: 39)

Hukum pun milik Allah, demikian pula pensyariatan juga milik Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mencela orang-orang musyrikin Quraisy yang membuat syariat yang Allah tidak izinkan untuk mereka. Allah berfirman:

Baca Juga:
Khutbah Jumat Bulan Syawal: Istiqamah Beribadah Setelah Ramadhan

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّـهُ ۚ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Ash-Shura’ [42]: 21)

Seorang hamba tidak boleh berani nekat ketika ia berbicara dalam agama ini. Kecuali setelah ia yakini dalam kebenarannya disertai dalil-dalil dan hujjah-hujjahnya yang tentunya juga merujuk fatwa-fatwa ulama dalam masalah ini. Sehingga kita senantiasa menjadi orang-orang yang menyeru manusia kepada kebaikan. Menjadi pintu-pintu yang membuka manusia kepada kebaikan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam haditsnya, “Diantara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan kunci-kunci yang menutup berbagai macam keburukan. Namun diantara manusia juga ada yang menjadi kunci yang menutup kebaikan dan membuka berbagai macam keburukan“. Jangan sampai kita menjadi hamba yang ternyata kita menjadi orang yang membuka pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan.

Khutbah Kedua Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) Menit ke – 10:55

Karena agama ini milik Allah dan Allah telah menegaskan didalam Al-Qur’an:

أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [3]: 39)

Maka kewajiban setiap manusia untuk mengikuti wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Siapaun dia, tidak boleh mendahulukan perkataan Allah dan RasulNya. Allah berfirman:

Baca Juga:
Janji Allah kepada Orang-Orang yang Beriman dan Beramal Shalih - Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49]: 1)

Kita dilarang untuk mendahului Allah dan RasulNya, kita dilarang untuk lebih mengedepankan perkataan fulan dari pada pendapat Allah dan RasulNya. Karena kewajiban kita adalah senantiasa tunduk kepada Allah dan RasulNya. Kita tidak pernah diwajibkan oleh Allah untuk menjadikan seorang manusia sebagai patokan manusia kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalaulah seluruh manusia menyalahi diri kita dan kita menyalahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang akan ditanya oleh Allah adalah kenapa kamu menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kita tidak akan ditanya kenapa kamu menyelisihi seluruh manusia, akan tetapi kita akan ditanya kenapa kamu menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Dengarkan dan Download MP3 Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Telegram Rodja Official

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.