Telegram Rodja Official

Kaidah Fiqih - Mandzuumah Ushuulil Fiqhi wa Qawaa'idihi

Kaidah Fiqih: Syarat dan Perjanjian Damai Tidak Diterima apabila Menghalalkan Sesuatu yang Haram atau Mengharamkan Sesuatu yang Halal – Bait 83 (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.)

By  |  pukul 10:40 am

Terakhir diperbaharui: Minggu, 23 Maret 2014 pukul 7:57 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=5228

Kajian kaidah fiqih oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Kajian ini merupakan lanjutan dari pelajaran Kaidah Fiqih yang disampaikan oleh Ustadz Kurnaedi pada Kamis pagi, 18 Jumadal Ula 1435 / 20 Maret 2014 di Radio Rodja dan RodjaTV. Pada bait ke-81 dan ke-82 telah disampaikan pembahasan mengenai Orang yang Tidak Mengetahui Maksud dari Lawan Akadnya, maka Akadnya Tidak Rusak dari Sisi Dia, dan pada bait yang ke-83 ini pemateri akan menjelaskan mengenai “Syarat dan Perjanjian Damai Tidak Diterima Apabila Menghalalkan Sesuatu yang Haram atau Mengharamkan Sesuatu yang Halal“. Semoga bermanfaat.

[sc:status-kaidah-fiqih-ustadz-kurnaedi-2013]

Ringkasan Kajian Kaidah Fiqih

Bait ke-83: Syarat dan Perjanjian Damai Tidak Diterima apabila Menghalalkan Sesuatu yang Haram atau Mengharamkan Sesuatu yang Halal (وَالشَّرْطُ وَالصُّلْحُ إِذَا مَا حَلَّلَا مُحَرَّمًا أَوْ عَكْسُهُ لَنْ يُقْبَلَا)

Di dalam bait yang ke-83 ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata:

Baca Juga:
Kaidah Fiqih: Pengganti Memiliki Hukum yang Sama dengan yang Diganti dan Sesuatu yang Kurang Utama bisa Menjadi Lebih Utama - Bait 85 (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

وَالشَّرْطُ وَالصُّلْحُ إِذَا مَا حَلَّلَا مُحَرَّمًا أَوْ عَكْسُهُ لَنْ يُقْبَلَا

Syarat dan perjanjian damai tidak diterima apabila menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal

Beliau menjelaskan bahwa makna dari bait ini adalah bahwa semua syarat yang ada antara dua orang yang sedang melakukan akad atau perjanjian damai itu diterima, selama syarat tersebut tersebut tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan olehNya. Kaidah ini juga memiliki dasar yang kuat dari Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (المائدة: ١)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu . Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya.” (QS. Al-Maidah [5]: 1)

Bagaimana penjelasan rinci dari kaidah ini? Download ceramah agama ini dan simak penjelasan Ustadz Kurnaedi tentang kaidah ini yang beliau ambil dari Mandzumah Ushulil Fiqhi wa Qawaidihi karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.

Download Kajian Kaidah Fiqih, Kitab Mandzumah Ushul Al-Fiqh wa Qawa’idihi: Bait 83 – Syarat dan Perjanjian Damai Tidak Diterima Apabila Menghalalkan Sesuatu yang Haram atau Mengharamkan Sesuatu yang Halal

Baca Juga:
Kaidah Fiqih: Orang yang Tidak Mengetahui Maksud dari Lawan Akadnya, maka Akadnya Tidak Rusak dari Sisi Dia - Bait 81-82 (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

31 + = 37

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.