Telegram Rodja Official

Ajakan untuk Kembali Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi – TPP: Definisi Bid’ah dan Bahaya Bid’ah (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.)

By  |  pukul 10:40 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 06 Shafar 1435 / 09 Desember 2013 pukul 2:05 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=4506

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Ceramah tematik ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis pagi, 1 Shafar 1435 / 5 Desember 2013, pukul 09:00-10:30 WIB di Radio Rodja dan RodjaTV. Sebuah renungan untuk mengajak kita kembali kepada Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, dalam sebuah judul kajian “Ajakan untuk Kembali Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam“.

Termasuk Pembahasan Penting (TPP): Definisi Bid’ah dan Bahaya Bid’ah

Program Kaidah Fiqih (Kitab Mandzumah Ushulil Fiqhi wa Qawa'idihi) - Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. di Radio Rodja dan RodjaTV

Simak program ini di Radio Rodja dan RodjaTV setiap:

Kamis pagi, 09:00-10:30 WIB



Status program Kaidah Fiqih (Kitab Mandzumah Ushulil Fiqhi wa Qawa'idihi): AKTIF

Ringkasan Ceramah Agama Islam

Ajakan untuk Kembali Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً (النساء: ٥٩)

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 59)

Baca Juga:  Andakah Seorang yang Meremehkan Shalat? (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat setelah keduanya: Kitabullah dan Sunnahku. Dan keduanya tidak akan berpisah sampai mendatangiku di telagaku.”

Bahwa agama kita, din kita, tidak dibangun di atas ra’yu (pendapat-pendapat manusia), tetapi din kita dibangun di atas dalil. Oleh karena itu, kalau kita melihat sebuah perkataan yang pernah terucap dari lisan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya:

لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه

“Sekiranya agama itu dibangun di atas pendapat-pendapat manusia (ra’yu) niscaya bawah dari sepatu khuf itu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.”

Ini menunjukkan bahwa agama kita tidak dibangun di atas pendapat-pendapat (ra’yu). Seseorang yang mengusap sepatu khuf ketika bersuci, mengusapnya pada bagian atas, bukan bagian bawah. Kenapa bagian atas? Karena itulah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal bagian bawah kalau menurut akal kita lebih kotor, tetapi agama kita tidak memerintahkan dan Nabi tidak mencontohkan mengusap yang bawah, melainkan bagian atas.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala pernah berkata:

من استحسن فقد شرع

“Orang yang berbuat istihsan (menganggap baik suatu urusan / amalan yang tidak ada dalam Islam, tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) maka dia telah membuat syari’at.”

Baca Juga:  Rangkuman - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Al-Imam Syafi’i rahimahullahu Ta’ala pernah berkata dalam kitab Ar-Risalah:

وإنّما الاستحسان تلذذ، ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم، ولجاز أن يشرع في الدين في كلّ باب، وأن يخرج كلّ أحد لنفسه شرعاً

“Yang namanya istihsan (menganggap baik sebuah urusan, sebuah perbuatan, dan sebuah ucapan dalam agama yang tidak ada sebelumnya) merupakan bernikmat-nikmat. Kalau seandainya istihsan itu dibolehkan dalam agama, maka dibolehkan pula hal tersebut bagi orang-orang yang punya akal dari orang yang tidak memiliki iman (artinya: dalam kehidupan sehari-hari saja, orang yang berakal dari orang-orang kuffar tidak menganggap baik semua urusan, terlebih lagi dalam masalah agama). Seandainya dibolehkan untuk membuat syariat dalam agama di setiap bab, maka niscaya setiap orang akan membuat syariat sendiri-sendiri.”

Sikap Para Imam dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

[14:58]

Bid’ah: Definisi, Bahaya, dan Sebab-sebabnya

[20:38]
Pembahasan lengkap tentang definisi bid’ah, bahaya bid’ah, dan sebab-sebab terjadinya bid’ah dapat Anda simak langsung dengan download ceramah ini.

Penutup: 2 Kisah Terdahulu

[39:09]

رأى رجلاً يكرر الركوع بعد طلوع الفجر فنهاه. فقال: يا أبا محمد أيعذبني الله على الصلاة؟ قال: لا، ولكن يعذبك على خلاف السنة

Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah pernah melihat seseorang (shalat dengan) mengulang-ulang ruku’ setelah terbit fajar, kemudian beliau melarangnya. Orang itu berkata, “Wahai Abu Muhammad (Sa’id bin Al-Musayyab), apakah Allah akan mengadzabku karena shalat?” Sa’id bin Al-Musayyab menjawab, “Tidak, (Allah tidak mengadzab karena shalat), tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab Anda nanti karena menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kisah yang lain:

أن رجلاً جاء إلى مالك بن أنس فقال : من أين أحرم ؟ قال : من الميقات الذي وقت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وأحرم منه . فقال الرجل : فإن أحرمت من أبعد منه ؟ فقال مالك : لا أرى ذلك . فقال الرجل : ما تكره من ذلك ؟ قال : أكره عليك الفتنة . قال : وأي فتنة من ازدياد الخير ؟ فقال مالك : فإن الله تعالى يقول :

Baca Juga:  Kaidah Bid'ah Lebih Berbahaya daripada Maksiat - Bagian ke-1 (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Ada seseorang yang mendatangi Imam Malik, dia bertanya kepada Imam Malik, “Dari mana aku ihram?” Imam Malik berkata, “Dari miqat yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan dan Rasul telah melakukan ihram darinya.” (Yaitu kalau di Madinah dari Bir ‘Ali.) Orang itu berkata, “Kalau saya ihram yang lebih jauh dari itu?” (Dari sebagian buku yang saya (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Ed) pernah baca, bahwa orang itu berkata, “Saya akan ihram dari masjid dari sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”) Imam Malik berkata, “Aku tidak berpendapat demikian.” (Maksudnya: “Jangan lakukan!”) Orang tersebut berkata, “Apa yang kau tidak sukai dari hal itu?” Imam Malik berkata, “Aku khawatir fitnah menimpa Anda.” Orang tersebut berkata, “Fitnah apa dalam masalah kebaikan yang ditambah?” (“Ini kan tambahan kebaikan beberapa mil.”) Imam Malik berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

… فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (النور: ٦٣)

“… hendaknya orang-orang yang menyelisihi perkara Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) itu hati-hati (takut) dari ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (Q.S. An-Nur [24]: 63)

Kemudian Imam Malik berkata:

وأي فتنة أكبر من أنك خصصت بفضل لم يخص به رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وفي رواية : وأي فتنة أعظم من أن ترى أن اختيارك لنفسك خير من اختيار الله ، واختيار رسوله !

Fitnah apa yang lebih besar daripada anggapan Anda, engkau mengkhususkan suatu keutamaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Dalam riwayat yang lain: Fitnah apa yang lebih besar daripada Anda menyangka bahwa apa yang Anda pilih itu lebih baik dari pilihan Allah dan RasulNya?

Download Ceramah Agama Islam: Ajakan untuk Kembali dengan Al-Qur’an dan Sunnah (Bid’ah: Definisi, Bahaya, dan Sebab Terjadinya Bid’ah)

Silakan diunduh rekaman ceramah ini melalui tombol Download di atas. Jazakumullahu khoiron.

Telegram Rodja Official

1 Comment

  1. tri agus

    Rabu, 23 Shafar 1438 / 23 November 2016 at 08:11

    alhamdulillah
    Barokalloh, mohon ijin download

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.